Dendam (Abraham)

Dendam (Abraham)
BAB 28


__ADS_3

Beberapa menit berlalu kini masakan yang Desta masak sudah tersusun dengan sangat rapi di atas meja.


"Huh, akhirnya selesai juga," kata Desta sambil melepas celemek yang tadi sempat diberikan oleh Ayu. "Saatnya aku harus memanggil dia untuk sarapan, karena ini sudah jam 9 pagi." Desta sekarang berniat ingin memanggil Abraham.


Namun, laki-laki itu sudah terlihat menuruni anak tangga dengan setelan jasnya. Rupaya Abraham mendadak ada meeting di pagi ini padahal laki-laki itu berniat ingin santai untuk hari ini saja, tapi nyatanya Abraham malah ujung-ujungnya harus pergi ke perusahaannya.


"Tuan Abra, silahkan sarapan dulu." Desta berusaha beramah tamah pada Abraham, karena wanita itu ingin mengetahui tentang Farhan, sang ayah yang mendadak pindah ke luar negeri.


"Aku sedang terburu-buru. Jadi, kamu saja yang memakannya dengan Bi Ayu," kata Abraham tanpa menatap ke arah wanita yang sudah bersusah payah memasak untuk dirinya. "Kalau kamu tidak mau memakannya, biarkan saka Bi Ayu yang akan membawa makanan itu ke rumahnya," sambung Abraham.


Desta yang mendengar itu langsung saja berwajah masam, karena wanita itu tidak menyangka kalau saja Abraham tidak akan memakan masakannya.


"Aku sudah masak dengan susah payah, tapi Tuan Abra yang terhormat malah mengatakan itu. Dimana letak hati nuranimu Tuan Abra? Padahal tadi kamu yang memintaku untuk memasak. Setelah semuanya tersusun rapi diatas meja, kamu malah tidak mau memakannya. Sungguh kamu hanya mempermainkan aku saja dan jika aku tahu akan begini maka aku tidak akan mau memasak." Desta meremas celemek yang saat ini wanita itu pegang. "Apa Tuan pikir memasak itu tidak membuang-buang waktu dan tenaga?"

__ADS_1


"Aku sibuk hari ini. Jadi, aku tidak punya waktu untuk meladenimu." Hanya itu yang Abraham katakan sambil berlalu pergi, seolah-olah pria arogan itu tidak menghiraukan ataupun memperdulikan kalimat Desta saat ini.


"Dasar pria arogan! Sukanya bikin tensi naik!" gerutu Desta yang sekarang malah melempar Abraham dengan celemek yang tadi wanita itu remas. Tapi sayang celemek itu malah mengenai Arga yang saat ini sedang mengikuti tuannya. "Kamu juga sama-sama menyebalkan seperti tuanmu yang tidak punya hati." Desta menatap Arga sinis.


"Itu sudah menjadi pekerjaan Anda Nona, kalau di makan oleh Tuan Abra itu artinya Anda adalah orang yang beruntung. Tapi sebaliknya kalau makanan yang Nona masak tidak dilirik maka silahkan Anda mencoba lagi dan terus berusaha," kata Arga yang malah terdengar membela Abraham.


"Sangat menyebalkan!" desis Desta sebelum wanita itu malah kembali ke dapur, karena wanita itu ingin menanyakan perihal ini pada Ayu. "Capek-capek aku masak, dia malah tidak mau memakannya, sungguh benar-benar menyebalkan," gerutu Desta sambil berlalu pergi.


"Bi Ayu," panggil Desta dengan wajah masamnya.


"Iya Non, ada apa?" tanya Ayu sambil meletakkan perabotan yang sudah tadi wanita itu cuci bersih.


"Dia tidak mau sarapan di rumah. Jadi, apa yang tadi aku masak itu hanya sia-sia saja," kata Desta yang malah mengadu pada Ayu. "Padahal tadi aku sudah memasak capek-capek."

__ADS_1


Ayu malah mengulum senyum pada saat wanita itu mendengar apa yang Desta katakan saat ini.


"Non, itu sudah sangat biasa kalau Tuan Abra tidak memakan masakan, karena beliau sering kali ada meeting mendadak sehingga itu yang menyebabkan Tuan Abra tidak memiliki waktu yang lama untuk sarapan di rumah. Membuat beliau lebih sering sarapan di kantor itu sudah biasa." Ayu berusaha memberitahu Desta. "Non Desta jangan bersedih, karena saya juga sering merasa bahwa saya memasak untuk Tuan Abra sia-sia saja. Sebab beliau ya ... seperti ini kadang sarapan kadang tidak meskipun saja sudah memasak," sambung Ayu.


"Jadi, ini bukan kali pertamanya si arogan itu seperti ini?" Desta tidak habis pikir dengan Abraham, karena laki-laki itu Desta rasa benar-benar tidak memiliki hati nurani.


"Iya Nona, Tuan Abra bahkan setiap hari selalu begini," jawab Ayu yang terus saja tersenyum.


"Lalu masakan yang Bibi masak di buang kemana?" Desta bertanya lagi pada asisten rumah tangga itu.


"Saya bawa pulang Non, masa saya sudah capek-capek masak lalu di buang 'kan, sangat disayangkan sekali." Memang benar selama ini Ayu membawa masakan yang wanita itu masak, ia bawa pulang ke rumahnya. Jika Abraham tidak sarapan di mansion itu. "Ayo kita sarapan saja Non, kasihan Nona Desta sudah masak tapi Tuan Abra malah pergi ke kantor." Ayu terlihat mengajak Desta untuk sarapan, karena wanita itu tahu kalau saat ini pasti Desta sangat merasa kecewa dengan Abraham.


Sedangkan Desta yang diajak, malah menggeleng kuat karena wanita itu sudah sarapan di rumahnya sebelum Desta datang ke mansion itu.

__ADS_1


__ADS_2