Dendam (Abraham)

Dendam (Abraham)
BAB 41


__ADS_3

"Aku memintamu untuk mengeceknya ke laboratorium Sean, apakah kamu ini sudah mulai tuli dan tidak bisa berpikir dengan baik? Padahal aku sudah memberitahumu tadi." Desta menghela nafas karena Sean benar-benar tidak mendengarkan apa yang tadi dikatakannya.


"Oke, aku akan mengeceknya cantik untukmu." Sean mencolek dagu Desta. "Jangan cemberut, kalau begitu aku pergi dulu. Nanti bagaimanapun hasilnya aku akan memberitahumu secepatnya." Sean lalu terlihat berdiri dari duduknya. "Aku pergi nih, apa kamu tidak ada niat mengatakan apapun padaku?"


Desta menggeleng. "Sana kamu cek saja untukku dan sepertinya aku juga harus pergi. Mengingat ini sudah agak sedikit siang."


"Ya sudah, kamu hati-hati jangan kepikiran senyum indahku terus nanti kamu nggak fokus saat pemotretan," celetuk Sean, dokter yang sangat memang suka sekali menggoda Desta karena rupanya selama ini dokter itu diam-diam memiliki rasa pada Desta.


"Aish! Kenapa kamu malah menjadi menyebalkan begini? Apa jangan-jangan tadi kamu salah memakan sarapan?" tanya Desta sambil melihat Sean yang sudah mulai melangkahkan kaki menjauh darinya.


Sean malah terkeh-kekeh pada saat mendengar apa yang Desta tanyaan saat ini. Dokter itu lalu terdengar menjawab Desta sambil berlari.


"Aku tidak salah memakan sarapan Desta, aku cuma merasa senang karena kamu datang kesini pagi-pagi begini. Menambah mood-ku saja. Sebab senyummu bagaikan senja dan mentari." Sean terlihat malah mempercepat langkah kakinya, karena laki-laki itu takut jika saja Desta nanti malah akan mengejarnya.


"Dasar Dokter songong dan kurang waras!" seru Dasta pada saat wanita itu melihat punggung Sean semakin menjauh dari pandangannya. "Bisa-bisanya dia malah berkata seperti itu, dia lupa kalau saat ini dirinya sedang ada di rumah sakit," gumam Desta yang juga berjalan pergi dari sana.

__ADS_1


Namun, tiba-tiba saja indera pendengarannya malah mendengar suara pria yang tidak terlalu asing bagi dirinya, sehingga membuat Desta malah menghentikan langkah kakinya.


"Bawa saja dia ke ruang bawah tanah, bila perlu ikat dia dan tunggu aku karena sekarang aku akan segera kesana."


Suara pria itu semakin jelas pada indera pendengaran Desta. Sehingga membuat wanita itu terpaksa menoleh ke arah samping dimana sebuah lorong tempat Abraham saat ini berada.


"Abra, sedang apa kamu disini?" Desta langsung saja bertanya pada pria arogan itu.


Abraham terlihat langsung saja memasukkan benda pipihnya yang tadi ia letakkan di kupingnya, karena tadi dirinya sedang menerima panggilan dari Arga.


"A-aku ha-hanya mau menebus obat untuk Adikku." Desta menjawab Abraham supaya pria arogan itu tidak akan curiga pada dirinya sehingga Desta saat ini hanya bisa berbohong saja pada pria arogan itu. Meskipun saat ini suara wanita itu terdengar terbata-bata. "Setelah ini, aku pasti akan pergi ke mansion dengan cepat," sambung Desta yang saat ini benar-benar takut jika saja Abraham akan tahu bahwa dirinya saat ini sedang berbohong.


"Mana obatnya? Jika kamu benar-benar menebus obat untuk adikmu itu." Rupanya pria arogan itu tidak mudah untuk dibohongi sehingga sekarang ia terdengar malah menanyakan obat yang tadi Desta maksud. "Sini biar aku lihat." Abraham mengulurkan tangannya pada Desta.


"Aku belum menebusnya di apotik karena aku baru saja datang kesini," kilah Desta dengan cepat karena saat ini dirinya tidak akan mungkin bisa memberikan Abraham obat yang pria rogan itu minta. Disaat dirinya datang ke rumah sakit itu hanya untuk meminta Sean mengecekkan puding buatan Selena.

__ADS_1


"Alasan, bilang saja kamu tidak memiliki niat hari ini untuk datang ke mansionku, tanpa harus pakai acara bilang datang kesini hanya untuk menebus obat adikmu!" desis Abraham.


"Kalau Tuan Abra yang terhormat sedang apa disini?" Desta malah terdengar bertanya pada Abraham.


"Bukan urusanmu! Sekarang lebih baik kamu ikut ke mansion bersamaku karena Bi Ayu saat ini pasti sendirian disana." Abraham lalu terlihat memegang pergelangan tangan Desta. "Ayo jalan! Jangan hanya diam saja wanita pembohong!" ketus Abraham pada saat laki-laki itu tahu kalau saja Desta saat ini sedang berbohong pada dirinya.


"Si pemaksa!" gerutu Desta. "Dasar mau menang sendiri, masa aku tidak boleh dagang ke rumah sakit ini sedangkan kamu malah bebas berkeliaran disini seperti dedemit," celetuk wanita itu dengan bibir yang terus saja komat kamit. Desta juga berusaha mengeimbangi langkah kaki pria arogan itu meskipun langkah kaki Abraham sangatlah lebar.


"Bisa tidak kamu itu jalan yang cepat, jangan malah kek kura-kura. Dasar wanita sama saja, sama-sama jalannya lamban. Pantas saja wanita disamakan dengan siput maupun kura-kura ternyata faktanya memang seperti ini." Abraham terdengar terus saja berbicara pada Desta saat ini. Meskipun Desta terlihat selalu saja bungkam dan tidak memiliki niat untuk meladeni Abraham.


"Jalan kek begini, terus kapan kita akan sampai di tempat parkiran?"


Desta yang merasa jika saja Abraham terlalu banyak bicara malah melepaskam genggaman tangan pria rogan itu.


"Jalan sendiri saja, nanti aku ke sana pakai taxi saja tidak masah. Jika Tuan Abra terus saja berbicara panjang kali lebar." Desta saat ini benar-benar menyuruh Abraham untuk pergi sendiri ke mansion.

__ADS_1


__ADS_2