
Di dalam mobil Abraham terlihat menyetir dengan sangat tenang, tapi tidak berselang lama tiba-tiba saja terdengar perutnya malah berbunyi sehingga membuat Desta menoleh ke arahnya.
"Kamu lapar?" tanya Desta yang menoleh ke arah Abraham.
"Nggak, siapa bilang?" kilah Abraham cepat.
"Itu tadi perutmu bunyi menandakan kalau kamu lapar. Apa kamu mau mencoba untuk mengelak padaku?" Kini wanita itu malah menatap intens ke arah pria yang masih saja terlihat fokus menyetir. Meskipun perut Abraham malah terus saja mengeluarkan suara.
"Aku mungkin masuk angin, sehingga membuat perutku menjadi kembung," kata Abraham yang sekarang terlihat malah menepuk-nepuk perutnya sendiri.
"Masa kembung? Tapi sepertinya itu suara orang kelaparan. Apa susahnya coba kamu jujur saja kalau lapar ya, hentikan saja mobilnya di kedai makan ataupun di restoran bintang lima. Aku nggak masalah kok kalau kita makan malam dulu baru kita melanjutkan jalan-jalannya. Lagipula jujur saja kalau saat ini perutku juga minta untuk di sisi. Apa mungkin ini karena kita tidak makan malam dulu tadi, makanya malah membuat kita menjadi kelaparan seperti ini?"
"Aku nggak tahu, tapi benar 'kan, tidak apa-apa kalau kita makan malam dulu?" Abraham terdengar bertanya pada Desta hanya untuk sekedar memastikan karena masalahnya Abraham takut jika saja Desta malah akan merasa kecewa dengan dirinya yang malah merasa lapar di waktu yang tidak tepat seperti saat ini.
"Iya nggak apa-apa kok," jawab Desta sambil tersenyum, dan senyum wanita itu membuat detak jantung Abraham malah menjadi tidak karuan. Begitu juga hati pria itu merasa langsung saja melelah. "Nah, di depan sana ada restoran. Kita makan malam di sana saja Bagaimana apa kamu setuju?" Sekarang giliran Desta yang bertanya kepada Abraham.
Abraham mengangguk sambil menjawab, "Oke, deal! Kita makan malam dulu setelah perut kita kenyang baru kita cus jalan-jalan malam lagi. Kira-kita kita nggak pulang kemalaman nggak?"
"Aku rasa tidak, kalau kita tidak berlama-lama di sana nanti." Desta kali ini terlihat sangat senang karena setelah satu bulan dirinya berada di mansion Abraham pada akhirnya wanita itu biasa menghirup udara bebas lagi. Meskipun Desta takut jika saja dirinya nanti malah akan bertemu dengan sang ibu angkat yang telah Desta nobatkan sebagai wanita yang sangat pandai bersandiwara bahkan berakting selama ini di depannya.
__ADS_1
"Gara-gara perutku kita malah menjadi makan malam," gumam pria itu pelan.
Akan tetapi, Desta malah mendengarnya dengan jelas meskipun suara Abraham sangar pelan sekali.
"Sudah, sekarang parkir dulu mobilnya setelah itu kita turun saja biar perutmu itu tidak terus-terusan berbunyi. Nanti kalau orang lain sampai mendengarnya maka kamu akan dikira tidak pernah makan sampai-sampai perutmu protes dengan cara mengeluarkan suara," seloroh Desta yang malah menjadi bercanda saat ini di dalam mobil itu.
"Sorry, aku cuma bercanda kamu jangan terlalu menganggapnya serius." Sekarang Desta juga malah terdengar meminta maaf pada Abraham karena wanita itu takut jika saja kalimat candaan yang tadi dilontarkan olehnya nanti malah akan membuat Abraham merasa kecewa pada dirinya.
"Santai aja, jangan dibuat terlalu serius," timpal Abraham yang mulai melepas sabuk pengamannya karena dirinya sudah berada di parkiran. "Ayo buka sabuk pengamanmu, setelah itu baru kita turun dari dalam mobil, jangan terus-terusan melamun nanti kamu malah kesambet."
"Iya, aku buka setelah itu aku akan turun. Kalau kamu mau duluan nggak apa-apa, sana masuk gih nanti aku susul kamu," kata Desta yang malah menyuruh pria itu yang duluan masuk ke restoran itu.
"Tidak usah karena aku bisa sendiri." Desta lalu terlihat bisa melepaskan sabuk pengaman itu pada saat kalimatnya yang mengatakan bahwa dirinya bisa sendiri tanpa membutuhkan bantuan pria yang saat ini terus saja melihat wajah cantik seorang Desta. "Tuh kan, aku bisa sendiri apa juga aku bilang." Desta malah seperti anak kecil yang malah bertepuk tangan hanya karena ia berhasil membuka sabuk pengannya sendiri.
"Nah, kalau begitu kita sekarang turun. Tidak usah berlama-lama kita masuk saja langsung untuk menyantap makanan apa saja yang restoran itu sajikan untuk kita nanti." Abraham lalu membuka pintu mobilnya. "Hati-hati Des, karena malam ini kita akan makan banyak deh kayaknya," sambung Abraham.
"Tidak masalah," balas Desta sambil terkekeh-kekeh kecil karena merasa lucu dengan kalimatnya sendiri.
๐๐"Aku ke toilet sebentar dulu." Desta terdengar berbisik pada saat dirinya dan Abraham sedang memilih-milih menu apa saja yang akan mereka pesan malam ini untuk mengganjal perut mereka.
__ADS_1
"Iya kamu silahkan pergi saja. Tapi sebelum itu kamu pesan dulu apa yang mau kamu makan. Jangan sampai nanti aku malah salah pesan," ucap Abraham.
"Pesan apa saja yang mau kamu pesan karena aku sudah sangat kebelet." Suara Desta sengah berbisik pada saat ia mengatakan itu. "Aku pergi dulu, dan ingat pesankan aku juga," sambung Desta.
"Baiklah kalau begitu kamu cepetan pergi saja ke toilet." Setelah Abraham mengatakan itu terlihat Desta langsung saja berjalan ke arah toilet.
Namun, tanpa Abraham melihatnya saking sibuknya pria itu dalam hal memilih menu makanan, seorang laki-laki terlihat malah mengikuti Desta dari arah belakang.
๐๐
"Huh, lega juga," kata Desta pada saat wanita itu sudah buang air kecil. "Sekarang lebih baik aku bergegas kembali. Sebelum makanan yang Abra pesan anti malah akan menjadi dingโ" Kalimat Desta terputus karena sosok laki-laki yang tadi mengikutinya dari arah belakang malah menarik pergelangan tangannya untuk kembali lagi masuk ke dalam toilet itu.
"Eh, siapa kamu?" Desta yang takut jika itu adalah anak buahnya Selena langsung saja menginjak kaki laki-laki itu. Sehingga suara ringsan karena kesakitan terdengar lolos begitu saja dari bibir laki-laki itu.
"Akhh ...!"
Mendengar itu Desta sempat terdiam karena wanita itu seperti mengenali suara laki-laki yang tadi ia injak kakinya.
"Revan," panggil Desta yang tahu kalau itu adalah kekasih pujaan hati yang selama ini ia cari, tetapi tidak kunjung wanita itu temukan bahkan nomor ponsel Revan saja tidak pernah aktif.
__ADS_1
"Iya ini aku, ini aku Revan." Revan lalu membuka masker serta topinya. Kemudian laki-laki itu tanpa aba-aba malah memeluk tubuh Desta. "Sayang, maafkan aku." Lirih Revan sambil memeluk tubuh Desta dengan sangat erat, wanita yang saat ini malah diam saja mematung seperti manekin.