Dendam (Abraham)

Dendam (Abraham)
BAB 57


__ADS_3

Setelah terdiam beberapa detik Desta malah terlihat langsung saja melepaskan pelukannya dari Revan.


"Van, kamu kemana saja selama ini?" tanya Desta dengan perasaan yang tidak karuan.


"Sayang, kamu yang kemana saja selama ini. Padahal aku terus saja mencarimu ke segala penjuru arah tapi tidak kunjung menemukanmu, lalu laki-laki yang tadi itu siapa?" Revan terdengar menanyakan tentang Abraham padahal nyata-nyata laki-laki itu sudah tahu siapa itu Abraham. Dan rupanya tadi Revan melihat Desta turun dari dalam mobil. Sehingga membuat laki-laki itu malah mengikuti Desta sampai ikut masuk ke dalam toilet khusus untuk wanita.


"Dia temanku," jawab Desta singkat. Wanita itu juga merasa ada yang berbeda dengan Revan. Ia juga merasa bahwa cintanya yang dulu menggebu-gebu pada laki-laki itu malah menjadi berkurang.


"Mana ada wanita dan laki-laki temenan. Apa jangan-jangan dia itu adalah selingkuhanmu?" Revan terdengar bertanya pada Desta, dimana laki-laki itu mengira bahwa Abraham adalah selingkuan Desta. "Kamu mengkhianati cintaku ini Desta, padahal aku ini sangatlah mencintaimu lebih dari kata aku mencintai diriku sendiri," sambung laki-laki itu.


"Menuduh tanpa bukti, kamu ini benar-benar tidak waras, Van!" Desta malah mendorong dada bidang Revan. "Pada saat aku sedang membutuhkan pertolonganmu kemana saja kamu? Kenapa kamu malah menghilang bagaikan ditelan bumi? Apa jangan-jangan kamu ini yang sudah memiliki wanita lain selain aku?"


"Ibu Selena harus tahu kalau kamu sedang ada disini." Revan tidak menjawab pertanyaan Desta, melainkan laki-laki itu malah terlihat akan menghubungi Selena, wanita paruh baya yang sangat Desta hindari.


"Apa-apaan kamu Van! Kenapa kamu malah ingin menghubungi Ibu." Desta berusaha merebut ponsel itu dari tangan Revan.


Namun, Revan malah terlihat menjunjung tinggi ponselnya supaya Desta tidak bisa mengambilnya.

__ADS_1


"Adik kamu Elsa sudah tidak ada lagi di dunia ini. Tapi kamu malah tidak datang ke pemakamannya, sebenarnya apa masalah kamu sama Ibu padahal selama ini dia yang telah merawatmu. Sampai-sampai Elsa menghembuskan nafas terakhir saja kamu tidak tahu, Des." Revan berbicara panjang lebar, laki-laki itu juga memberitahu Desta kalau Elsa sudah meninggal dunia.


"Apa maksudmu yang Elsa tidak ada di dunia ini lagi?" tanya Desta dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Elsa sudah meninggal, tepat dua minggu yang lalu," jawab Revan yang rupanya masih berhubungan baik dengan Selena sampai detik ini. "Sekarang ayo ikut aku pulang ke rumah Ibu Selena," ujar Revan yang tiba-tiba saja malah mengajak Desta untuk pulang. "Karena Ibu terus saja mencarimu sampai dia jatuh sakit."


Desta malah terlihat menggeleng dengan sangat kuat. "Aku harus pergi, aku tidak bisa berlama-lama di sini," kata Desta yang sudah berjanji pada dirinya sendiri kalau ia tidak akan pernah mau kembali lagi ke rumah Selena. Meskipun saat ini Desta merasa berduka atas kepergian Elsa untuk selama-lamanya. "Lepaskan, Van, aku harus pergi." Desta berusaha melepaskan cengkraman tangan Revan dari pergelangan tangannya.


"Pulang Desta, apa sekarang setelah Ibumu bangkrut kamu malah mau meninggalkannya?" tanya Revan yang mendapat kabar kalau saja perusahaan Selena mengalami kebangkrutan. "Sayang, jawab aku jangan malah mau menjadi anak yang durhaka."


Desta dengan cepat akan membuka gagang pintu kamar mandi itu meskipun Revan sudah mengatakan itu pada dirinya, tapi tiba-tiba saja laki-laki itu malah memu kul tengkuk leher Desta sehingga membuat wanita itu malah langsung saja pingsan saat itu juga. Membuat Revan langsung saja menahan tubuh wanita yang sudah tidak sadarkan diri itu.


Namun, tiba-tiba saja Revan malah berubah pikiran. Dimana laki-laki itu baru saja mengingat sesuatu.


"Pasti imbalannya gede juga, aku sangat yakin sekali itu," ucap Revan yang terlihat sekarang meraih benda pipihnya untuk menghubungi Selena karena tidak mungkin dirinya akan membawa Desta sendirian ke rumah utama sebab ia baru saja mengingat kalau pasti anak buah Abraham terus saja memantau dirinya. Membuat Revan malah mengurungkan niatnya untuk membawa Desta sendiri ke rumah Selena.


Dengan mata yang terus saja membayangkan sejumlah uang Revan menekan tombol nomor Selena, wanita paruh baya yang mungkin saja saat ini malah menjadi membenci Desta.

__ADS_1


"Halo." Terdengar suara Selena dari seberang telepon, rupanya wanita paruh baya itu mengangkat sambungan telepon itu dengan cepat tanpa perlu membiarkan ponselnya berdering berlama-lama. "Halo, Van, ada kabar baik apa?" Terdengar Selena bertanya lagi pada Revan.


"Ibu, aku sudah menemukan Desta. Sekarang suruh anak buah Ibu untuk menjemputnya ke sini." Revan tanpa perlu berbasa basi lagi langsung saja menjawab Selena dengan cara memberitahu wanita paruh baya itu kalau saja dirinya saat ini sudah menemukan keberadaan Desta.


"Kamu serius, Van?" Rupanya Selena tidak mudah percaya dengan apa yang Revan katakan.


"Bu, aku sangat serius kalau tidak percaya datang saja ke restoran bintang lima yang ada di pusat kota." Revan terdengar terus saja meyakinkan Selena tentang Desta. "Sekarang aku akan kirim lokasinya, dan usahakan suruh anak buah Ibu untuk datang lebih cepat."


"Oke!" ucap Selena menimpali sebelum panggilan telepon itu terputus karena wanita paruh baya itu ingin melihat secara langsung apakah Revan tidak sedang membohongi dirinya. Sebab saat ini Selena sangatlah penasaran dengan kabar yang tadi Revan sampaikan pada dirinya.


"Semoga Ibu cepat datang, jangan sampai Desta keburu sadar," gumam Revan pelan pada saat Selena sudah mengakhiri panggilan itu. "Desta Sayang, kamu adalah tambang uangku yang menghilang. Tapi sekarang kali ini aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi." Laki-laki yang sangat licik itu malah tersenyum penuh kemenangan karena dirinya akan mendapat uang yang banyak dari Selena.


***


Di dalam restoran terlihat Abraham terus saja melirik jam di pergelangan tangannya karena sudah hampir 30 menit Desta belum juga kembali sehingga membuat pria itu kini malah menjadi cemas.


"Kenapa dia lama sekali? Apa ada yang terjadi dengannya?" Abraham terdengar bertanya pada dirinya sendiri. "Apa aku susul saja dia ke toilet?" Pada saat Abraham masih saja terus berbicara pada dirinya sendiri ia malah melihat sekelebat bayangan wanita paruh baya yang sangat Abraham benci sampai saat ini.

__ADS_1


"Wanita itu?" gumam Abraham pelan sebelum pria itu berdiri karena saat ini tujuannya adalah pergi ke toilet. Ia ingin menyusul Desta. "Aku harus menyusul Desta, sebab aku merasa ada yang tidak beres." Pria itu lalu terlihat mempercepat lagkah kakinya menuju ke arah toilet wanita dengan perasaan yang tidak karuan.


__ADS_2