Dendam (Abraham)

Dendam (Abraham)
BAB 60


__ADS_3

Berkat bantuan Arga dan Opi rupanya Abraham bisa langsung saja mengalahkan beberapa anak buah yang tadi Selena minta untuk menghabisi dirinya, dan sekarang pria itu terlihat sedang mencari keberadaan Desta di setiap penjuru rumah megah nan sangat indah itu.


"Akhh! Kurang ajar!" Abraham terlihat malah menendang tembok pada saat dirinya tidak bisa menemukan keberadaan Desta. "Pergi kemana wanita tua itu membawa Desta?" Abraham mengacak rambutnya dengan sangat kasar karena ia sangat marah dengan dirinya sendiri karena tidak bisa menemukan keberadaan Desta. Padahal tadi wanita tambatan hatinya itu masih ia lihat bersama dengan Selena, tapi sekarang entah pergi kemana Selena malah membawa Desta.


"Gimana Tuan, apa Anda menemukan keberadaan Nona Desta?" tanya Arga yang sekarang terlihat mendekat ke arah Abraham dengan kaki yang sedikit pincang karena rupanya tadi Arga mendapat pu kulan yang sangat keras di kakinya oleh anak buah Selena hanya gara-gara laki-laki itu sedikit lengah.


"Aku tidak menemukannya, padahal aku sudah mencarinya ke segala penjuru arah yang ada di rumah ini," jawab Abraham yang sekarang sedang berpikir dengan sangat keras. Berharap supaya dirinya bisa menebak pergi kemana Selena tadi membawa Desta. "Sepertinya wanita tua itu sudah membawa Desta pergi jauh dari sini, sekarang kita harus mencarinya." Abraham lalu bergegas pergi dari sana diikuti oleh Arga juga Opi dari arah belakang. "Arga, kamu sama Opet harus mencarinya dengan cara berlawanan arah denganku, karena aku yakin bahwa dia belum terlalu jauh membawa Desta pergi dari sekitaran sini."


"Baik Tuan, saya mengerti. Sekarang ayo kita cari Nona Desta, Opet." Meski kakinya pincang Arga masih saja bisa menarik baju Opi. "Ayo, jangan berjalan terlalu lambat karena nanti kita bisa telat, bisa juga kehilangan jejak mereka."


"Memangnya kamu tahu mereka pergi pakai apa?" tanya Opi tiba-tiba pada Arga. "Nah, kamu tidak bisa menjawab saya 'kan, ketahuan kemampuanmu sama saja seperti saya yang suka menebak-nebak," celetuk Opi.


"Jangan banyak bicara kamu Opet! Sekarang kita lebih baik cepat pergi saja. Bukankah Tuan Abra juga terlihat sudah masuk ke dalam mobilnya. Sedangkan kita berdua masih saja ada disini," timpal Arga.

__ADS_1


"Itu karena kakimu yang pincang, sok-sokan mau melawan tapi apa, kamu malah kalah." Kalimat candaan itu terdengar seperti kalimat ejekkan bagi Arga.


"Dasar banyak bac*t!" ketus Arga sambil terlihat menarik rambut Opi. "Rasain, saya juga begini gara-gara kamu."


"Akhh, sakit dodol!" Opi berusaha melepaskan jambakan Arga. "Lepas, rambutku nanti bisa saja rontok!" ketus Laki-laki itu.


"Kalian berdua!" teriak Abraham dari dalam mobilnya. "Jika masih mau tetap menghirup udara bebas maka cepatlah!"


Arga dan Opi langsung saja saling pandang sebelum keduanya melangkahkan kakinya dengan sangat lebar karena mereka takut mendengar apa yang tadi Abraham katakan.


"Enak saja, ini salah kamu bukan saya." Opi yang kesal karena disalahkan oleh Arga langsung saja meninggalkan tangan kanan Abraham itu sendirian. "Aku tinggalkan kamu, semoga saja kamu bisa jalan sendiri." Opet kemudian langsung saja berlari setelah mengatakan itu.


"Awas kamu Opet!" teriak Arga yang terlihat berusaha untuk mengejar anak buahnya itu. "Kamu lama-lama bikin darah saya yang rendah malah menjadi tinggi," ucap Arga sambil menunjuk Opi yang sudah masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


***


"Bagaimana apa kalian berhasil menemukan keberadan Desta?" tanya Abraham saat dirinya sedang melakukan video call dengan Arga juga Opi.


"Belum Tuan, saya sama sekali tidak tahu harus mencari Nona Desta kemana lagi," jawab Arga yang kini takut jika saja tuannya itu akan marah-marah padanya karena dirinya belum juga berhasil menemukan keberadaan Desta sampai hampir larut malam begini.


"Sial! Pergi kemana kira-kira mereka membawa Desta." Abraham saat ini terlihat sedang berpikir, pria itu juga tidak memarahi Opi dan Arga karena dirinya saja yang spek intel sama sekali tidak bisa menemukan keberadaan wanita itu. "Kalian berdua harus menemukannya, kalau belum ketemu maka kalian berdua jangan pernah muncul dihadapanku," kata Abraham tiba-tiba. "Apa kalian berdua mendengarkanku?" tanya pria itu.


Spontan saja Arga dan Opet mengangguk dengan sangat kuat karena tidak mungkin mereka akan menggeleng. Bisa-bisa Abraham malah nanti akan murka pada dirinya.


"Ba-baik Tu-tuan," jawab Arga dan Opi serempak.


"Cari sampai dapat, kalau belum dapat kalian jangan pulang!" Abraham mengulangi kalimatnya sebelum pria itu memutuskan sambungan teleponnya.

__ADS_1


"Tuan Abra semakin terlihat garang," kara Opi setengah berbisik pada saat melihat layar ponsel Arga sudah tidak menampakkan wajah tampan laki-laki yang sangat berkharisma itu.


"Apa baru sadar kamu, Opet?" celetuk Arga bertanya pada Opi.


__ADS_2