Dendam (Abraham)

Dendam (Abraham)
BAB 30


__ADS_3

"Bi Ayu boleh pulang tapi kenapa aku tidak?" tanya Desta pada Abraham.


"Siapkan aku air karena aku mau mandi." Abraham tidak menjawab apa yang Desta katakan, ia lebih memilih untuk menyuruh wanita itu menyiapkan air mandi untuk dirinya. "Sekarang, karena aku tidak bisa menunggu terlalu lama," sambung Abraham.


"Kamu punya tangan dan kaki Tuan, itu artinya kamu bisa menyiapkan air untuk dirimu sendiri. Tanpa menyuruh orang lain karena aku ini sudah sangat lelah serta capek sekali beres-beres di mansion-mu ini. Apa kamu pikir aku ini robot yang tidak punya rasa cepak dan lelah?" Desta mengatakan itu semua karena wanita itu benar-benar merasa penat sebab bekerja seharian di mansion Abraham membuatnya merasa jika pekerjaannya ART itu tidaklah mudah.


Abraham yang sedikit kesal pada Desta memegang dagu wanita itu. "Apa kamu pikir aku akan menerima setiap keluah kesahmu? Kamu salah Desta, sekarang kamu harus naik ke lantai tiga disana letak kamarku dan segera siapkan aku air, karena aku mau mandi."


Desta memegang tangan Abraham pada saat laki-laki itu malah mencengkram dagunya. "Kamu memang tidak punya hati, Tuan Abraham!" Desta lalu dengan kasar menipis tangan pria arogan itu. Sehingga membuat dagunya sedikit tergores dengan kuku tangan Abraham. "Semoga saja yang akan menjadi istrimu kelak akan menerimamu dengan hati yang lapang, dan memiliki sabar seluas samudra."


"Jalan Desta, karena aku tidak ingin mendengar suaramu yang mengatakan itu. Sungguh kupingku benar-benar sangat menolak untuk mendengarnya," kata Abraham yang sekarang terlihat menaiki anak tangga bersama Desta, karena meskipun di mansion itu ada lift pria arogan itu sangat jarang sekali menggunakannya karena Abraham merasa lebih suka menggunakan anak tangga saja untuk naik ke atas kamarnya yang ada di lantai tiga.


"Menyebalkan!" gerutu Desta. "Jika aku tahu begini maka aku tidak akan pernah setuju untuk menadatangi surat itu."

__ADS_1


"Ayah kamu juga pasti sudah mati karena dia membusuk di jeruji besi itu. Jika kamu tidak menandantangi surat itu," timpal Abraham santai. "Jadi, nikmatilah masa-masa ini, karena aku yakin apa yang kamu kerjakan sekarang ini pasti tidak akan sia-sia. Kelak akan berguna bagi kamu dan juga suamimu."


Desta tidak menimpali, ia lebih memilih untuk mempercepat langkah kakinya yang menaiki anak tangga, karena ia merasa jika terus-terusan meladeni Abraham bisa-bisa dirinya sebentar lagi pasti akan ngereong.


"Dasar pria arogan tidak tahu diri, aku sudah bekerja seharian di mansionnya ini. Tapi dia malah tidak mengizinkan aku pulang!" gerutu Desta membatin.


"Janga berbicara di dalam hatimu Desta, karena aku bisa tahu dan dengar," ucap Abraham yang sekarang mendahului Desta.


"Terserah aku, bukan urusanmu!" ketus Desta.


"Sudah beres Tuan Abra, apa sekarang aku boleh pulang?" Desta sangat berharap jika saja Abraham mengizinkannya untuk pulang.


"Tidak boleh, kamu harus menemaniku untuk makan malam setelah itu baru kamu boleh pulang," jawab Abraham yang sekarang terlihat akan menuju kamar mandi. "Apa kamu mendengarku Desta? Aku juga tidak mau jika saja mulutmu akan perotes dengan apa yang tadi aku katakan."

__ADS_1


Desta rasanya saat ini ingin sekali menelan Abraham secara hidup-hidup, karena wanita itu merasa bahwa dirinya baru kali ini bertemu dengan laki-laki semenyebalkan seperti Abraham.


"Tuan Abra bisa makan malam sendiri, karena mungkin saja Ibuku akan mencariku jika aku telat pu–"


"Sejak kapan dia mencarimu? Bukankah selama ini kapanpun kamu pulang dia tidak pernah mencarimu bahkan untuk menanyakan dimana keberadaanmu saja dia tidak pernah," potong Abraham dengan sangat cepat. Sehingga membuat kalimat Desta terputus. "Katakan Desta kapan dia mencarimu? Aku hanya ingin tahu tentang itu."


Desta yang memang tidak pernah dicari oleh Selena kapanpun ia pulang langasung saja terdiam, sebab ia tidak tahu harus menjawab Abraham seperti apa. Jika kalimat laki-laki itu saat ini memang benar apa adanya.


"Kenapa kamu malah diam saja? Apa kalimatku yang tadi memang benar apa adanya?" Abraham terlihat tersenyum mengejek Desta saat ini.


"Ibuku sibuk. Jadi, dia tidak sempat menanyakan dimana a–"


"Sesibuk apa dia?" Lagi-lagi Abraham memotong kalimat Desta. "Sehingga dia lupa menghubungi putri kesayangannya ini," sambung pria arogan itu.

__ADS_1


Desta tidak menjawab, karena ia rasa Abraham saat ini hanya ingin memancing emosinya saja. Sehingga membuat wanita itu memilih untuk tetap diam saja.


"Desta, Desta ... kamu tidak tahu saja jika wanita itu ingin mengambil salah satu hal yang paling berharga di dalam tubuhmu sehingga dia rela mengadopsimu." Abraham lalu masuk ke dalam kamar mandi setelah ia mengatakan itu semua.


__ADS_2