Dendam (Abraham)

Dendam (Abraham)
BAB 42


__ADS_3

"Kenapa, apa kamu tidak suka naik ke dalam mobilku ini?" tanya Abraham pada saat dirinya dari tadi diam-diam memperhatikan Desta yang terus saja terlihat menoleh ke arah luar jendela.


Ternyata pria arogan itu berhasil membawa Desta untuk ikut serta dengan dirinya meskipun wanita itu tadi di rumah sakit sempat menolak untuk ikut dengannya dikarenakan Abraham tadi terus saja memarahi Desta karena wanita itu jalan sangat lamban.


"Kalau sudah tahu tidak usah nanya Tuan!" jawab Desta ketus yang saat ini terlihat terus saja menatap keluar jendela karena dirinya tidak mau melihat wajah pria arogan yang selalu saja membuat mood wanita itu malah menjadi berantakan. "Nyetir yang benar Tuan Abra yang terhormat, jangan malah menoleh ke arah samping terus," kata Desta yang bisa tahu kalau saja saat ini Abraham terus saja menoleh ke arah dirinya.


"GR sekali kamu, bisa-bisanya kamu malah berkata seperti itu padaku," timpal Abraham yang langsung saja menatap lurus ke depan, pria arogan itu juga tidak terima jika saja Desta malah berkata demikian pada dirinya. "Kamu lebih baik pikirkan makanan apa yang harus kamu masak untukku karena aku ini akan makan siang di mansion. Jangan malah berpikir kalau aku ini menatap dirimu terus, dasar wanita yang rasa percaya dirinya lebih besar dari pada nyali."


Desta sekarang malah menoleh ke samping pada saat dirinya terganggu dengan kalimat Abraham.

__ADS_1


"Tanganku, ideku, serta kukuku semuanya lecet gara-gara aku yang terus-terusan memasak untukmu, tapi apa ... Tuan Abra yang terhormat sama sekali tidak mau memakan masakanku sehingga hanya Bi Ayu saja yang membawanya pulang itu hampir setiap hari, dan sekarang Tuan dengan entengnya menyuruh saya untuk memasak lagi. Oh, mungkin saja lebih baik aku tidak memasak jika Tuan tidak mau memakannya." Unek-unek yang ingin Desta lontarkan sejak kemarin pada akhirnya lolos juga dari bibir tipis wanita itu.


"Ada ya, orang kek Tuan Abra ini. Memintaku untuk terus saja memasak hampir tiga kali sehari kayak orang minum obat, tapi tidak pernah sedikitpun Tuan cicipi dengan satu alasan takut ada racun di makanan yang aku masak itu," ucap Desta yang merasa jika saja Abraham sudah mempermainan dirinya. "Kalau Tuan masih saja takut, kenapa harus menyuruhku untuk memasak? Dan kalau makan yang aku masak itu ada racunnya kenapa keluarga Bi Ayu masih bisa bernafas sampai sekarang? Bukan malah mati keracunan setelah memakan masakanku."


Abraham malah mempercepat laju mobilnya karena dirinya benar-benar tidak suka jika saja Desta malah mengatakan itu pada dirinya.


"Sedangkan masakan Bi Ayu, aku lihat kamu selalu saja memakannya bahkan sering kamu bawa sebagian bekalmu. Apa kira-kira aku harus memasak seperti Bi Ayu? Supaya kamu mau memakan masakan yang telah bersusah payah aku masakkan untukmu tapi kamu malah memberikannya pada ART itu." Terdengar Desta malah menyambung kalimatnya hanya karena dirinya kesal pada Abraham. Bukan maksud wanita itu iri jika saja masakan Ayu lebih disukai oleh pria arogan itu. "Padahal waktuku menjadi banyak yang terbuang sia-sia," tambah Desta yang saat ini merasa bahwa Abraham harus mendengar apa saja ini harinya selama ini supaya pria arogan itu tidak akan seenak jidatnya saja.


"Belum!" ketus Desta yang melipat tangannya di atas dadanya.

__ADS_1


"Kalau begitu lanjutkan bila perlu buka kaca mobil itu, supaya orang-orang yang berlalu lalang di jalan raya ini bisa mendengar apa saja yang akan kamu katakan. Agar rasa sesak pada dadamu menjadi sedikit berkurang." Abraham sengaja mengatakan itu niatnya supaya Desta semakin kesal pada dirinya. "Ayo, kenapa kamu malah diam?"


"Huh!" Desta menghela nafas dan sekarang ia malah membuang pandangan ke arah luar jendela.


"Dia memang sangat menyebalkan, kira-kira emaknya dulu ngidam apa? Sampai-sampai putranya semenyebalkan seperti ini," gumam Desta membatin, saat ini dirinya tidak mau berbicara lagi dengan Abraham karena baginya dirinya hanya membuang-buang waktu serta energi saja jika respon pria arogan itu seperti itu-itu saja tidak ada perkembangan sedikitpun. "Bukannya membalas setiap kalimat yang aku ucapkan, dia malah semakin songong dasar laki-laki terkutuk," sambung wanita itu membatin.


"Kenapa malah diam, sudah habis energimu yang kamu tadi buat untuk mengeluarkan keluh kesahmu? Apa sekarang sudah merasa lega atau malah semakin sesak?" Abraham, pria itu memang sangat suka membuat dada Desta sesak seperti saat ini. "Satu lagi, jangan pernah berbicara di dalam benakmu karena aku bisa mendengarnya, justru suara hatimu yang seperti itu sangatlah terdengar dengan jelas."


"Omong kosong, sok punya indera ke 6!" gerutu Desta yang lagi-lagi membatin.

__ADS_1


"Wanita aneh! Beraninya berbicara hanya di dalam benaknya saja," celetuk Abraham sebelum pria itu terlihat memasuki kawasan hutan lindung, karena saat ini ia merasa harus segera sampai di mansion mengingat bahwa Revan mungkin saja Arga sekap di ruang bawah tanah. Sehingga membuat Abraham begitu bersemangat sekali sebab pria arogan itu ingin memberikan pelajaran pada laki-laki yang sangat lancang itu. Laki-laki yang telah menanam benih pada rahim Nadia.


__ADS_2