Dendam (Abraham)

Dendam (Abraham)
BAB 46


__ADS_3

Desta mengusap air matanya yang tiba-tiba saja malah menetes pada saat dirinya sedang mengemudi. Wanita itu juga merasa bahwa Abraham sangat keterlaluan pada saat dirinya bertanya baik-baik tapi pria arogan itu malah meninggikan suara.


"Jika ini bukan demi Ayahku maka aku tidak akan pernah sudi." Desta berkata seperti itu malah membuat air matanya malah semakin deras mengalir karena tiba-tiba saja ia malah menjadi mengingat sang ayah yang sampai sekarang tidak ada kabarnya. "Ayah, jika saja ayah tidak berhutang pada pria yang sangat aneh itu maka ini semua tidak akan pernah terjadi padaku." Desta terus saja terdengar berbicara pada dirinya sendiri. Ditambah air matanya semakin mengalir dengan sangat deras.


"Tuhan, aku ingin bebas dari pria itu. Tapi bagaimana caranya?" Tepat pada saat Desta sedang bertanya pada dirinya tiba-tiba saja ponselnya malah berdering. Sehingga membuat wanita itu dengan cepat menghapus air matanya. Ia juga terlihat langsung saja menepikan mobilnya karena Desta tahu kalau saat ini Sean lah yang sedang menghubungi dirinya.


"Dokter gesrek itu, pasti dia sudah tahu hasilnya. Sehingga membuatnya meneleponku," gumam Desta pelan yang sekarang malah terlihat mengambil tisu untuk mengelap sisa-sisa lelehan air matanya. Desta juga terlihat mengambil obat tetes mata yang selalu saja wanita itu simpan di dalam tasnya karena saat ini ia tahu jika saja nanti Sean akan bertanya tentang kenapa matanya memerah. Sebab dokter itu menelpon dirinya melalui video call.


Selang beberapa detik pada akhirnya Desta sudah mengangkat panggilan telepon Sean.


"Halo, sedang apa Nona cantik," sapa Sean dengan gigi yang terlihat berbaris sangat rapi karena dokter itu malah nyengir kuda pada saat dirinya menyapa Desta dari seberang telepon sana. "Wah, sepertinya lagi dijalan ya, kok tiba-tiba saja aku jadi tidak enak menghubungimu pada saat waktu yang tidak tepat seperti ini."


"Hasilnya apa Sean, jangan malah berbasa-basi seperti ini sungguh aku benar-benar sangat malas," kata Desta yang sebenarnya tidak mau ngobrol lama-lama dengan dokter itu.


"Tuh, nggak boleh marah. Nanti cantiknya hilang bagaimana?" Sean masih saja terdengar menggoda Desta meskipun dirinya tahu bahwa Desta, adalah wanita yang sangat berbeda daripada yang lain. Jika wanita lain ketika di goda maka akan kesemsem beda halnya dengan Desta yang terlihat sangat risih.


"Sean ...," panggil Desta.


"Hehehe, oke ... oke." Sean terkekeh sebelum mengatakan apa yang saat ini ingin disampaikan kepada Desta.


"Katakan, jangan malah cengar cengir saja," seloroh Desta.


"Iya, iya ... Desta. Kabar ini mungkin saja akan membuatmu sedikit merasa kesal bahkan marah pada orang yang membuat pudingnya. Pasalnya puding itu ...." Sean, dokter itu malah menjeda kalimatnya karena ia sangat suka mendengar Desta yang malah akan marah-marah pada dirinya. "Puding itu ...." Lak-laki itu malah terdengar menjeda kalimatnya lagi.

__ADS_1


"Ya sudah, jangan kasih tahu aku saja. Lebih baik aku tutup telepon ini sekarang juga. Daritadi aku tunggu kamu malah bercanda mulu, kamu malah menjeda kalimat-mu pada saat aku sedang menunggu apa yang akan kamu katakan Dasar Dokter menyebalkan!" desis Desta.


Sean melah menunjukkan kertas hasil lab puding yang wanita itu minta karena saat ini dokter itu tahu bahwa suasana hati Desta sedang tidak baik-baik saja. Sehingga membuatnya merasa jika saja Desta tidak bisa diajak bercanda saat ini.


"Aku tidak akan tahu meskipun kamu akan menyorotnya satu jam lamanya," celetuk Desta. "Lebih baik kamu kasih tahu aku saja," sambung wanita itu.


"Puding itu ternyata mengandung obat tidur dengan dosis yang tinggi. Jadi, aku mohon kamu jangan memakannya lagi. Bahkan kamu juga jangan meminta orang itu untuk membuatkanmu puding terkutuk itu karena pasti orang itu ada niat tidak baik padamu," ujar Sean yang benar-benar tidak tahu jika saja puding itu dibuat oleh Selena, sang ibu angkat Desta sendiri.


"Sekali lagi kuingatkan, jangan pernah memakan puding itu, dan untungnya kamu malah menyuruhku untuk mengeceknya ke lab sehingga membuatku menjadi tahu, lebih beruntungnya lagi adalah diriku yang tidak jadi memakannya. Inikah yang dinamakan cantik-cantik tapi malah mematikan dan sangat membahayakan." Sean malah berbicara panjang kali lebar pada Desta.


Saking kaget dan shocknya Desta malah membuka mulutnya dengan lebar-lebar ternyata kecurigaannya tidak salah, begitu juga dengan firasatnya yang sangat luar biasa sekali. Sehingga membuat dirinya tidak percaya dengan penuturan dokter itu saat ini pada dirinya.


"Apa aku tidak salah dengar Sean untuk saat ini?" tanya Desta hanya untuk sekedar memastikan. Bahwa indera pendengarannya masih benar-benar berfungsi saat ini.


"Kalau begitu aku akan segera kesana, kamu tunggu aku." Desta yang masih saja belum yakin malah mau menemui Sean lagi. "Pokoknya kamu harus tunggu aku disana."


"Iya, tapi ngomong-ngomong mata kamu kenapa merah? Apa kamu habis nangis?"


"Aku kelilipan, sudah jangan tanyakan hal yang tidak penting itu lagi." Desta lalu malah memutuskan sambungan telepon itu secara sepihak.


Tutt, tutt ... tutt ....


"Ibu memang benar-benar sangat keterlaluan," gumam Desta pelan sambil memejamkan mata karena ia tidak menyangka Selena akan menaruh obat tidur dengan dosis tinggi pada puding itu.

__ADS_1


Tidak lama setelah itu dirinya malah menancap gas untuk segera pergi ke rumah sakit hanya untuk sekedar memastikan kalimat Sean yang tadi Desta dengar.


***


Tidak perlu membutuhkan waktu yang lama, pada akhirnya Desta terlihat sudah sampai di rumah sakit. Wanita itu juga terlihat langsung saja berlari menuju ke arah ruangan Sean.


Namun, tiba-tiba saja langkah kakinya malah terhenti pada saat mata tidak sengaja melihat sang ibu angkat yang sedang bicara dengan dokter Roy, dokter pribadi Selena.


Desta yang saat ini penasaran dengan apa yang Selena dan Roy bahas bergegas untuk segera mundur beberapa langkah, Desta juga langsung saja bersembunyi di balik tembok.


"Aku harus mendengar apa yang mereka katakan, supaya aku ini semakin lebih berwaspada lagi," gumam Desta pelan yang terlihat mulai mendengarkan percakapan ibu angkat dan dokter pribadi itu.


"Apa puding itu sudah Nona Desta makan?" tanya Roy pada Selena.


"Belum deh kayaknya karena tadi sebelum aku kesini puding itu masih utuh di dalam kulkas," jawab Selena yang tahu jika puding itu belum dimakan oleh Desta.


"Aduh, Nyonya Selena inu bagaimana sih, seharusnya sudah Nona Desta makan supaya besok pagi kita bisa langsung menjalankan operasi itu." Seketika wajah Roy terlihat langsung saja berubah.


"Lalu bagaimana?" Selena malah bertanya lagi.


"Harus Nona Desta makan puding itu karena jadwal operasinta Nona Elsa, saya ambil di pagi hari." Roy menjawab dengan enteng tanpa tahu Desta saat ini masih saja mengintip serta menguping apa saja yang dokter itu bahas dengan Selena pada saat ini.


"Akan aku usahan, Dokter tidak perlu mengkhawatirkan akan hal itu karena aku yakin jika saja Desta akan memakannya. Mengingat putriku itu sangat suka dengan puding," timpal Selena.

__ADS_1


"Ibu, kenapa kamu tega?" Desta mambatin, wanita itu juga menutup mulutnya sendiri dengan telapak tangannya supaya suara isak tangisnya tidak kedengaran. "Setega ini Ibu padaku, ternyata Ibu tidak setulus itu," sambung Desta membatin, dan kini wanita itu malah terlihat pergi dari sana, karena rasanya dirinya tidak akan mungkin sanggup jika terus-terusan berada disana mendengarkan percakapan antara Roy dan Selena.


__ADS_2