
"Kak Abra," panggil Nadia lirih pada saat ia melihat sang kakak baru saja masuk.
"Nadia, yang sakit di bagian mana?" Abraham saat ini berusaha untuk tetap terlihat biasa saja mengingat kalimat-kalimat Jesika. Meski sebenarnya saat ini pria arogan itu ingin menanyakan tentang siapa ayah dari bayi yang Nadia kandung saat ini. "Mana yang sakit?" Abraham mengulangi pertanyaannya sekali lagi.
Nadia merespon Abraham dengan cara menggeleng. Menandakan bahwa dirinya tidak apa-apa padahal lengan wanita itu saat ini sedang diperban.
"Nadia, Kakak mohon kamu jangan lakukan hal seperti ini lagi karena kamu tahu sendiri kalau Kakak ini sangat menyayangimu," ucap Abraham yang sekarang sudah duduk di pinggir bed Nadia. "Kakak menyayangimu lebih dari apapun itu," sambung Abraham.
"Aku minta maaf karena sudah membuat Kak Abra menjadi panik seperti ini, Kakak juga menjadi khawatir denganku." Nadia memegang tangan sang kakak. "Kak, aku benar-benar minta maaf pada Kakak."
Abraham memaksakan bibirnya untuk tersenyum saat ini. "Nadia, Kakak merasa kamu tidak bersalah. Jadi, kamu tidak perlu meminta maaf anggap saja ini hanya sebuah musibah," timpal Abraham. "Sekarang kamu istirahat saja, supaya kamu bisa cepat pulih dan kamu bisa pulang ke rumah utama. Mengingat di rumah Bi Sarah hanya berdua saja dengan Bi Ayu."
"Kak Abra sepertinya tidak akan memanggilkan aku Dokter kandungan untuk memeriksa-ku. Jika aku masih sakit seperti ini dan aku merasa tidak sia-sia aku melukai diriku sendiri," gumam Nadia membatin karena wanita itu berpikir kalau saja Abraham tidak tahu tentang kehamilan tentang dirinya.
"Kakak mau pulang sebentar, setelah itu akan kembali lagi kesini. Tidak apa-apa kan, kamu sendiri dulu disini?" tanya Abraham sambil mengelus pucuk kepala sang adik dengan penuh rasa sayang.
"Iya, tapi Kakak jangan lama-lama, soalnya aku takut sendiri," jawab Nadia.
"Tidak akan lama, kamu istirahat sekarang." Abraham terlihat membenarkan selimut sang adik. "Kakak pergi dulu," kata Abraham berpamitan sebelum ia keluar dari ruangan itu.
***
Di tempat lain Arga masih saja berusaha terus untuk mencari laki-laki yang Abraham maksud ditemani seorang anak buah yang selama ini selalu membantunya.
"Apa sudah kamu temukan laki-laki yang Tuan Abra maksud?" tanya Arga karena ini sudah hampir lima jam dirinya mencari tahu. Tapi sampai saat ini dirinya sama sekali belum bisa menemukan sedikit saja jejak Revan–laki-laki yang saat ini berusaha Arga cari dan beberapa anak buahnya.
"Tuan Ar, setahu saya Nona Nadia tidak punya kekas–"
"Jangan katakan apapun Opet!" bentak Arga memotong kalimat anak buahnya yang bernama Opi tapi ia panggil dengan nama Opet. "Lebih baik cek semua CCTV kemana saja Nona Nadia pergi, daripada kamu harus mengatakan kalimat-kalimat yang tidak bermutu itu!" gerutu Arga yang saat ini benar-benar takut jika saja Abraham akan benar-benar merenggut nyawanya jika dirinya tidak bisa menemukan ayah dari bayi yang Nadia kandung saat ini.
__ADS_1
Opi yang mendengar itu pada detik itu juga langsung saja bungkam, ia juga terlihat kembali fokus untuk menatap layar laptopnya.
"Di sini saya merasa bingung," kata Opi membuka suara pada saat dirinya menemukan ada sesuatu hal yang mengganjal pada rekaman CCTV yang berada di pusat perbelanjaan pinggir kota.
"Katakan, jangan hanya bingung sendiri saja kamu. Tanpa kamu tahu kalau saja saat ini nyawaku sedang terancam!" sahut Arga yang sedikit meninggikan nada suaranya karena ia tahu bahwa Abraham tidak pernah main-main dengan kalimat yang pria arogan itu lontarkan.
Opi menunjuk layar yang ada di depannya saat ini. "Ini coba Tuan Arga lihat sendiri, Nona Nadia datang kesini sendirian dan menggunakan pakaian yang sangat tertutup. Tapi kenapa dia sama sekali tidak kelihatan keluar? Kira-kira Nona Nadia keluar lewat pintu mana? Dan setahu saya di mall ini pintu masuk serta pintu keluarnya satu jalur." Kini berbagai pertanyaan mulai timbul di dalam benak Opi juga Arga. "Tuan Ar, ayo Anda perhatikan lagi bahkan Anda harus perhatikan berulang-ulang kali karena saya yakin kalau jawabannya ada di dalam rekaman ini." Dengan penuh keyakinan Opi berkata seperti itu.
"Zoom, aku rasa Nona Nadia masuk ke dalam mall itu hanya untuk mengganti penampilannya saja." Arga mencoba mulai melihat dengan sangat teliti. "Zoom lagi Opet! Jangan hanya setengah-setengah seperti ini."
"Ini sudah saya zoom Tuan, apalagi yang mau Anda cari?" Opi malah menggerakkan gambar yang Arga menyuruhnya untuk di zoom tadi kekiri dan kekanan.
Arga yang kesal malah memu kul tengkuk kepala Opi karena laki-laki itu malah menjadi pusing. Bukan malah menemukan apa yang saat ini sedang dicarinya.
"Dasar dodol!" geram Arga.
"Saya menyuruhmu untuk zoom, bukan malah menggerakkannya kekiri dan kekanan. Lama-lama kamu memang benar-benar sangat menguji kesabaran saya. Sudah tahu kesabaran saya ini hanya setipis tisu itupun dibagi menjadi sepuluh lagi," celetuk Arga.
Opi tiba-tiba saja menyerahkan laptop itu pada Arga sambil berkata, "Nih, ambil Tuan bisa zoom dan cari sendiri. Jika saja saya Anda anggap selalu salah."
"Oh, sudah berani kamu, ya!" Arga melotot ke arah Opi.
Opi yang takut kena marah malah mengambil kembali laptop itu. "Sini biar saya bantu Anda mencarinya." Pada saat benda persegi empat itu sudah ada di tangan Opi. Tiba-tiba saja terdengar suara Arga.
"Stop! Sepertinya yang menggunakan dress yang kekurangan bahan ini adalah Nona Nadia, karena saya bisa mengenalinya dari tato kupu-kupu yang ada di pergelangan tangannya. Coba kamu perhatikan pada saat dia membenarkan posisi kacamatanya." Sekarang Arga benar-benar menemukan petunjuknya. "Fix, ini memang Nona Nadia, lalu siapa laki-laki ini?"
"Laki-laki ini, saya sering melihatnya keluar masuk klub malam. Dia juga adalah salah satu kekasih model yang sangat terkenal. Bukan cuma itu saya juga kerap kali menemukannya keluar dari kamar hotel bintang lima," jawab Opi yang benar-benar tahu tentang laki-laki yang ternyata adalah Revan itu.
"Darimana kamu tahu, Opet?" Arga terdengar bertanya lagi pada anak buahnya itu.
__ADS_1
"Apa sih, yang saya tidak tahu Tuan." Dengan santainya opet malah menjawab Arga dengan kalimat itu.
"Kurang ajar kamu!" bentak Arga. "Katakan saja darimana kamu tahu."
Opi nyengir kuda. "Saya tahu karena pacarnya yang menjadi model itu adalah pacar halu saya juga. Sehingga membuat saya menjadi tahu semua hal tentangnya, dan kalau tidak salah lama laki-laki itu adalah Re ... Rev ... aduh, saya lupa lagi dengan namanya." Opi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kamu ini dari tadi bercanda terus, kapan sih, kamu akan serius!" Arga meninju lengan Opi. "Ini bukan waktunya kita bercanda karena ini, masalah yang sangat serius," sambung tangan kanan Abraham itu.
"Ya sudah, saya minta maaf Tuan Ar karena saya ini benar-benar lupa," kata Opi yang terdengar malah meminta maaf pada Arga.
"Simpan kata maafmu, sekarang kasih tahu saya siapa nama model yang terkenal itu." Raut wajah Arga kini terlihat sangat datar.
Opet menjawab, "Kalau model itu alias pacar halu saya itu namanya Desta."
"Apa!" Arga sangat terkejut sampai-sampai laki-laki itu malah tersedak dengan air liurnya sendiri. Sehingga membuatnya malah menjadi terbatuk-batuk. "Uhuk, uhuk … uhuk, uhuk …."
"Kenapa dunia ini sangatlah sempit?" gumam Arga yang malah membatin.
🍂🍂
"Tuan saya sudah menemukan laki-laki itu," kata Arga yang pada saat ini sedang berbicara empat mata dengan Abraham.
"Kenapa tidak kamu bawa dia langsung kesini saja jika kamu benar-benar sudah menemukannya?" Tanpa menatap Arga Abraham malah bertanya seperti itu pada tangan kanannya itu. "Diam, apa itu hanya leluconmu saja, Arga? Supaya nyawamu tidak terancam?"
Arga langsung saja menggeleng dengan sangat kuat. "Bukan begitu Tuan."
"Lalu?" Abraham menaikan satu alisnya.
"Laki-laki itu adalah kekasih Nona Desta." Setelah mengatakan itiu Arga langsung saja menutup kupingnya karena ia tahu bahwa suara bass Abraham akan mulai terdengar.
__ADS_1