
"Apa maksud Abra sebenarnya yang tadi saat di mansion? Aku saat ini benar-benar dibuat kebingungan olehnya." Desta membatin pada saat wanita itu sudah pulang ke rumah Selena. Ia juga terus saja mencoba menebak-nebak apa yang Selena inginkan darinya seperti kata Abraham. "Ah, sudahlah untuk apa aku memikirkan kalimatnya lagipula itu semua hanya omong kosong si pria arogan itu saja," sambung Desta membatin yang sekarang terlihat akan menaiki anak tangga tapi tiba-tiba saja ia malah mendengar suara Selena yang marah-marah membuat Desta terpaksa menghentikan langkah kakinya.
"Kamu ini bisa-bisanya malah memberikan anak pembawa sial itu membeli beberapa anak perusahaan kita. Apa kamu ini tidak berpikir bahwa dia bermaksud ingin membalas dendam padaku?" Selena melempar beberapa berkas catatan tentang sebuah anak perusahaannya yang berhasil terjual pada asisten yang selama ini membantunya mengurus perusahaannya. "Kenapa kamu sangat bodoh sekali Rico, tidak bisakah kamu bertanya dulu tentang siapa anak sialan itu sebelum kamu asal main setuju kalau menyerahkan semuanya padanya?" Gigi wanita paruh baya itu bergemeletuk menandakan kalau Selena saat ini benar-benar sangat marah.
"Nyonya saya benar-benar minta maaf, karena saya benar-benar tidak tahu tentang Tuan Ab–" Kalimat Rico terputus gara-gara Selena malah menyiram wajah laki-laki itu dengan segelas air.
"Kali ini aku memaafkanmu, tapi lain kali jangan harap! Dan aku ingatkan padamu bahwa kamu ini jangan ceroboh lagi seperti ini, apa kamu paham Rico?" Selena memegang dagu laki-laki yang kira-kira seumuran dengan Abraham itu. "Jawab!" bentak Selena.
"I-iya Nyonya, saya janji lain kali saya tidak akan mengambil keputusan apapun tanpa persetujuan Anda," jawab Rico takut-takut.
Selena langsung saja menepuk pundak sang asisten sambil berkata, "Bagus, sekarang kamu lanjutkan tugasmu, karena mungkin saja Desta sudah pulang."
"Obat tidur?" tanya Rico ragu.
__ADS_1
"Sejak kapan kamu ini menjadi bodoh sekali? Pakai acara nanya segala. Sekarang taburi obat tidur pada minuman Desta karena malam ini Dokter Roy akan memeriksa apakah ginjalnya cocok dengan ginjal Elsa. Sehingga membuat kita tidak perlu bersusah-susah lagi mencari ginjal jika ginjal Desta cocok." Selena tidak tahu saja apa yang saat ini wanita itu ucapkan didengar oleh Desta. "Tunggu apa lagi kamu Rico? Cepat, lakukan apa yang aku perintahkan!"
Desta langsung saja menutup mulutnya yang terbuka sangat lebar, ia tidak menyangka kalau saja Selena akan mengatakan itu semua.
"Apakah ini yang tadi dimaksud oleh Abra? Dimana Ibu membesarkanku hanya ingin mengambil ginjalku saja?" Desta membatin, ia juga sekarang terlihat dengan sangat hati-hati sekali menaiki anak tangga, karena ia tahu jika saja Rico dan Selena masih saja membahas masalah anak perusahaan juga ginjal. Sehingga membuat Desta mengambil kesempatan itu untuk bergegas masuk ke dalam kamarnya supaya Selena tidak tahu jika saja dirinya tadi sempat menguping pembicaraan ibu angkatnya itu. "Aku harus sampai di dalam kamarku sebelum Rico keluar dari ruangan itu," gumam Desta pelan.
Namun, tiba-tiba saja terdengar suara Elsa yang memanggilnya dari arah bawah anak tangga sehingga membuat Desta langsung saja berbalik.
"Kak Desta, kok tumben baru pulang?" tanya Elsa yang saat ini sedang duduk di kursi rodanya.
"Ssstt, kamu jangan berisik." Desta malah melangkahkan kakinya untuk menuruni anak tangga lagi. "Kenapa belum juga tidur? Bukankah malam-malam sebelumnya jam segini kamu sudah tidur pulas?" Desta bertanya dengan suara yang setengah berbisik.
"Aku belum ngan–"
__ADS_1
Desta langsung saja menutup mulut Elsa, karena Desta mendengar suara pintu pada ruangan tempat Rico dan Selena tadi terbuka. Sehingga membuat wanita itu secepat kilat malah mendorong kursi roda sang adik ke arah ruangan itu, supaya Selena tidak curiga kalau ia baru saja pulang.
"Ibu mungkin ada disana, ayo sekarang kita mencari Ibu." Dengan kalimat berbasa basinya Desta terus saja mendorong kursi roda itu. Sehingga pada akhirnya Desta melihat Selena juga Rico yang keluar dari sana.
"Desta," panggil Selena dengan mimik yang sedikit terkejut, tapi wanita paruh baya itu malah dengan cepat merubah ekspresi wajahnya pada saat itu juga. "Kapan kamu pulang, Sayang?" Selena bertanya sambil berjalan ke arah Desta juga Elsa.
"Baru saja Bu, memangnya ada apa?" Desta pura-pura bertanya balik pada Selena.
"Tidak apa-apa Sayang, tadi Ibu cuma mencemaskan kamu saja. Kenapa sampai jam segini kamu belum pulang," jawab Selena yang sekarang malah mengambil alih kursi roda Elsa. "Sini biar Elsa sama Ibu saja, kamu boleh masuk ke kamarmu karena mungkin saja kamu kecapekan seharian full kerja."
"Ibu benar, kalau begitu aku ke kamarku dulu. Elsa sama Ibu. Selamat malam Adikku sayang." Desta memberikan kecupan pada Elsa sebelum wanita itu terlihat menaiki anak tangga. Dengan membawa beberpapa pertanyaan yang tersimpan sangat rapi di dalam benak wanita itu.
"Selamat malam juga Kak Desta!" seru Elsa pada saat Desta sudah sampai di pertengahan anak tangga. "Elsa sayang Kak Desta."
__ADS_1
Mendengar itu Desta berbalik lalu mengecup Elsa. "Kakak juga sayang Elsa!" sahut Desta.