
Setelah melihat secara langsung kalau apa yang dikatakan Revan memang benar apa adanya. Seulas senyum tipis langsung saja terbit pada bibir tipis wanita paruh baya itu.
"Kerja bagus Revan, kamu ternyata bisa diandalkan juga." Selena menepuk bahu Revan beberapa kali pada saat ia mengatakan itu semua. "Buat kamu Rico, sekarang bawa Desta pulang ke rumah utama," ujar Selena yang sekarang malah mengajak Rico untuk berbicara.
"Baik Nyonya, saya akan membawa Nona Desta untuk segera pergi dari sini." Rico lalu dengan entengnya malah menggendong tubuh Desta. "Saya akan keluar dari sini melalui pintu belakang di restoran ini, supaya tidak akan ada orang lain yang melihat saya."
"Cepatlah nanti Desta keburu bangun." Revan mengatakan itu karena ia memang takut jika saja wanita itu nanti malah akan membuka mata.
"Kamu benar, sekarang cepatlah, Rico!" Selena, wanita paruh baya itu menyuruh Rico untuk segera pergi membawa Desta pergi dari sana.
"Hm, Bu, Ibu tidak lupa dengan apa yang pernah ibu janjikan padaku 'kan?" Tiba-tiba saja Revan malah bertanya seperti itu pada Selena.
"Tidak akan lupa Revan. jadi, kamu tenang saja. Nanti kalau Ibu memintamu untuk datang maka kamu datang saja ke rumah utama. Untuk saat ini kamu mohon bersabar dulu," jawab Selena.
Revan langsung saja berwajah masam karena laki-laki itu ingin Selena memberikannya imbalan sekarang saja bukan nanti.
Namun, meskipun begitu Revan tetap saja mengangguk tanda setuju dengan apa yang tadi Selena katakan pada dirinya.
"Baiklah Bu, kalau begitu aku harus pulang dulu," kata Revan yang mengatakan kalau dirinya harus pulang. "Semoga saja Ibu tidak lupa dengan semua janji Ibu itu, yang mengatakan kalau Ibu akan memberikan aku ini imbalan."
__ADS_1
Selena langsung saja tertawa terbahak-bahak pada saat dirinya mendengar kalimat itu yang keluar dari mulut Revan.
"Revan, Revan ... memangnya kamu pikir kalau Ibu ini suka berbohong?" tanya wanita paruh baya itu. "Sehingga membuatmu malah mengatakan itu semua kepada Ibu ini."
"Bukan begitu Bu, tapi aku memang sangat membutuhkan sejumlah uang untuk saat ini. Sehingga membuatku berkata seperti itu tadi," timpal Revan yang menjawab apa yang tadi Selena katakan pada dirinya.
"Nanti kita bahas ini lagi karena Ibu harus cepat pergi dari sini." Sesaat setelah mengatakan itu Selena langsung saja pergi dari sana meninggalkan Revan yang saat ini mungkin saja sedang mengumpat, mengeluarkan kata-kata kasar saking kesalnya pada wanita paruh baya itu.
"Kalau tahu begini, aku menyesal telah memberitahunya tentang Desta, dasar nenek-nenek peyot," gerutu Revan membatin karena laki-laki itu merasa kesal dengan Selena. Revan juga membiarkan wanita paruh baya itu pergi begitu saja.
***
Desta terlihat terus saja memberontak pada saat wanita itu sadar jika saja dirinya sedang berada di rumah sang ibu angkat.
"Lepaskan aku! Lepaskan aku, Ibu!" Desta setengah berteriak pada Selena. "Aku sudah mengirimi Ibu sejumlah uang untuk mengganti biaya Ibu yang merawatku dari kecil sampai aku seperti sekarang ini. Jadi, aku berpikir kalau aku ini sudah tidak berhutang budi lagi padamu, Bu. Sekarang aku mohon. Lepaskan aku dan biarkan saja aku pergi."
"Hooh, setelah apa yang kamu lakukan kamu pikir Ibu ini akan membebaskanmu dengan semudah itu?" Selena memegang dagu Desta. "Apa kamu tahu kalau Elsa sudah pergi jauh? Itu semua gara-gara kamu! Gara-gara anak yang tidak tahu diri seperti kamu, Desta!" Suara wanita paruh baya itu semakin menggema di dalam ruangan itu.
"Bukan aku yang tidak tahu diri, tapi Ibu lah yang tidak tahu diri itu. Aku tidak pernah meminta untuk dirawat bahkan di besarkan!" pekik Desta yang sekarang malah berteriak saking marahnya mendengar Selena yang mengatakan bahwa dirinya adalah anak yang tidak tahu diri. "Kenapa tidak Ibu bu nuh saja aku sejak masih kecil? Jika hal seperti ini akan terjadi. Kenapa?"
__ADS_1
"Tutup mulutmu!" Selena menutup mulut Desta dengan telapak tangannya. "Apa kamu tahu, kalau kamu itu dijual oleh Farhan kepada Ibu? Apa kamu tahu akan hal itu?" Senyum licik terbit dari bibir Selena.
"Tidak! Ibu lah yang mau mengadopsiku selama ini. Bukan malah Ayah yang telah menjualku pada Ibu." Desta tidak ingin percaya dengan apa yang saat ini Selena katakan pada dirinya. "Hanya karena menginginkan ginjalku!" sambung wanita itu berteriak, yang merasa sangat marah setiap kali kalimat itu terucap begitu saja dari bibit tipis Desta.
"Kata adopsi hanya kata penenang bagi dirimu saja anak tidak tahu diri, yang sebenarnya terjadi aku, Selena ini telah membelimu dengan sejumlah uang yang sangat fantastik. Itu hanya demi Elsa … hanya demi putriku yang sangat aku sayangi. Maka aku ini rela membelimu hanya memang untuk mengambil ginjalmu saja. Tapi apa, kamu malah kabur di saat ginjalmu itu akan aku ambil. Sungguh kamu adalah manusia yang menyebabkan Elsa meninggal," ucap wanita paruh baya itu panjang kali lebar.
Desta terdiam karena dirinya sedang mencerna semua kalimat yang Selena katakan.
"Tidak mungkin, tidak mungkin Ayahku akan setega itu." Desta menggeleng kuat.
"Apa kamu butuh bukti?" Selena bertanya sambil melampar berkas tanda tangan Farhan, sang ayah Desta yang telah tega menjual wanita itu hanya demi sejumlah uang. "Baca, biar semua bisa kamu pahami. Jangan malah terus-terusan kamu tudah membual!"
"Aku tetap tidak percaya, sekarang lebih baik Ibu lepaskan saja ikatanku karena aku ini harus pergi dari sini." Meski mustahil Desta akan bisa melepaskan ikatan itu. Ia terus saja terlihat memberontak.
"Rico ...." Terdengar Selena yang malah memanggil sang tangan kanan.
"Iya Nyonya, ada apa?" tanya Rico pada saat laki-laki itu yang dari tadi rupanya berdiri terus di dekat tembok. Demi melihat Selena dan Desta berbicara.
"Bawa dia ke gudang, dan jangan berikan dia makanan apapun karena dia harus merasakan apa yang Elsa rasakan." Selena malah mengatakan itu dengan sangat enteng. Seolah-olah wanita paruh baya itu tidak memiliki perasaan. "Bawa dia cepat, jangan berikan dia penerangan apapun itu."
__ADS_1
Rico terlihat dengan sangat cepat mengangguk patuh. Lalu laki-laki itu juga langsung menyeret kursi tempat Desta saat ini sedang di ikat.
"Bila perlu panggilkan dia, om-om yang haus dengan wanita seperti dia. Supaya tubuhnya itu tidak terlalu rugi aku membelinya," kata Selena sebelum wanita paruh baya itu pergi dari sana.