
Hari berlalu dengan sangat cepat, kini tidak terasa satu bulan telah berlalu, Desta juga sekarang sudah terlihat mulai bisa akrab dengan Abraham semenjak wanita itu mengetahui kalau Abraham yang sudah menolongnya dari Selena yang berniat tidak baik padanya. Tanpa Desta tahu juga ternyata Revan sudah resmi menikah dengan Nadia.
"Aku sudah bosan berada disini terus Abra," kata Desta pada saat dirinya sedang memasak dan ditemani oleh Abraham, Desta juga kini tidak pernah memanggil pria itu dengan embel-embel tuan lagi.
"Kita sepertinya harus keluar jalan-jalan," timpal Abraham yang sekarang sedang terlihat membaca koran sambil duduk tepat di dekat Desta yang memasak. "Nanti malam kita jalan-jalan, bagaimana apa kamu setuju?" tanya pria itu yang sekarang sudah mulai sedikit terbuka dengan Desta tidak terkesan cuek, arogan, bahkan tidak seperti kulkas sembilan pintu lagi karena Abraham juga sudah menemukan sisi lain dari Desta.
"Apa Ibuku kira-kira sudah tidak mencariku lagi?" Desta sekarang terdengar menanyakan tentang Selena yang masih mencarinya atau tidak.
"Dia hanya ibu angkatmu. Jadi, untuk apa kamu harus takut dengannya? Lagipula keadaanmu sekarang sudah membaik sehingga membuatmu tidak perlu takut dengannya." Abraham malah mengatakan itu pada Desta.
"Ibu Selena memang bukan Ibuku, tapi bukankah aku harus menghormatinya? Sebab dia telah membesarkanku. Ya, meskipun itu semua Ibu lakukan hanya ingin mengambil ginjalku saja." Desta tiba-tiba saja malah menjadi mengingat tentang dirinya yang sedang marah-marah dengan Selena setelah itu ia malah langsung saja tidak sadarkan diri. Desta juga tidak mengingat semua tentang kalimatnya pada saat dirinya marah pada ibu angkatnya itu. Dimana ia hanya mengingat sedikit saja tentang dirinya yang mengatakan kalau Selena membesarkannya hanya ingin mengambil salah satu ginjalnya untuk Elsa, sang adik angkat yang sudah Desta anggap seperti adik kandungnya sendiri.
Akan tetapi, hanya karena gara-gara Selena. Kini dirinya malah ikut membenci Elsa yang lahir ke dunia ini membawa segudang kekurangan bukan kelebihan. Meskipun Desta tahu bahwa dirinya tidak boleh membenci Elsa. Tapi apa boleh buat, rasa marah yang kian menjadi menggebu-gebu malah membuat Desta menjadi wanita yang berhati penuh dendam dan kebencian.
Entahlah apa jadinya ketika Desta tahu kalau daja Abraham adalah anak kandung dari Selena, anak yang disia-siakan hanya demi lak-laki dan sejumlah harta. Mungkin saja Desta malah akan beranggapan kalau saja Selena adalah manusia jelmaan iblis.
"Sudahlah jangan bersedih, aku juga sudah memberikannya sejumlah uang yang digunakan untuk membesarkan serta merawatmu sampai sekarang ini." Abraham malah keceplosan mengatakan itu semua pada Desta.
__ADS_1
"Sejumlah uang?" Desta mengerutkan dahinya. "Kenapa kamu baru memberitahu-ku tentang masalah ini, Abra?" Desta bertanya karena wanita itu tidak pernah menyangka kalau saja Abraham akan mengeluarkan sejumlah uang untuknya dan tentu saja uang itu jumlahnya pasti tidaklah sedikit.
"Supaya kamu tidak merasa berhutang budi padanya," jawab Abraham singkat.
"Kalau begitu beritahu aku supaya aku ini bisa melunasi hutangku itu padamu. Berapapun jumlahnya pasti akan aku ganti." Sekarang Desta terdengar menanyakan sejumlah uang pada Abraham. "Katakan saja karena aku ini akan bisa menggantinya." Desta mengulangi kalimatnya sekali lagi pada Abraham.
"Pakai apa?" Abraham yang tahu kalau saja Desta sudah dikeluarkan dari pekerjaannya karena ini semua perbuatan Selena malah bertanya seperti itu pada Desta.
"Aku akan mencari pekerjaan sampingan. Jadi, kamu itu tidak usah meragukan aku ini meskipun aku ini bukan seorang model lagi." Desta menjawab Abraham penuh dengan percaya diri serta sangat yakin.
Yakin dengan dirinya yang akan mendapatkan pekerjaan yang mudah mengingat bahwa dirinya itu adalah mantan model. Jadi, Desta merasa mencari pekerjaan mungkin saja sangat mudah untuk dirinya sendiri.
"Aku akan berusaha karena hutang akan dibawa mati dan akan diminta pertanggung jawabannya nanti di alam kedua jika aku tidak melunasinya," kata Desta menimpali Abraham. "Sekarang katakan saja berapa hutangku itu?"
"Tidak akan pernah bisa kamu lunasi sampai kapanpun. Kecuali kamu menikah denganku baru aku akan menganggap semua hutangmu itu lunas tidak ada sepeserpun hutangmu itu kepadaku." Tentu saja Abraham menjawab pertanyaan Desta di dalam benaknya saja karena pria itu tidak memiliki banyak nyali untuk mengatakan kalimat itu secara terang-terangan.
"Hei katakan berapa?" Desta bertanya lagi pada Abraham..
__ADS_1
"Kita bahas nanti saja, sekarang kita lanjutkan membahas masalah kita yang akan keluar jalan-jalan." Abraham berusaha untuk mengalihkan pembicatanmya dengan Desta saat ini. "Kira-kira kita mau pergi ke mana?" tanya pria itu.
Desta malah menghela nafas karena yang ia inginkan saat ini adalah tahu berapa jumlah hutangnya saja. Tetapi Abraham malah membahas masalah lain.
"Kita pergi ke taman kota," jawab Desta sebelum wanita itu terlihat pergi dari sana.
๐๐
Malam menjelang terlihat Abraham sudah menggunakan setelan jas yang sangat rapi. Begitu juga dengan Desta yang terlihat mengenakan gaun yang sangat indah dan tentu saja itu adalah pemberian dari Abraham.
"Sudah siap?" Suara Abraham terdengar bertanya pada saat laki-laki itu melihat Desta yang saat ini sedang menuruni anak tangga.
"Sepertinya aku belum siap karena aku ini salah menggunakan kostum," celetuk Desta yang menjawab Abraham seperti itu. Dimana ia mengatakan kostum pada gaun indah yang melekat pada tubuhnya yang bak gitar spanyol. "Ini kayak orang mau diner saja. Sedangkan kita 'kan, cuma mau jalan-jalan saja menghirup udara tidak sehat," seloroh wanita itu lagi.
"Tidak apa-apa, lagipula gaun itu sangat cocok sekali di badanmu." Pandangan Abraham tidak pernah lepas sedikitpun dari Desta karena laki-laki itu merasa bahwa dirinya sedang melihat bidadari yang saat ini sedang berdiri di hadapannya. "Sekarang kita jalan saja, dan jangan sampai kita nanti malah akan terjebak dengan macet. Entah itu drama pohon tumbung, maupaun kecelakaan."
"Ish, jangan bicara begitu. Sekarang kita berangkat saja seperti katamu tapi ingat kita jangan pulang terlalu larut malam," ujar wanita itu yang mendapatkan anggukan dari Abraham. "Awas kamu jangan bohong." Desta menatap pria itu.
__ADS_1
"Kita hanya akan jalan-jalan saja. Jadi, untuk apa kita akan pulang larut malam. Apa kamu tidak memikirkan hal itu, Desta?" tanya Abraham.
"Iya sudah, aku percaya," sahut Desta yang kini sudah terlihat berjalan terlebih dahulu ke arah pintu utama di mansion itu.