Dendam (Abraham)

Dendam (Abraham)
BAB 53


__ADS_3

"Tuan, apa Anda benar-benar yakin kalau saja Nona Desta tidak akan kenapa-kenapa?" tanya Arga ketika laki-laki itu saat ini sedang menyetir. Arga juga terlihat jelas saat ini dirinya sangat mengkhawatirkan keadaan Desta yang tidak kunjung membuka mata.


"Menyetir saja dengan benar, tidak perlu menanyakan hal seperti ini biarkan saja Desta akan menjadi urusanku sendiri. Tanpa perlu kamu banyak tanya seperti sekarang karena jujur saja kupingku menjadi panas ketika kamu malah bertanya terus." Abraham sepertinya tahu kalau saja Desta sedang dalam pengaruh bius. Sehingga membuat laki-laki itu sangat tenang seperti ini. Bukannya malah mengkhawatirkan keadaan Desta yang masih saja memejamkan mata.


"Tuan Abra sama sekali tidak merasa panik, apa Tuan berniat ingin membuat nyawa Nona Desta melayang?" Mulut Arga memang tidak bisa di rem pada saat laki-laki itu disuruh untuk tidak bertanya lagi pada pria arogan itu.


Abraham memelototi Arga karena mana mungkin dirinya akan membuat nyawa wanita yang hampir setiap malam itu Abraham impikan untuk menjadi calon istrinya itu terancam.


"Diam ...." Hanya satu kalimat yang Abraham ucapkan berharap supaya tangan kanannya itu menutup mulut rapat-rapat. Daripada mengeluarkan suara malah akan membuat Abraham lama-lama bisa saja menjadi sangat murka.


"Baik Tuan. Tapi kalau ada hal buruk yang terjadi pada Nona Desta, saya ini tidak akan berani ikut-ikutan," kata Arga sebelum mulut laki-laki itu akan tertutup rapat karena ia melihat kalau saja raut wajah tuannya itu sudah sangat masam seperti saat ini membuat Arga harus mulai berwaspada jangan sampai Abraham akan menelannya secara hidup-hidup mengingat pria itu sama sekali tidak memiliki kata sabar sedikitpun.


"Hm, tapi sebelum itu saya mau menanyakan tentang meeting dulu dan Opet apakah anak buah saya itu sudah menyelesaikan apa yang telah Tuan perintahkan padanya?" Arga berharap jika saja Abraham akan mau menjawab pertanyaannya untuk masalah ini saja.


"Urus saja urusan dirimu sendiri, Arga!" jawab Abraham ketus karena dirinya mendadak menjadi panik juga karena pada saat ia memegang tangan Desta detak nadi wanita itu mulai melemah membuat laki-laki itu benar-benar panik sekarang tidak seperti yang tadi. "Lebih cepat! Dan hubungi Dokter Sean secepatnya!" seru Abraham dengan intonasi yang lagi-lagi terdengar meninggi.


Arga tidak menjawab melainkan laki-laki itu malah mempercepat laju mobilnya pada saat dirinya mendengar kalimat Abraham yang tadi. Sebab ia merasa jika ada sesuatu hal yang terjadi sehingga menyebabkan mimik tuannya itu terlihat berbubah tidak tenang lagi seprti yang tadi.


"Lebih cepat!" seru Abraham.


Arga hanya menjawab dengan anggukan kecil saca, dengan pelipis yang sudah mulai mengeluarkan keringat dingin.


๐Ÿ‚๐Ÿ‚


Terlihat Sean setengah berlari di mansion Abraham karena dokter itu saat ini panik, dimana ia mengira bawa yang sakit itu adalah Abraham.

__ADS_1


"Arga, sakit apa Tuan Abraham?" terdengar bertanya pada Arga ketika sang dokter itu melihat laki-laki itu sedang berdiri di dekat pintu salah satu kamar tempat saat ini Desta berada.


"Bukan dia yang sakit," jawab Arga singkat.


"Lalu siapa yang sakit, sampai-sampai kamu menelpon saya dengan suara yang terdengar sedang panik?" Sean bertanya lagi pada Arga.


"Dok, silahkan Anda masuk saja karena orang yang saat ini sedang sakit sangat membutuhkan pertolongan Anda." Arga lalu memutar knop pintu supaya dokter itu bisa cepat masuk karena jika terus-terusan mengobrol dengan Sean akan membuatnya menjadi sedikit emosi di saat suasana hari Arga tengah panik seperti ini gara-gara kondisi Desta. "Silahkan Anda masuk, pintunya sudah terbuka dengan sangat lebar," celetuk Arga.


Sean tanpa mengatakan apapun langsung saja masuk setelah tangan kanan Abraham itu malah tidak mau menjawab pertanyaannya sejak tadi. Padahal dokter itu sangat penasaran dengan siapa yang sedang sakit seperti ini. Membuat Arga bergegas untuk menyuruhnya segera datang. Bahkan Sean sampai meninggalkan beberapa pasiennya demi datang ke mansion yang ada di hutang lindung itu. Mansion milik pria arogan seperti Abraham.


Sean juga langsung saja mematung pada saat dirinya melihat dengan jelas raut wajah wanita yang selama ini selalu saja membuat hatinya bergetar.


"Desta," gumam dokter itu pelan sebelum dirinya melangkangkahkan kakinya untuk segera masuk ke dalam kamar yang sangat luas itu dengan warna biru bercorak putih serta dihiasi dengan lampu yang juga sangat indah.


"Dok, tolong periksa dia cepat!" seru Abraham pada saat pria itu melihat Sean sudah datang. Ia juga langsung saja berdiri dari duduknya karena tadi Abraham sempat duduk di bibir ranjang. Tempat Desta masih saja betah memejamkan mata tidak ada tanda-tanda bahwa wanita itu akan membuka mata. "Dokter Sean, ayolah! Periksa dia." Terdengar Abraham sekali lagi menyuruh Sean untuk memeriksa Desta.


"Aku membawanya kabur ketika dia akan dioperasi," jawab Abraham yang kemudian menceritakan semuanya pada dokter itu. Sehingga membuat Sean menjadi terkejut bukan main karena dokter itu tidak menyangka jika saja yang tadi malam itu Desta ceritakan adalah tentang wanita itu sendiri bukan orang lain. "Begitulah ceritanya, sekarang apakah wanita ini akan bisa membuka matanya?"


Sean sempat terdiam karena dokter itu mulai berpikir bahwa dosis obat yang disuntikkan pada Desta itu adalah obat dengan dosis yang sangat tinggi.


"Dok," panggil Abraham.


"Saya harus mengambil beberapa obat ke rumah sakit karena ini masalah yang cukup serius." Sean lalu terlihat ingin pergi.


Namun, Abraham malah menahan tangan dokter itu dikarenakan bahwa pria arogan itu tidak mau melihat Sean pergi.

__ADS_1


"Biarkan Arga saja yang mengambilnya, dan Dokter cukup diam saja di sini," ujar Abraham.


"Tapi Tuan, Arga tidak akan mungkin tahu obat apa yang saya butuhkan saat ini," balas Sean menimpali pria itu karena memang benar jika saja Arga tidak akan mungkin tahu dengan obat apa yang saat ini sedang laki-laki itu inginkan.


"Tuliskan nama-nama obat itu Dok, maka Arga akan sangat mudah dalam menemukannya." Abraham rupanya benar-benar tidak ingin melihat Sean pergi dari sana. "Ayo Dok, tulis sekarang." Pria itu kini terlihat memberikan pulpen pada Sean dan juga selembar kertas yang tadi Abraham ambil di dalam laci kecil.


Tangan Sean yang gemetaran terlihat meraih kertas serta pulpen itu. "Baik Tuan, kalau begitu sini saya tuliskan obat yang saya maksud tadi."


Abraham mengangguk sambil berkata, "Silahkan, Dok."


Sean lalu mencatat sesuai dengan obat yang dirinya butuhkan untuk memulihkan tubuh Desta yang membuatnya sampai gemetaran seperti saat ini. Tapi untung saja Abraham tidak menyadari itu semua sehingga membuat pria itu terlihat biasa saja. Dikarenakan saat ini Abraham lebih fokus pada Desta, wanita yang membuat pikirannya terkuras habis.


"Ini Tuan." Sean lalu memberikan kertas itu pada Abraham lagi setelah dokter itu menulisnya. "Saya harus mengambil infus di mobil dulu Tuan karena saya rasa Nona ini perlu di infus."


"Biar aku saja yang akan mengambilkannya untuk dokter," kata Abraham yang kemudian tanpa permisi malah berlari keluar dari kamar itu sambil membawa kertas yang tadi. Sebab ia ingin memberikannya pada Arga, sang tangan kanan yang akan mengambil beberapa obat sesuai dengan apa yang tadi Sean tuliskan. "Dokter pokoknya harus diam di sana!" seru Abraham yang sekarang terlihat malah menghilang di balik pintu kamar itu.


Setelah memastikan Abraham benar-benar sudah pergi. Kini Sean malah memeluk tubuh Desta dan meneteskan air mata tanpa suara.


"Kenapa kamu merahasikan semua ini dariku?" Lirih Sean bertanya pada wanita yang tidak sadarkan diri itu. "Kenapa, Desta?" Sean kini menjadi mengerti kenapa Desta tadi malam menangis sejadi-jadinya karena ini adalah alasan yang sebenarnya. "Desta kamu akan sembuh, aku pastikan itu semua. Kamu akan membuka mata dan akan melihat dunia lagi. Tidak akan aku biarkan kamu menderita seperti ini." Sean sekarang membelai rambut Desta dengan penuh kasih sayang.


***


Sedangkan Abraham sekarang terlihat sedang membuka mobil Sean yang kebetulan dokter itu tidak menguncinya.


"Ini cairan infusnya. Lalu dimana selangnya?" Pada saat Abraham terus saja mencari selang infuanya. Laki-laki itu malah menemukan foto Desta dan Sean yang sedang berduaan. "Apa ini?" Dahi pria itu langsung saja berkerut pada saat membalik foto itu, terlihatlah ada tulisan yang terukir dengan sangat indah yang bertuliskan Sean hanya milik Desta begitipaun Desta hanya milik Sean.

__ADS_1


Abraham langsung saja memahami segalanya. "Dokter Sean rupanya laki-laki yang diam-diam menaruh rasa pada Desta. Oh Tuhan, takdir macam apa ini?" Pria itu terlihat malah meremas foto itu karena dirinya merasa bahwa tidak boleh ada yang mencintai wanita itu selain dirinya sendiri. "Ini tidak bisa dibiarkan," gumamnya pelan sambil menutup pintu mobil itu dengan sedikit kasar setelah dirinya menemukan selang infus itu. Abraham kini lagi-lagi terlihat berlari demi melihat apa yang akan Sean lakukan dengan Desta di dalam sana saat dirinya sedang berada di halaman mansion ini seperti saat ini.


__ADS_2