
"Bawa si brengsek itu ke hadapanku saat ini juga!" terik Abraham setelah mendengar apa yang tadi Arga katakan. "Arga! Bawa dia serang juga!"
Arga yang mendengar Abraham setengah berteriak dengan cepat mengiyakan tuannya itu.
"Ba-baik Tuan, akan saya bawa laki-laki itu ke hadapan Anda." Arga pada akhirnya akan membawa Revan kehadapan Abraham. Sesuai dengan apa yang saat ini di perintahkan oleh tuannya itu. Meskipun sejujurnya Arga tidak tahu dimana keberadaan Revan.
"Jalan! Jangan hanya diam saja," kata Abraham pada saat pria arogan itu malah melihat Arga yang diam saja bukannya pergi.
"Tuan, ada kabar penting yang harus saya sampaikan juga kepada And–"
"Jangan sekarang!" potong Abraham dengan suara bassnya. "Karena aku ini masih mau fokus dulu mengurus masalah apa yang menimpa Adikku, tanpa harus mencampurnya dengan urusan lain." Memang benar saat ini Abraham masih mau fokus dulu dengan masalah Nadia, tanpa harus ada masalah lain yang akan masuk ke dalam pikirannya. Cukup baginya masalah sang adik sudah hampir membuatnya kehilangan akal sehatnya.
"Tapi ini menyangkut tentang Nona Desta," ucap Arga yang merasa bahwa dirinya harus memberitahu masalah Desta yang ginjal wanita itu akan diambil oleh Selena.
"Sudah kukatakan! Jangan menambah-nambah beban pikiranku, Arga. Apa kamu ini tidak tahu jika saja masalah Nadia ini sangat serius, sehingga membuat pikiranku ini tidak akan mungkin bisa bercabang kemana-mana bahkan terbagi-bagi." Abraham menghela nafas sesaat setelah pria itu menimpali tangan kanannya. "Aku minta stop bahas masalah Desta dulu karena ini bukan waktu yang tepat untuk kita membahas masalah wanita itu, dan untuk sekarang biarkan saja apapun yang terjadi dengannya kamu jangan ikut campur dulu. Sebelum masalah Nadia ini benar-benar belum selesai mengingat baru pertama kali aku mengalami hal seperti ini. Bahkan aku juga sama sekali tidak pernah membayangkan ini semua akan menimpa Adikku sendiri."
Arga langsung saja terdiam karena dirinya saat ini takut menjadi serba salah, padahal Abraham sudah pernah mengatakan pada dirinya bahwa ia harus tetap memantau apa saja hal yang akan terjadi pada Desta.
Namun, pada saat giliran Arga akan memberitahu pria organ itu. Abraham malah marah-marah tidak jelas seperti saat ini.
"Saya sangat berharap jika saja Tuan tidak akan memarahi saya, jika kabar yang akan saya sampaikan ini sedikit membuat Anda terkej–"
__ADS_1
"Cari laki-laki bedebah itu!" Lagi-lagi Darren motong kalimat Arga dengan suara yang meninggi. "Sekarang!" seru Abraham.
Arga yang tidak mau membuat suasana hati Abraham semakin tidak karuan dengan cepat laki-laki itu bergegas pergi dari sana hanya untuk mencari Revan.
***
Di klub malam terlihat Revan sedang meminum-minuman berakhol bersama wanita malam yang saat ini berada di ruangan VVIP.
"Tuan, apakah Anda mau nambah lagi? tanya si wanita kupu-kupu malam yang bernama Inez. Wanita yang bajunya saat ini sangatlah kekurangan bahan. Dapat dilihat dari segi manapun itu.
"Aku mau yang lain," kata Revan dengan bibir yang tersenyum tipis, karena di otak mesumnya dirinya harus memakai jasa Inez lagi untuk malam ini, hanya sekedar sebagai pemuas nafsunya saja. "Bagimana? Apa kamu setuju?" Revan mengelus p*ha wanita kupu-kupu malam itu.
"Tentu saja Tuan, apa Tuan mau di sini atau di kamar hotel?" Inez, wanita itu terlihat meraba-raba dada bidang Revan pada saat ia bertanya seperti itu saat ini.
"Di sini juga tidak apa-apa, setelah itu baru kita ke hotel," jawab Revan yang sekarang malah mere mas boba Inez. "Pokoknya kamu harus bisa memuaskanku untuk malam ini seperti malam-malam sebelumnya." Revan selain mere mas boba, kini laki-laki itu juga malah menggigit kecil pundak kupu-kupu malam itu. Sehingga membuat de sa han kecil keluar dari bibir seksi milik Inez, wanita malam yang jasanya tidaklah laki-laki iti ragukan lagi.
"Hotel saja Tuan karena jika di sini orang bisa melihat kita nanti, mengingat ruangan ini di penuhi dengan CCTV," ucap Inez disela-sela suara de sa hannya yang semakin menjadi-jadi karena sekarang Revan malah memainkan tangan di bawah pusar wanita si kupu-kupu malam itu. "Tuan, di hotel saja." Inez berbisik di telinga laki-laki mesum itu dengan cara sedikit memberikan gigitan kecil pada indera pendengaran Revan.
"Ayo Sayang, jika kamu mau kita pergi ke ho–" Kalimat Revan terputus karena Arga dan Opi datang, dimana saat ini dua tangan kanan Abraham itu malah menodongkan senjata api pada laki-laki mesum itu.
"Ikut dengan kami!" Suara Arga sangatlah lantang.
__ADS_1
"Kau wanita yang bajunya seperti saringan tahu, cepatlah menyingkir dari pangkuannya saay ini juga!" Opi dengan kasar menarik tangan Inez dan menghempaskan tubuh wanita itu ke lantai tanpa memiliki rasa kasihan sedikitpun pada si kupu-kupu malam itu. "Enyahlah, sebelum saya menemb4k dua balon udaramu!" Suara Opi rupanya tidak kalah tinggi dengan suara Arga tadi.
"Apa-apaan ini? Siapa kalian?" Revan bertanya setelah laki-laki itu terdiam, ia juga terlihat tidak berani bergrak gara-gara Arga masih saja menodongkan senjata api. "Saya rasa tidak mengenal kalian, dan setahu saya hutang pada rentenir tua bangka itu sudah lunas. Lalu untuk apa kalian mencariku lagi?" Revan saat ini malah salah paham, dimana ia mengira kalau Opi juga Arga adalah anak buah rentenir tempatnya dulu meminjam sejumlah uang.
"Ikut jangan banyak bicara! Dan kamu wanita seksi cepat keluar dari sini sebelum senjata api ini akan bersarang diotakmu yang mesum itu." Arga sekarang menatap sinis Inez, mesikupun saat ini laki-laki itu sangat takut jika matanya akan ternoda.
"Pergi!" bentak Opi yang melihat kode dari Arga yang menyuruhnya untuk mengusir wanita kupu-kupu malam itu.
"Ba-baik Tu-tuan." Inez dengan kaki yang telemor dan suara terbata-bata segera pargi dari sana membiarkan Revan bersama dua laki-laki yang dirinya tidak kenal sama sekali. Inez juga terlihat malah pipis di celana d4lamnya gara-gara dirinya diancam seperti itu oleh Arga tadi.
"Hei, kenapa kalian malah mengusir wanitaku, bukankah sudah kukatakan kalau aku ini sudah tidak ada urusan lagi dengan kalian, bedabah!" Revan kesal bukan main karena lawan mainnya malah pergi begitu saja disaat adik kecilnya sudah meronta-ronta dari tadi meminta untuk segera di keluarkan dari sangkarnya.
"Banyak bac*t!" Arga yang sudah terlanjur kesal malah memu kul tengkuk Revan sehingga membuat laki-laki itu langsung saja jatuh tersungkur karena pingsangan. "Opet, seret dia karena laki-laki biadab ini pantas di bawa ke parkiran dengan cara diseret!" kata Arga ketus pada saat Revan sudah berhasil ia buat tidak sadarkan diri.
Opi yang mendengar itu mengangguk sambil bertanya, "Tuan Ar, di tempat ini bukankah banyak cctv. Lalu kenapa Anda malah menyuruh saya membawanya dengan cara diseret, padahal saya masih sanggup untuk membawanya di atas pundak saya." Opi malah terlihat memperlihatkan ototnya pada Arga. "Bagimana Tuan, apa saya gendong dia saja?"
Arga yang tidak terima jika Opi akan menggendong laki-laki brengsek seperti Revan dengan cepat menggeleng kuat.
"Jika saya bilang serat, ya seret dodol!" Arga menjawab dengan memberikan contoh pada Opi, bagimana seharusnya tangan kanannya itu menyeret tubuh Revan. "Begini!" Arga dengan santai menyeret laki-laki yang sedang pingsan itu.
Opi sungguh terheran-heran melihat Arga yang memang benar-benar menyeret Revan. "Tuan, bagimana jika ada yang melihat Anda seperti ini? Nanti mereka malah akan berpikiran buruk pada Anda."
__ADS_1
Arga tidak menyahut, tangan kanan Abraham itu malah semakin cepat menyeret Revan.