
Keesokan paginya terlihat Abraham sudah datang lagi ke rumah sakit karena pria arogan itu pada hari ini akan membawa adiknya untuk pulang. Mengingat beberapa jam yang lalu Jesika, sang dokter yang sudah menangani wanita hamil itu memberitahu Abraham kalau saja Nadia sudah bisa pulang.
"Tuan, rupanya Revan tadi malam tidak pulang," kata Arga yang tahu jika saja laki-laki mesum itu tadi malam tidak pulang.
"Bukankah tadi malam kamu sudah memberitahuku. Lalu sekarang kenapa malah kamu ulangi lagi kalimat basimu itu?" Abraham bertanya seraya melangkahkan kakinya dengan sangat lebar karena pria arogan itu merasa bahwa dirinya harus segera sampai di ruang rawat inap Nadia. Mengingat hari ini ada meeting membuatnya juga tidak akan mungkin bisa berlama-lama di rumah sakit itu.
"Saya sengaja memberitahu Anda lagi Tuan, supaya Anda tidak lupa," jawab Arga dengan penuh percaya diri karena sebenarnya yang telah terjadi dirinya lupa bahwa tadi malam sudah memberitahu tuannya itu.
"Alasan saja kamu, bilang saja kamu lupa. Dasar belum tua sudah pikun saja kamu ini," ucap Abraham yang tiba-tiba saja melihat seorang wanita yang sangat ia kenal sedang didorong oleh beberapa perawat menggunakan brankar.
"Bukankah itu Nona Des–" Belum selesai kalimat Arga yang ternyata juga rupanya melihat wanita itu sedang terbaring tidak sadarkan diri di atas brankar.
"Ikuti mereka dan lakukan apapun untuk mengambilnya dari wanita yang sangat menjijikkan itu!" perintah Abraham yang sepertinya tahu kalau saja Selena akan menjalankan misinya hari ini. Sehingga membuat pria itu menjadi sedikit merasa panik karena dirinya tidak mau jika ginjal Desta akan diambil. "Ikuti! Jangan malah melongo." Abraham menginjak kaki tangan kanannya yang memang sedang tercengang sebab Arga merasa jika hari ini pekerjaannya akan double.
"Tapi Tuan, saya harus mengurus acara resepsi Nona Nadia. Mana mungkin saya akan bisa mengambil Nona Desta juga dengan secepat itu mengingat orang-orang yang berperan dalam hal ini sangatlah luar biasa sekali. Membuat saya harus menyusun strategi dulu sebelum melakukan sesuatu hal ataupun tindakan apapun itu, termasuk apa yang Anda suruh saat ini pada saya Tuan," kata Arga panjang kali lebar karena memang benar apa yang saat ini laki-laki itu katakan memang benar apa adanya. Bahwa dirinya tidak perlu gegabah dalam mengambil keputusan. Meskipun itu yang memintanya adalah Abraham sendiri.
"Jangan banyak bicara, sekarang kamu lebih baik pergi! Biarkan Opet yang akan mengurus semuanya. Sedangkan kamu urus Desta sebelum semuanya terlambat." Rupanya keputusan Abraham tidak bisa diganggu gugat meskipun Arga tadi sudah mengatakan semuanya.
"Tuan yang benar saja mau menyerahkan semuanya pada Opet, jangan mengada-ngada karena jika dia yang akan mengurusnya maka semua tidak akan berjalan dengan apa yang Anda inginkan. Justru akan hancur lebur rencana Tuan yang pernah kita susun sejak jauh-jauh hari." Arga ternyata sangat tidak setuju dengan apa yang Abraham tadi katakan.
"Apapun hasilnya kamu tidak perlu ikut campur. Biarkan itu semua menjadi urusanku sendiri. Opet juga pasti akan melakukan hal terbaik sesuai dengan apa yang aku perintahkan, arahkan, dan tunjukkan untuk anak buahmu itu." Abraham begitu percaya jika saja Opet akan mampu menjalankan semuanya.
"Tapi Tuan ...." Arga menjeda kalimatnya.
"Tidak ada kata tapi sekarang lakukan tugasmu!" Abraham lalu pergi meninggalkan Arga meskipun tangan kanannya itu terdengar masih saja tidak setuju dengan apa yang tadi Abraham katakan.
"Tuan Abra, kenapa tidak Opet saja yang Anda suruh untuk menyelamatkan Nona Desta bukan aku ini?" Arga merasa bahwa Abraham sekarang lebih memihak pada Opi. "Tuan Abra," panggil Arga sekali lagi.
"Jika Opet yang akan menyelamatkan Desta maka kamu sendiri juga akan dalam masalah bodoh!" seru Abraham yang sekarang menghentikan langkah kakinya, pria itu juga terlihat langsung saja menoleh. "Dia itu anaknya agak rada-rada. Jadi, jalankan saja kalimat panjang lebar yang aku katakan tadi. Tanpa ada kata protes yang keluar dari mulutmu Arga," sambung Abraham.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan meeting? Apa Anda akan sendiri pergi ke meja bundar yang berwarna hijau itu, tanpa ada saya yang akan mendampingi Anda?" tanya Arga sebelum Abraham benar-benar pergi dari sana. "Tuan tolong jawab saya."
"Aku bisa sendiri Arga. Jadi, sekali lagi aku katakan bahwa kamu itu tidak perlu mencemaskan aku karena aku bisa mengatasinya sendiri tanpa ada kamu di ruang meeting nanti, dan kamu fokus saja pada apa yang aku perintahkan," jawab Abraham begitu tenang meskipun dirinya tidak yakin jika saja ia akan bisa meeting tanpa Arga.
"Baiklah, jika keputusan Anda tidak bisa diganggu gugat maka ... saya akan terima apapun yang Anda tadi perintahkan. Jangan lupa, doakan saya Taun supaya bisa menyelamatkan Nona Desta tanpa ada drama saya yang akan gagal." Pada akhirnya kalimat pasrah itu keluar dari dalam mulut Arga. "Kalau begitu saya permisi dulu Tuan Abra."
"Oke, deal!" Abraham lalu kembali lagi melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana setelah mendengar Arga yang tidak protes lagi pada dirinya. "Semoga kamu berhasil, jangan sampai gagal." Pria arogan itu sempat mengangkat tangannya menandakan bahwa dirinya memberikan semangat pada asistennya itu pada saat ini.
"Sampai bertemu lagi." Lirih Arga sendu sambil berbalik dan melangkahkan kakinya dengan gontai.
***
Setiba di ruangan Nadia Abraham langsung saja terdengar menyapa sang adik. Pria itu juga berusaha untuk tetap terlihat biasa saja meskipun bayangan adegan tadi malam itu masih saja terekam dengan sangat jelas di dalam memori ingatan Abraham.
"Selamat pagi Adik, yang sangat Kakak sayangi," sapa Abraham dengan bibir yang tersenyum simpul.
"Kak Abra." Mata Nadia berbinar-binar bahagia. Wanita hamil itu juga terdengar langsung saja memperkenalkan Revan yang ternyata laki-laki itu memang benar apa adanya malah bermalam di sana bersama dengan Nadia. "Kak, kenalin ini Revan calon suamiku." Wanita itu menunduk malu pada saat dirinya memperkenalkan Revan.
"Van, ayo lamar aku di depan Kak Abra." Nadia malah terdengar menyuruh Revan untuk melamarnya di hadapan sang kakak dan malah mengabaikan pertanyaan Abraham.
Revan yang lengannya terus saja di goyang-goyangkan oleh Nadia langsung saja mencoba mengatur nafas disertai detak jantungnya yang tidak beraturan. Sebab jika dirinya berada didekat pria arogan itu entah mengapa bulu kuduknya selalu saja berdiri. Bahkan Revan seperti melihat pencabut nyawa saat tatapan tajam nerta Abraham padanya.
"Hm, apa ini Kak Abra yang sering kamu ceritakan ke aku itu?" tanya Revan yang juga rupanya harus berpura-pura tidak tahu dengan siapa itu Abraham saat ini.
"Iya ini Kak Abra. Sekarang ayo katakan kalau kamu ini mau melamarku." Nadia terus saja mengguncang-guncangkan tangan Revan.
"Oke Sayang, aku akan melamarmu di depan Kak Abra saat ini juga." Revan lalu dengan lantang mengucapkan kata jika dirinya ingin meminang Nadia. Menjadikan wanita itu menjadi wanita satu-satunya di dalam hidupnya, sekarang, nanti, dan selamanya. Meskipun ini hanya kata keterpaksaan saja.
"Kak Abra, aku Revan Pratama dengan ini mengatakan kalau aku ingin melamar Nadia. Apakah Kak Abra menerima lamaranku ini?" Dengan perasaan yang was-was Revan bertanya seperti itu pada Abraham karena meskipun dirinya sudah tahu jawabannya dari pria arogan itu Revan tetap saja merasa sedikit deg-degan.
__ADS_1
"Apakah kamu tulus mencintai Adikku?" Abraham bertanya balik pada Revan.
"Tentu saja kak Abra, mana mungkin aku akan berani melamar Nadia jika aku ini tidak mencintai adik kesayangan kak Abra," jawab Revan dengan suara yang sedikit gugup.
"Baiklah, kalau memang begitu, maka aku akan menerima lamaranmu itu," timpal Abraham mantap tanpa perlu menanyakan dari mana asal-usul Revan karena baginya itu semua tidak perlu. "Jika kalian berdua memang saling mencintai maka tidak ada yang bisa aku lakukan," sambung Abraham sambil bergantian menatap Nadia dan Revan.
"Terima kasih karena kak Abra sudah mau menerima lamaranku," kata Revan yang sekarang berjabat tangan dengan Abraham sambil terlihat langsung saja memeluk pria arogan itu. "Terima kasih sekali lagi kak Abra." Revan mengulangi kalimatnya.
"Ingat, di dalam tubuhmu ada chips," gumam Abraham pelan yang saat ini terdengar berbisik di telinga Revan. "Kamu harus tetap ingat, supaya kamu itu tidak akan macam-macam," sambung Abraham menepuk-nepuk pundak Revan.
Sedangkan Nadia yang melihat itu semua merasa sangat senang karena rupanya Abraham menerima Revan dengan tangan yang terbuka.
"Syukurlah, Kak Abra tidak akan tahu jika aku ini sedang hamil karena Revan melamarku di waktu yang tepat. Sehingga membuatku tidak perlu takut lagi," gumam Nadia membatin sambil terus saja tersenyum.
***
Jika Abraham, Revan dan Nadia saat ini sedang ngobrol-ngobrol beda halnya dengan Arga yang terus saja mencari cara supaya dirinya bisa membawa Desta pergi dari rumah sakit itu. Ditambah tadi ia mendengar jika saja operasi akan segera berlangsung beberapa menit lagi.
"Waduh, gawat ini jika aku gagal maka Tuan Abra pasti akan memeng gal kepalaku langsung," kata Arga pelan. Sambil terus saja memperhatikan gerak gerik Roy dan Selena yang saat ini sedang membicarakan Desta.
"Semua sudah siap, kita hanya tinggal menunggu salah satu suster yang akan membawakan stok darah untuk berjaga-jaga saja," ucap Roy yang saat ini tidak menyadari bahwa Arga mendengarnya.
"Lebih cepat lebih baik, supaya putriku itu sembuh, Roy. Jangan malah menunda-nundanya terus seperti ini." Selena terdengar meminta Roy untuk melakukan operasi itu secepat mungkin. Berharap supaya semuanya cepat selesai.
"Anda tenang saja Nona, semua akan berjalan dengan apa yang Anda inginkan. Jadi, jangan berpikiran yang tidak-tidak seperti waktu itu." Roy berusaha untuk menghibur hati Selena karena rupanya dokter itu diam-diam memiliki perasaan pada wanita paruh baya itu. Entah karena Selena kaya atau memang benar-benar tertarik murni dari dalam lubuk hatinya hanya dokter itu saja yang tahu.
"Huh." Terdengar Selana menghela nafas. "Aku serahkan semuanya padamu karena aku yakin kamu juga pasti menginginkan yang terbaik untuk Elsa."
"Percaya pada saya." Roy sekarang memegang telapak tangan Selena. "Aku akan bertanggung jawab penuh dengan semua ini," sambung dokter itu saat menatap wajah wanita paruh baya itu. Roy juga tiba-tiba saja malah mengelus pipi Selena.
__ADS_1
"Roy, jaga batasanmu!" bentak Selena yang sekarang malah menepis lengan dokter itu. "Ingat umur kita itu sangat jauh berbeda."
"Tidak masalah," timpal Roy sebelum laki-laki itu berbicara hal yang serius pada Selena.