
Di mansion tepatnya di ruang bawah tanah. Tepat pu kul sebelas malam pada akhirnya Revan menyerah dan ingin mempertanggung jawabkan apa yang telah laki-laki itu lakukan karena Revan saat ini merasa jika saja dirinya masih ingin hidup lebih lama lagi. Sehingga membuatnya terpaksa harus mengikuti apa yang Abraham inginkan.
"Saya akan menikah dengan Nadia karena saya tidak mau mati konyol di sini," kata Revan dengan keadaan laki-laki itu yang sangat lemah karena ia terus-terusan di siksa oleh Abraham. "Saya benar-benar akan mempertanggung jawabkan apa yang telah saya lakukan. Saya mengaku salah ... saya juga merasa sangat menyesal." Revan yang takut Abraham akan memu kulinya lagi malah berkata seperti itu berulang-ulang kali dan tentu saja itu semua atas perintah Abraham.
"Bagus!" Abraham bertepuk tangan karena ia sudah benar-benar berhasil membuat Revan, laki-laki biadab itu akan mempertanggung jawabkan semuanya. "Jika kamu sewaktu-waktu malam akan meninggalkan Nadia, maka chips yang tadi sempat aku tanam pada lenganmu itu akan menghancurkan tubuhmu sampai hancur berkeping-keping karena itu ... adalah bom yang berbentuk sebuah chips." Abraham memang menanam chip pada lengan Revan, dimana chips itu adalah bom yang bisa menghancurkan tubuh siapa saja yang telah ditanami chips bom itu.
"Sekarang aku minta kamu datang ke rumah sakit dan minta maaf pada Nadia, setelah itu kamu boleh mulai bicara dari hati ke hati tentang rencana pernikahanmu dengan Adik semata wayangku itu," kata Abraham yang mulai membuka ikatan pada tangan Revan satu persatu. "Nyawamu sekarang tergantung pada dirimu sendiri. Jadi, kamu tidak akan bisa melakukan apapun lagi. Kamu juga tidak akan macam-macam. Aku juga minta segera akhiri hubunganmu dengan pacarmu itu karena aku tidak mau jika saja Nadia tahu bahwa Adikku itu menikah dengan laki-laki yang hasil rampasan. Aku sungguh tidak mau hal itu terjadi."
"Baik, akan saya lakukan," balas Revan dengan suara yang serak di tambah pengelihatannya malah menjadi buram bekas Abraham yang menghantam wajahnya dengan lutut pria arogan itu beberapa kali bahkan berulang-ulang kali. Sehingga membuat Revan merasa kalau bola matanya mungkin saja rusak. "Saya akan patuh dengan Anda Tuan Abra, pegang kata-kata saya ini."
Abraham hanya bisa mengangguk dan sekarang dirinya malah terlihat menyuntikkan cairan berwarna merah ke tubuh Revan.
"Akkhh, jangan Tuan, saya mohon ...." Revan merasa takut pada saat melihat jarum suntik yang Abraham pegang saat ini. "Tuan, saya mohon jangan lakukan apapun pada saya."
Tangan Revan yang menghalangi Abraham untuk menyuntikkan jarum itu segara pria arogan itu menepisnya.
__ADS_1
"Ini adalah cairan vitamin yang akan membuat tubuhmu menjadi fit, bukan malah racun yang akan membuatmu mati." Abraham lalu segera membawa Revan untuk keluar dari ruang bawah tanah itu, karena saat ini tujuannya adalah rumah sakit. Tidak peduli meskipun sekarang sudah pu kul sebelas malam lewat tiga puluh menit.
Revan terdiam pada saat mendengar apa yang tadi Abraham katakan, rupanya dirinya salah yang malah mengira cairan itu adalah racun bahkan tadi laki-laki itu sempat berpikiran kalau itu adalah bisa ular yang sangat mematikan.
"Sekarang ayo jalan keluar dari sini sebelum aku berubah pikiran," ucap Abraham yang merasa jika saja vitamin yang tadi disuntikkan pada lengan Revan mungkin saja sudah beraksi. "Aku bilang jalan! Jangan malah diam saja!" bentak Abraham yang rupanya kesabaran laki-laki itu hanya setipis tisu saja.
"Ba-baik Tuan." Revan langsung saja melangkahkan kakinya untuk berjalan karena di matanya saat ini Abraham memang pria yang sangat mengerikan.
🍂🍂
"Masuk, dan jangan katakan apapun selain kalimat yang sudah Arga ajarkan untukmu tadi ketika kita ada di dalam mobil." Abraham sempat berbisik di indera pendengaran Revan. "Kamu juga harus ingat tangang cpis itu." Pria arogan itu malah menepuk-nepuk lengan Revan yang sudah ditanami chips yang tadi Abraham maksud.
Revan hanya bisa mengangguk dan segera memegang gagang pintu lalu ia memutarnya pada saat itu juga pintu ruang rawat inap Nadia mulai terbuka. Sehingga membuat Revan pada detik itu juga dirinya bisa melihat Nadia yang sedang bersandar pada tembok rumah sakit itu.
"Sayang ...," panggilan sayang sebagai kalimat sapaan yang terlontar dari mulut Revan.
__ADS_1
"Revan." Nadia langsung saja semurigah pada saat ia melihat ayah dari bayi yang saat ini sedang ia kandung. "Sedang apa kamu disini, Van?" Nadia sekarang malah terdengar bertanya pada laki-laki yang katanya tidak mau bertanggung jawab itu.
"Aku datang kesini mau menjenguk Ibu dari calon anak-anakku, apa tidak boleh?" Revan terlihat mendekat ke arah bed Nadia. "Jawab aku Sayang, jangan malah diam saja." Rasanya Revan sangat muat jika dirinya harus berpura-pura baik seperti ini pada Nadia.
Namun, demi nyawanya akan Revan lakukan apapun itu. Termasuk berpura-pura baik dengan wanita hamil itu saat ini.
"Van, kamu tidak sedang membohongiku 'kan? Dengan sikap manismu ini karena kemarin kamu malah memintaku untuk menggugurkan bayi yang tidak berdo–"
"Sstttt …." Revan dengan cepat memotong kalimat Nadia padahal kalimat wanita hamil itu belum selesai. "Aku juga datang kesini untuk meminta maaf dengan apa yang telah aku katakan kemarin. Maukah kamu memaafkan laki-laki yang sangat tidak tahu diri ini?"
Nadia langsung saja bangun dari tidurnya, ia juga tanpa aba-aba memeluk tubuh Revan dengan sangat erat.
"Van, katakan bahwa aku saat ini sedang tidak bermimpi. Ayo Van katakan padaku," ucap Nadia.
"Tidak mimpi Sayang, ini semua kenyataan," timpal laki-laki itu.
__ADS_1