Dendam (Abraham)

Dendam (Abraham)
BAB 45


__ADS_3

"Makanya nikah biar nggak ngerepotin orang lain seperti ini," celetuk Desta pada saat wanita itu saat ini sedang menyiapkan air hangat untuk Abraham. "Karena sebenarnya yang begini-begini ini adalah tugas istri bukan babu kayak aku," sambung Desta yang terus saja membahas tentang istri dengan Abraham.


"Kerjakan saja Desta, apa sebenarnya kamu itu mau aku nikahi?" Abraham malah keceplosan malah mengatakan itu pada Desta. "Kenapa diam? Apa memang benar begitu maumu?"


Desta yang mendengar itu malah menunjukkan cincin pertunangannya dengan Revan meskipun sebenarnya dirinya belum resmi bertunangan dengan laki-laki yang saat ini sudah babak belur di buat oleh Abraham itu.


"Maaf Tuan Abra, aku ini sudah bertunangan dan itu artinya tidak akan mungkin menikah dengan Tuan arogan yang sangatlah sombong." Desta menjawab pria itu dengan mimik masam. "Enak aja bicara seenaknya. Apa jangan-jangan tidak ada yang mau denganmu karena wajahmu itu sangat galak?"


"Minggir, aku mau mandi." Abraham malah menarik baju Desta supaya laki-laki itu keluar dari kamar mandinya. "Kamu hanya akan membuang-buang waktuku saja. Padahal saat ini aku sangat lapar." Setelah berhasil mengeluarkan Desta dari dalam kamar mandinya, Abraham malah langsung saja menutup pintu itu sekarang dengan sangat kasar.


Bruk!!


"Astaga, dia benar-benar siluman jelmaan manusia," kata Desta sambil terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya, yang sekarang malah berjalan ke arah lemari milik si pria arogan karena wanita itu mau mengambilkan baju ganti untuk Abraham. "Semoga saja calon istrinya benar-benar sabar akan menghadapi sikapnya yang seperti ini," sambung Desta yang terus saja mengatakan itu setiap kali Abraham membuatnya kesal.


"Ambilkan aku handuk!" seru Abraham pada saat Desta baru saja hampir akan sampai ke lemari. "Desta, aku tahu kamu masih ada di dalam kamar ini maka aku minta tolong ambilkan aku handuk!" Suara Abraham semakin terdengar melengking pada saat pria itu meminta Desta untuk mengambilkannya handuk.


"Ogah," celetuk Desta pada saat dirinya menimpali Abraham dengan nada suara yang sedikit pelan karena dirinya takut jika saja pria arogan itu malah akan mendengarnya nanti. "Dia pikir aku akan mau di suruh-suruh olehnya. Tidak semudah itu," gumam Desta yang saat ini seolah-olah dirinya pura-pura tidak mendengar apa yang Abraham minta.


"Desta!" Abraham setengah berteriak pada saat dirinya memanggil wanita itu. "Des ... Desta!"


"Iya ...!" Desta terlihat bergegas mengambilkan handuk untuk Abraham.

__ADS_1


***


Setelah drama Abraham yang teriak-teriak memanggil nama Desta, kini pria arogan itu terlihat sudah mulai duduk di kursi sebelah meja makan karena dirinya mau makan siang.


"Duduk, ngapain kamu malah berdiri terus disana?" Abraham malah terdengar menyuruh Desta untuk duduk. "Desta, duduk!" perintah pria arogan itu sekali lagi.


"Aku tidak lapar. Jadi, untuk apa aku ini harus duduk di sana?" Desta menaikan satu alisnya.


Abraham meletakkan sendok yang tadi sempat laki-laki itu pegang. "Aku ini memintamu untuk duduk saja bukan malah mau menyuruhmu makan, dasar wanita yang sangar GR sekali." Abraham lalu menarik satu kursi untuk Desta. "Ayo duduk karena nanti jika aku keracunan memakan rendang ini, maka kamu bisa melihatku langsung lemas tidak berdaya disini." Abraham rupanya masih saja berpikiran kalau masakan Desta ada racunnya.


"Ya sudah, jangan dimakan karena ini ada racunnya mending aku bawa pulang saja." Desta malah mengambil wadah yang ada rendangnya. "Tuan Abra bisa makan pakai lauk yang Bi Ayu masak saja, untuk rendang ini biar aku yang akan membawanya pulang. Biar aku saja yang keracunan."


"Lah, bukannya tadi kamu tidak mau memakannya karena takut keracunan, kenapa sekarang malah menjadi berubah pikiran?" Desta melotot saat menatap Abraham. "Hayo, kalimat apalagi yang akan kamu lontarkan untuk membalas kalimatku?"


"Diam! Aku mau makan. Jadi, kamu tutup saja mulutmu yang sangat cerewet itu." Setelah mengatakan itu Abraham langsung saja menuangkan rendang itu pada piring yang sudah berisi sedikit nasi. "Aku makan, semoga apa yang aku makan ini tidak ada racun. Dan rendang ini akan membuat perutku kenyang." Pria itu sempat berdoa sebelum memasukkan nasi beserta rendang itu ke dalam mulutnya.


Desta yang melihat Abraham mengunyah rendang itu malah menelan ludah karena tiba-tiba saja perut wanita itu malah menjadi lapar.


"Bagaimana enak?" tanya Desta yang ingin mendengar apa komentar Abraham tentang masakannya.


"Lumayan," jawab Abraham sambil terlihat malah kembali lagi menyendok rendang itu.

__ADS_1


Desta yang mendengar jawaban dari Abraham malah mendesis sambil berkata, "Lumayan, tidak niatkah memberikan komentar yang dapat membuat moodku menjadi bagus. Ini malah dengan kata lumayan saja." Desta yang tadi sudah duduk kini malah terlihat berdiri lagi. "Aku harus pulang karena ada pemotretan sore nanti." Terdengar sekarang Desta malah perpamitan pulang pada Abraham. Ia juga berharap jika saja pria itu mengizinkannya.


"Pulang saja, ini bonus untuk masakan rendangmu. Kira-kira kamu belajar masak rendang dari mana?" Abraham malah menanyakan tentang Desta yang belajar memasak rendang itu dimana.


"Ibuku!" jawab Desta lantang.


Pada detik itu juga Abraham malah langsung saja berhenti mengunyah rendang itu. Bukan cuma itu saja pria arogan itu malah berlari ke wastafel hanya untuk memuntahkan rendang yang tadi masih dikunyah.


"Ini rupanya adalah resep masakan dari wanita yang sangat aku benci itu," gumam Abraham membatin.


Sedangkan Desta yang melihat itu semua malah menjadi panik sendiri. Dimana ia mengira jika saja Abraham malah tersedak dengan rendang yang ia masak saat ini juga.


"Tuan kenapa? tanya Desta yang semakin panik. "Tuan Abra," panggil Desta.


"Kamu pulanglah, jangan malah diam saja disini." Abraham menunjuk ke arah pintu utama sambil terus saja menyuruh Desta untuk pulang. "Pulang!"


Desta yang mendengar itu bergegas mengambil tas yang ada di atas meja itu, tidak lupa juga Desta mengambil kunci mobilnya karena dirinya merasa bahwa kupingnya sudah merasa sangat panas, mendengar suara Abraham yang selalu saja meninggi pada saat pria arogan itu bicara padanya.


"Mulutku memang saudaranya bon cabai sehingga suaramu tidak bisa halus manis sedikit saja padaku. Padahal niatku baik, dimana aku hanya ingin tahu kamu itu kenapa. Eh, tapi suaramu malah meninggi," ucap Desta yang sekarang terlihat pergi dari mansion itu.


Abraham hanya bisa diam saja pada saat dirinya mendengar apa yang tadi Desta katakan pada dirinya.

__ADS_1


__ADS_2