Dendam (Abraham)

Dendam (Abraham)
BAB 54


__ADS_3

Plak ...!


Plak ...!


Dua tamparan terdengar sangat nyaring sekali karena rupanya Selena sudah tahu tentang Desta yang menghilang dari ruang operasi itu.


"Kenapa kamu tidak becus Rico? Sekarang harus kemana kita akan mencari anak itu? Bisa-bisanya kamu malah teledor seperti ini." Raut wajah wanita paruh baya itu terlihat merah padam menandakan dirinya sangat marah pada tangan kanannya sendiri.


"Aku tidak mau tahu, pokoknya kamu harus mencari Desta sampai ketemu tidak peduli kamu akan mencarinya sampai ke ujung dunia sekalipun!" Selena terlihat akan melayangkan tamparan lagi pada Desta, tetapi Roy yang baru saja datang langsung saja menghalangi tangan wanita paruh baya itu.


"Tenangkan diri Anda Nyonya," kata Roy lembut. "Kita lebih baik sekarang mengecek CCTV saja supaya kita ini tahu pergi kemana Nona Desta. Anda malah jangan marah-marah terus dengan Rico karena kasihan. Dia juga saat ini tidak tahu apa-apa."


"Diam, kamu Roy!" bentak Selena dengan nafas yang saat ini naik turun. "Apa kalian berdua mau bertanggung jawab jika putriku Elsa akan kenapa-kenapa? Jika saja anak sialan itu tidak ditemukan. Pasti jawaban kalian tidak akan sanggup!" Kini wanita paruh baya itu terlihat menatap ke arah ruang operasi dimana Elsa masih terbaring lemah.


"Nyonya, harus berapa kali saya bilang kalau Anda ini harus tenangkan diri dulu. Supaya kita bisa mencari solusinya, jangan malah memperkeruh suasana seperti ini," ujar Roy yang menatap bola mata Selena.


"Kalian berdualah yang telah memperkeruh suasana. Brengsek!" Selena menatap Roy dan Rico secara bergantian. "Karena kalian berdua tidak pernah becus!" Tunjuk wanita itu pada wajah Rico lalu wajah Sean juga.


"Saya janji akan mencarinya sampai dapat, dan sekarang ayo kita cek CCTV seperti apa yang tadi Dokter Roy katakan, Nyonya," ujar Rico membuka suara.


"Dasar kalian memang sangat kurang ajar!" Selena menghentak-hentakan kakinya, lalu setelah itu Selena terlihat melangkahkan kakinya untuk segera pergi dari sana karena saat ini ia mau pergi ke ruangan tempat pemantauan CCTV di rumah sakit itu.


"Nyonya tunggu saya!" seru Roy.


"Kita kejar saja Nyonya Selena karena jika dalam keadaan begini beliau tidak akan mungkin mau menunggu kita." Rico berbisik pada dokter yang merasa bahwa getaran halus malah menembus relung hatinya itu pada saat ini.


"Kamu benar juga," timpal Roy yang semakin mempercepat langkah kakinya untuk berlari. "Ayo kita harus cepat."


Rico mengangguk dengan kuat. "Langkah kaki Nyonya Selena sangat cepat sekali sehingga kita tidak akan mungkin bisa menyeimbanginya," celetuk Rico.

__ADS_1


"Kamu benar juga, tapi kamu tenang saja tujuan Nyonya Selena pasti ke ruang pantau CCTV," ucap Roy yakin. Sebelum dokter itu melihat Selena benar-benar menuju ke ruangan tadi yang ia katakan itu. "Nah, kan, benar apa adanya bahwa Nyonya Selena masuk ke ruangan itu," sambung Roy.


***


Brak!


Selena yang tidak bisa menemukan bukti apapun melalui kamera pengintai itu dengan sangat marah malah mendobrak meja itu dengan kedua tangannya.


"Benar-benar sangat kurang ajar sekali!" teriak wanita paruh baya itu. "Apakah ini sebuah rencana yang tidak aku tahu?" Selena menatap Rico, sang tangan kanan yang Saat ini juga sedang menatap dirinya. Selena juga merasa bahwa Rico lah yang harus bertanggung jawab dalam hal ini. "Ini semua terjadi gara-gara kamu! Jika saja kamu tidak lali maka ini semua pasti tidak akan terjadi!" Selena sekarang malah mengulang kalimatnya yang tadi ketika dirinya sedang berada di ruangan Elsa.


"Ini benar-benar diluar dugaan!" teriak wanita paruh baya itu lagi yang sekarang malah memukul-mukul layar yang ada di depannya. "Rumah sakit sialan, kenapa malah rekaman CCTVnya tidak bisa menampilkan rekekaman yang sedang aku cari, kenapa?"


"Nyonya tenanglah." Roy memegang pundak Selena dari arah belakang.


"Jangan pegang-pegang." Selena malah menepisnya langsung. "Bisa-bisanya Dokter menyuruhku tenang di saat keadaan seperti ini. Dimana otakmu itu, hah?" Melotot, itu yang Selena lakukan pada saat ia mengatakan itu pada Roy.


Sedangkan Rico hanya bisa diam saja karena laki-laki itu juga sedang merasa heran kalau rekaman CCTV itu malah tidak menampilkan apapun. Padahal laki-laki itu sangat berharap jika saja ada petunjuk di rekaman CCTV itu. Tetapi sangat di luar dugaan membuat Rico merasa bahkan berpikiran bahwa ada yang memang sengaja menculik Desta dari rumah sakit itu.


"Jangan berpikiran yang terlalu berlebihan Nyonya karena itu tidak baik untuk kesehatan Anda, sekarang yang perlu Anda lakukan tenangkan diri Anda demi menjaga jantung Anda," ucap dokter itu yang malah mengingatkan Selena.


"Berhenti basa-basi, jika Dokter tidak mau aku sakit maka cari Desta sampai dapat. Bila perlu sewa beberapa orang yang bisa menemukan orang yang hilang." Selena rupanya benar-benar tidak akan tinggal diam. Dimana ia akan melakukan berbagai cara untuk menemukan keberadaan Desta. "Huh, aku muak melihat rekaman CCTV yang sangat bodoh ini!" Wanita paruh baya itu lalu pergi dari sana karena ia ingin melihat Elsa.


"Dok, tolong kejar Nyonya Selena karena saya harus mencari Nona Desta dulu sampai ketemu," ujar Rico.


"Baik, kamu hati-hati dan nanti saya juga akan berusaha untuk mencari Nona Desta," timpal dokter itu sambil terlihat malah mengejar Selena lagi. "Nanti kalau ada kabar baik jangan lupa langsung kabarin saya!" seru Roy setengah berteriak pada saat melihat Rico yang juga terlihat berjalan menuju ke arah parkiran.


"Tentu, Dokter tenang saja karena saya akan menghubungi Anda jika ada kabar baik!" sahut Rico dengan suara yang juga setengah berteriak. Sebab punggung dokter itu juga sudah terlihat sangat jauh.


"Akan aku emukan Nona Desta," gumam Rico membatin karena ia sangat yakin dirinya akan dengan sangat mudah menemukan Desta. "Aku juga sepertinya harus menyewa seorang yang jago dalam hal IT supaya bisa menemukan petunjuk, petunjuk yang bisa membawakan aku untuk menemukan keberadaan Nona Desta yang sekarang entah ada di mana," sambung Rico.

__ADS_1


***


Kembali ke mansion terlihat Sean langsung saja mengusap air matanya ketika dirinya mendengar suara langkah kaki yang saat ini mungkin saja akan masuk ke kamar itu. Sean juga langsung saja membenarkan posisi duduknya, bukan cuma itu saja dokter itu kini juga segera memperbaiki selimut Desta.


"Dok, ini infusnya." Terdengar suara Abraham tepat ketika Sean sedang mengecek denyut nadi wanita itu lagi.


"Terima kasih Tuan karena Anda sudah mengambilkan infus ini untuk saya." Sean langsung saja menoleh pada saat Abraham sekarang berjalan ke arah dirinya. "Tunggu Arga karena sebentar lagi dia pasti akan datang membawa obat itu," sambung Abraham yang tahu kalau saja dokter itu habis menangis terlihat jelas dari kedua netra Sean yang memerah. Membuat Abraham semakin yakin jika dokter itu memang memiliki perasaan pada wanita yang saat ini sedang tidak sadarkan diri itu.


"Iya Tuan, saya akan menunggu Arga, tapi sebelum itu saya akan menginfus Nona ini dulu." Sean lalu mengambil infus beserta selangnya dari tangan Abraham. "Boleh saya minta air hangat, Tuan?" Terdengar Sean meminta air hangat pada Abraham.


"Untuk apa?" tanya Abraham.


"Saya harus mengompres Nona ini supaya tidak demam karena suhu tubuhnya akan menjadi sedikit meningkat," jawab Sean yang memang benar ingin mengompres Desta.


"Tunggu sebentar Dok, pekerja yang ada disini akan membawakan air hangat untuk mengompres Desta," balas Abraham yang sekarang pandangan mata laki-laki itu terus saja tertuju pada Desta. "Kira-kira bagaimana keadaannya saat ini, Dok?"


"Saya berani menjamin kalau Nona ini akan baik-baik saja. Ditambah nanti kalau saya sudah memberikan obat yang tadi saya maksud itu pasti Nona ini akan langsung sadar." Sean menjawab dengan penuh keyakinan. "Kalau boleh tahu kira-kira Nona ini siapanya Anda Tuan?" tanya Sean.


"Ini adalah ...." Abraham menjeda kalimatnya karena pria itu sedang memikirkan jawaban yang tepat untuk Sean. "Adalah ... teman dari Nadia." Pada akhirnya Abraham malah menjawab kalau Desta teman dari sang adik. "Apa Dokter kenal dengan wanita ini, sehingga membuat Dokter bertanya seperti itu?"


Sean langsung saja menggeleng kuat. "Saya tidak kenal Tuan, ini saja saya baru saja melihat Nona ini," jawab Sean berbohong padahal saat ini dirinya ingin mengatakan kalau saja Desta adalah calon istri halusinasinya saja.


"Aku kira Dokter kenal." Sudut bibir Abraham sedikit terangkat pada saat ia mengatakan itu.


Tidak lama tiba-tiba saja terdengar suara Ayu yang malah mengetuk pintu kamar itu.


Tok, tok … tok.


"Permisi Tuan ini air hangat yang tadi Anda minta," kata Ayu.

__ADS_1


"Sini bawa airnya masuk, Bi." Abraham menyuruh Ayu untuk masuk.


Ayu, sang ART itu terlihat langsung masuk begitu saja pada saat dirinya mendengar Abraham menyuruhnya untuk masuk.


__ADS_2