Dendam (Abraham)

Dendam (Abraham)
BAB 35


__ADS_3

Abraham yang begitu panik tanpa memikirkan apapun mendobrak pintu kamar mandi itu sekuat tenaga, karena rupanya Nadia menguncinya dari dalam.


Brak!!


Satu kali tendangan pintu kamar mandi itu langsung saja terbuka, dan terlihatlah saat ini Nadia sudah duduk bersandar di dinding tembok dengan pergelangan tangan yang megeluarkan banyak darah.


"Nadia!" Abraham dengan gerakan cepat menyobek kemeja yang saat ini pria arogan itu kenanan, dan ia gunakan untuk membalut luka di pergelangan tangan sang adik, karena ia takut jika saja Nadia akan kehabisan darah. "Jesi, tolong tutup keran airnya," kata Abraham yang sekarang mengangkat tubuh sang adik untuk ia gendong.


Jesika yang sangat kaget melihat keadaan Nadia hanya bisa mematung saja tanpa mendengarkan apa yang Abraham katakan tadi.


"Jes, tutup keran airnya. Dan sepertinya kita harus segera membawa Nadia ke rumah sakit." Abraham setelah menggendong Nadia, ia kini terlihat berlari sambil terus saja membisikkan kalimat supaya Nadia tetap bertahan. "Bertahanlah, kenapa juga kamu harus melakukan hal bodoh seperti ini? Dan jika sesuatu hal buruk terjadi padamu maka Kakak tidak akan pernah bisa memaafkan diri Kakak Sendiri." Abraham terlihat terus saja berlari, ia juga tidak menghiraukan kalau saat ini Jesika benar-banar masih saja mematung di sana.


"Abra ...." Terdengar suara Jesika yang memanggil Abraham setelah pria arogan itu terlihat menuruni anak tangga. "Tekan terus pergelangan tangannya, supaya Nadia tidak kehilangan banyak darah!" seru dokterkandungan yang sekarang terlihat menutup kran air di dalam kamar mandi itu sebelum dirinya menyusul Abraham dengan cara berlari juga.


Sedangkan Abraham terdengar memanggil nama sang tangan kanannya dari tadi. "Arga! Arga ... dimana kamu?" Abraham terus saja memanggil nama Arga yang kebetulan saat ini tangan kanannya itu sedang ada di halaman sedang memandikan mobil. "Arga, dimana kamu? Kurang ajar, disaat aku sedang membutuhkanmu, kamu malah pergi entah kemana!" geram Abraham dengan rahang yang mulai mengeras.


Namun, pada detik berikutnya terlihat Arga datang dengan tangan yang masih berbusa.

__ADS_1


"Tuan ada apโ€“" Belum selesai kalimat Arga Abraham sudah terlebih dahulu memotongnya.


"Sialan, kemana saja kamu? Sekarang siapkan mobil kita bawa Nadia ke rumah sakit!" Setelah mengatakan itu Abraham terlihat semakin melangkahkan kakinya dengan sangat lebar. "Cepatan Arga! Jangan membuatku marah!"


Arga yang mendengar itu langsung saja berlari karena saat ini mobil Abraham sedang dicuci.


"Tuan mobil Anda sedang saya cuci!" seru Arga memberitahu tuannya.


"Kamu memang sialan, Arga!" teriak Abraham memarahi Arga.


"Pakai mobilku saja." Jesika dengan gerakan cepat melemparkan kunci mobil ke arah Arga. "Tangkap Ar!"


"Ayo ikut, Dok," ajak Arga sambil terus saja berlari.


"Iya, aku akan ikut tapi cepatlah! Nanti Abra akan marah-marah lagi padamu." Suara Jesika sudah terdengar ngos-ngosan, karena ia tidak terbiasa berlari seperti saat ini. "Jalan saja Arga, nanti aku menyusul kalian pakai taxi online."


Arga malah terlihat berlari ke arah Jesika. "Ayo kita harus sama-sama pergi ke rumah sakit." Sekarang Arga malah menarik pergelangan tangan dokter kandungan itu.

__ADS_1


"Arga! Kamu lama-lama memang kurang ajar!" Abraham berteriak dari arah halaman. Dimana saat ini pria arogan itu masih saja menggendong tubuh Nadia yang saat ini semakin terasa lemas.


๐Ÿ‚๐Ÿ‚


Di dalam mobil, Abraham terdengar terus saja marah-marah, karena pria itu berpikiran kalau Arga membawa mobil itu sangat lambat sekali.


"Apa kemampuanmu untuk menyetir sudah mulai berlurang, hah?" Abraham terdengar marah-marah, ia juga sudah membentak Arga berluang-ulang kali. "Jika kamu mengemudi seperti siput maka kita bisa terlambat!" teriak pria arogan itu.


"Tuan, saya mengemudi dengan kecepatan tinggi. Apa ini yang Tuan bilang seperti siput?" Arga memang menyetir dengan kecepatan tinggi. Layaknya pembalab yang sudah masuk go internasiol. "Tuan Abra sedang panik. Oleh sebab itu mobil ini terasa melaju dengan sangat lambat. Padahal selama ini saya tidak pernah mengemudi dengan kecepatan tinggi seperti ini." Arga mengatakan itu sambil tetap fokus menyetir karena tujuannya saat ini harus segera bisa sampai di rumah sakit. Seperti yang Abraham inginkan meskipun saat ini kaki Arga telemor karena laki-laki itu agak sedikit takut.


"Lebih cepat!" seru Abraham yang memerintahkan Arga. "Aku bilang lebih cepat!" pria arogan itu mengulangi kalimatnya lagi.


"Abra, dia sudah menyetir dengan sangat cepat. Tapi kamu masih saja terus menyuruhnya untuk tetap menyetir dengan kecepatan tinggi." Jesika yang duduk di samping Arga saat ini mulai membuka suara, karena ia bisa melihat dengan jelas bahwa Arga memang menyetir dengan kecepatan tinggi bukan sedang. "Lebih baik hati-hati daripada nanti malah kita yang akan dibawa ke rumah sakit," sambung Jesika.


"Diam Jesi, apa kamu mau bertanggung jawab jika terjadi sesuatu dengan, Nadia? Jawab aku sekarang juga, biar aku bisa sedikit lebih tenang!" kata Abraham dengan suara yang masih saja terdengar meninggi.


"Abra, Nadia pasti akan baik-baik saja. Jadi, kamu tenanglah," ucap Jesika yang berusaha menenangkan pria arogan itu. "Aku berani menjamin, kalau memang Nadia akan baik-baik saja." Jesika berharap jika saja Abraham akan merasa sedikit tenang.

__ADS_1


"Awas saja kamu Jasi, jika kalimatmu tidak benar maka kamu dan Arga akan aku tenggelamkan di laut!" ketus Abraham menimpali dokter itu.


Jesika yang mendengar itu menelan salivanya dengan susah payah, karena sejujurnya dokter kandungan itu tidak berani menjamin kalau saja Nadia tidak akan kenapa-kenapa.


__ADS_2