Dendam (Abraham)

Dendam (Abraham)
BAB 37


__ADS_3

Dua jam berlalu kini Abraham terlihat sedang mendengarkan penjelasan Jesika yang mengatakan kalau Nadia benar-benar sedang mengandung.


"Kamu boleh masuk sekarang, tapi kamu juga harus ingat. Kalau nanti di dalam sana tidak usah bicara apapun lagi pada Nadia. Soalnya aku takut adikmu itu akan nekat lagi," kata Jesika yang memberitahu Abraham sebelum laki-laki itu masuk ke dalam ruangan Nadia. "Kontrol emosimu dulu Abra, hanya untuk saat ini saja. Setelah keadaan Nadia membaik kamu boleh menanyakan langsung siapa ayah dari bayi yang dia kandung," sambung Jesika.


"Kurang ajar!" Abraham tiba-tiba saja meninju meja sehingga membuat Jesika kaget. Katika pria arogan itu saat ini sangat murka pada saat mengetahui jika saja Nadia memang tengah mengandung, dan Abraham sama sekali tidak tahu jika janin itu adalah darah daging Revan. "Siapa kira-kira laki-laki brengsek yang telah berani menghamili Nadia? Apa dia tidak tahu bahwa saat ini dia berurusan dengan orang yang salah?" Lagi-lagi pria arogan itu memukul meja yang ada di depannya saat ini.


"Abra, tolong tenangkan diri kamu dulu. Setelah itu baru masuk ke ruangan Nadia karena aku benar-benar takut jika kamu nanti akan marah-marah padanya. Mengingat kondisinya saat ini belum sepenuhnya pulih." Tidak ada yang bisa Jesika lakukan selain terus dan terus mengingatkan Abra, mengingat pria arogan itu bisa sewaktu-waktu emosinya akan menjadi meledak-ledak. "Untuk kali ini Abra, dengarkan baik-baik apa yang tadi aku katakan. Jangan sampai kamu gegabah jika kamu tidak mau kehilangan Nadia."


Abraham menatap Jesika. "Dimana Arga? Kenapa aku dari tadi tidak melihatnya?" Bukannya menimpali apa yang tadi Jesika katakan, Abraham malah terdengar mengalihkan pembicaraan dengan cara menanyakan dimana keberadaan tangan kanannya itu karena ia tidak melihat keberadaan Arga.


"Abra, dengarkan kalimatku yang tadi. Kamu jangan mengalihkan pembicaraan seperti ini, dan untuk Arga dia saat ini ada di kamar rawat inap Nadia. Aku yang menyuruhnya untuk menemani adikmu itu," jawab Jesika sambil memberikan Abraham beberapa lembar foto hasil USG Nadia. "Ini kamu bisa lihat sendiri, kalau usia janin yang ada di dalam perut Nadia baru saja masuk minggu keempat, sehingga disini hanya terlihat sebesar biji kacang hijau." Jesika terlihat menunjuk-nunjuk foto USG itu. Meskipun saat ini pria arogan itu sama sekali tidak mau melihatnya.


"Singkirkan bayi haram itu!" Abraham langsung saja membuang foto itu. "Bakar! Aku tidak perlu melihatnya!" desis Abraham yang malah menyuruh Jesika membakar foto hasil USG janin sang adik. "Aku harus pergi melihat Nadia, dan jangan pernah tunjukkan foto bayi yang tidak memiliki ayah itu!" ketus Abraham sebelum pria yang begitu arogan itu pergi dari ruangan Jesika.

__ADS_1


"Huh, Abra. Aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi padamu," gumam Jesika pada saat ia melihat Abraham yang pergi begitu saja.


๐Ÿ‚๐Ÿ‚


Tepat pada saat Arga keluar dari dalam ruang rawat inap Nadia. Terlihat Abraham langsung saja menarik tangan laki-laki itu.


"Ikut aku!" Abraham lalu membawa Arga agak sedikit menjauh dari ruangan sang adik.


"Tuan, ada apa?" tanya Arga pada saat dirinya merasa kebingungan, karena tangan kanan Abraham itu belum tahu jika saja Nadia sedang hamil. "Nona Nadia di dalam tadi terus saja mencari Anda, tapi Tuan malah mengajak saya kesini. Bukannya masuk melihat bagaimana keadaan Nona Nadia."


Arga yang tidak tahu apa-apa langsung saja menggeleng dengan sangat kuat sambil bertanya balik pada Abraham.


"Laki-laki brengsek mana yang Anda maksud Tuan? Apa semua laki-laki brengsek di kota Jakarta ini, itu mangkin yang maksud Anda?" Arga terlihat seperti orang bodoh saat ini karena ia tidak paham dengan apa yang Abraham katakan tadi.

__ADS_1


"Bodohmu semakin menjadi-jadi saja Arga! Lama-lama aku benar-benar mencari penggantimu!" geram Abraham yang mungkin saja saat ini Arga adalah manusia yang akan menjadi sasaran kemarahan bahkan kemurkaan pria arogan itu. "Bisa-bisanya kamu malah ingin mencari semua laki-laki brengsek di Jakarta ini."


"Saya kan, benar-benar tidak tahu si brengsek mana yang Anda maksud Tuan." Dengan menunduk sendu Arga mengatakan itu. "Coba sekarang Tuan kasih tahu saya saja supaya saya bisa mencari laki-laki itu."


"Laki-laki biadab yang telah membuat Nadia hamil."


Kalimat Abraham berhasil membuat jantung Arga hampir saja berhenti berdetak. Sebab tangan kanan pria arogan itu benar-benar sangat kaget.


"Ha-hamil, a-apa Nona Nadia se-sedang ha-hamil?" tanya Arga terbata-bata pada saat mendengar kata Nadia hamil.


"Ingat, waktumu hanya 24 jam." Abraham mengabaikan pertanyaan Arga. Setelah itu ia lagi-lagi terlihat langsung saja pergi dari sana.


"Tuan, jawab pertanyaan saya yang tadi itu dulu!" seru Arga yang saat ini mengejar Abraham. "Tuan, saya harus mencari laki-laki itu juga kemana? Bukankah selama ini juga Nona Nadia tidak memiliki kekasih?" Meski Arga tahu kalau saja Abraham tidak menjawabnya, laki-laki itu terus saja terdengar bertanya.

__ADS_1


"Tutup mulutmu sekarang juga Arga! Sebelum aku melemparmu dari lantai lima ini," kata Abraham yang mulai kesal dengan tangan kanannya itu.


__ADS_2