
“Ada apa ini?” Joe dan Argo yang baru turun dari motor triel mereka, begitu terkejut. Pasalnya, anggota Klan Dragon telah mengepung mereka.
“Bang Erick, ada apa ini?” Joe bertanya pada Erick yang berada paling depan di antara anggota Klan Dragon.
“Dari mana kalian berdua?” tanya Erick dengan nada datar. Sedangkan Iwan, ia tidak banyak bicara seperti biasanya.
“Kami pergi ke tempat biasa!” sahut Argo.
“Di mana kalian sembunyikan tahanan Tuan Jack?” tanya Erick lagi.
“Apa maksud mu, Bang?” tanya Joe yang tidak mengerti. “Bukankah tahanan itu ada di dalam?”
“Jika dia ada di dalam, tentu kami tidak akan bertanya pada kalian!”
“Kau menuduh kami?” Argo maju mendekati Erick.
“Jika bukan kalian pengkhianat itu, lalu siapa lagi?” Erick semakin geram pada dua rekannya yang menjadi tersangka itu.
“Kami berani bersumpah, kami tidak berkhianat! Untuk apa kami melepaskan dan menyembunyikan musuh, sudah sejak awal aku ingin menguliti orang itu. Tapi kalian tidak pernah mengizinkan aku!” teriak Joe, emosi remaja itu meluap-luap. Ia tidak terima di sebut sebagai pengkhianat.
“Kurung dan siksa mereka, sampai mereka mengaku!” perintah Jack yang tiba-tiba muncul dari barisan belakang anggota Klan Dragon.
Akhirnya, Joe dan Argo di bawa ke salah satu ruangan. Erick mengintrogasi mereka. Namun, mereka tetap tidak mengaku.
Buk.. Erick memukuli Joe dan Argo secara bergantian. Darah segar menetes dari sudut bibir Argo yang robek.
“Cepat katakan! Di mana kalian menyembunyikan tahanan itu?” sekali lagi Erick bertanya. Tapi jawaban Argo dan Joe tetap sama.
“Sudah kami katakan, sejak kemarin sore kami berada di area pertandingan balap liar motor Cross,” jawab Argo dengan tegas. Sedangkan Joe sudah tertunduduk lemah.
Melihat kedua orang itu tetap kekeuh dengan jawaban mereka, akhirnya Jack menghentikan Erick.
“Erick, berhenti! Aku yang akan membuat mereka mengaku, bawa semua orang pergi!” perintah Jack, hingga semua anggota Klan Dragon di bawa Erick pergi dari tempat itu.
__ADS_1
Kini tinggallah, Jack, Joe dan Argo.
Hingga beberapa saat kemudian, terdengar suara tembakan beruntun dari dalam ruangan tempat menyiksa dan menginterogasi Joe dan Argo.
Dor dor..
Jack keluar dari ruangan itu dengan wajah dan tubuh yang di penuhi cairan berwarna merah.
“Jackson! Iblis kau, manusia terkutuk!” teriak Argo dengan sangat kencang.
“Bawa mayat Joe kebelakang!” perintah Jack. Mata seluruh anggota Klan Dragon terbelalak, mereka tidak percaya dengan apa yang mereka dengar. Bagaimana tidak, dengan mudahnya Jack menghabisi nyawa seseorang.
“Tidak lama lagi, giliran Argo! Jika di antara kalian ada yang berusaha untuk membantunya, aku akan buat kalian seperti Joe!” ancam Jack.
Dua anak buah Dean yang di tunjuk oleh Jack, segera bergegas masuk kedalam ruangan tempat menyiksa Joe dan Argo itu. Mereka mengangkat mayat Joe yang bersimbah darah menuju ruang belakang.
Erick hanya bisa menundukkan wajahnya dengan expesi sedih. Ia tidak berani mengangkat kepalanya, hanya sekedar untuk melihat wajah Joe untuk terakhir kalinya.
“Sam, Kak Dean. Ayo kembali!” ajak Jack. “Kalian semua, segera bergerak mencari keberadaan Marco!” perintah Jack pada semua anggota Klan Dragon.
“Siap, Tuan!” Dengan serentak seluruh anggota Klan segera bergerak.
Jack, Sam, dan Dean segera berjalan keluar, meninggalkan markas itu.
Melihat semua orang sudah pergi, Erick segera berlari menuju ruangan belakang. Tempat dimana mayat Joe di letakan.
“Joe.. Maafkan aku, aku tidak bisa membantu kalian. Meski kalian bersalah, tidak seharunya aku membiarkan kalian mati seperti ini.” Erick mengangkat tubuh Joe. “Harusnya kalian mengakui kesalahan kalian, aku yakin. Tuan Jack dan Tuan Dean tidak akan membunuh kalian,”
.
.
.
__ADS_1
“Dimana anak itu? Sudah dua hari, ia tidak kembali,” gerutu Tuan Brahma di ruangan kerjanya. “Sifat aslinya kembali lagi,”
Berkali-kali Tuan Brahma menghubungi nomer Marco (Jack) tapi nomer itu tidak dapat di hubungi.
Hingga ia menjadi kesal, “Li.!” Panggil Tuan Brahma pada asistennya itu.
“Ya, Tuan!” jawab Li yang datang ke ruangan itu dengan tergesa-gesa.
“Kerjakan semua ini!” perintah Tuan Brahma kepada Li, asistennya.
“Baik, Tuan!” timbal Li dengan patuh.
Li, pun segera mengambil berkas berkas dokumen yang berserakan di atas meja itu. Dan membawanya ke ruangannya.
“Begini kalau jadi asisten rangkap, umurku sudah separuh baya. Tapi belum juga mendapatkan jodoh,” gerutu Li. Ia kadang kesal dengan Tuan Brahma yang jauh lebih tua dari dirinya itu. Memerintah seenaknya, tapi apalah dayanya. Ia hanya seorang asisten bukan seorang bos.
.
.
.
“Jack, kenapa kau membunuh Joe?” tanya Dean. Ia tidak habis pikir dengan cara kerja Jack. Meskipun Joe dan Argo tidak mau mengakui perbuatan mereka, tidak seharusnya Jack langsung melenyapkan salah satu dari mereka.
“Memangnya kenapa jika aku membunuhnya? Apakah kau membela pengkhianat itu!?” Jack menatap sinis pada Dean. “Dan kalian, Iwan, Sam! Jika kalian juga ingin membela teman-teman kalian itu. Silahkan pergi dari sini!” Jack menunjuk wajah Sam dan Iwan secara bergantian.
“Tidak, Tuan. Saya tidak berani,” jawab Iwan.
“Tidak, Kak. Aku tidak akan membela dan memihak yang salah,” kata Sam dengan bersungguh-sungguh.
“Bagus!” balas Jack. “Iwan, kami akan kembali ke perusahan, tolong awasi Argo. Jangan biarkan dia kabur seperti Marco!” perintah Jack pada Iwan. Setelah itu, Jack, Dean dan Sam segera pergi.
"Baik, Tuan!" Iwan menganggukkan kepalanya. Ia memandang punggung ketiga orang yang terus menjauh dari hadapannya itu dengan tatapan dingin seperti biasa.
__ADS_1