
Satu minggu kemudian, keadaan Iwan sudah membaik. Luka tembak di lengannya sudah mulai mengering, kini, ia, Kenzo dan Marco sedang menyusun rencana untuk membalas dendam dan juga menjatuhkan kekuasaan Klan Dragon.
“Jadi bagaimana? Apa yang harus kita lakukan, Kak?” Kenzo bertanya kepada kakaknya itu.
“Kita atur rencana, agar Marco bisa kembali pada ayah nya lebih dulu. Setelah itu, Jack pasti akan terkecoh. Dan pada saat dia sedang repot pada Klannya, kita bisa menculik wanitanya,” kata Iwan. “Wanita itu adalah kelemahan Jack satu-satunya.” Sambung nya.
“Seperti apa wanita itu? Apakah cantik? Jika dia cantik, aku akan merebutnya dari sisi lelaki kampung itu,” kata Marco.
“Cih, jika berhubungan dengan wanita saja. Otakmu langsung mencair,” Kenzo mencibir Marco yang selalu bersikap bodoh menurutnya.
“Aku sudah putuskan, akan merebut apapun miliknya. Karena dia telah merebut seluruh kasih sayang mamaku,” kata Marco. Ia sangat mendendam Jack, karena ia pikir. Jack lah yang menjadi penyebab sang ibu meninggalkan nya, bahkan sang ibu pergi bersama pria lain dengan hanya membawa Jack dan meninggalkan dirinya bersama sang papa.
“Aku tidak tau bagian dari masalalu Jackson dan juga Marco. Tapi, melihat Marco yang sangat membenci Jack, aku tidak perlu lagi memprovokasinya untuk menghancurkan Jack. Aku hanya perlu sedikit memumupuk kebencian dan dendam di hati Marco, setelah itu, semua akan berjalan dengan lancar,” batin Iwan.
Marco tidak tahu, bahwa ia hanya di manfaatkan oleh Iwan dan Kenzo untuk menghancurkan Klan Dragon dan mengambil alih kekuasaan Papanya sendiri.
“Kapan kita bisa mulai rencana kita?” tanya Marco pada Ken dan Iwan.
“Besok, besok kita sudah bisa bergerak. Dengan bukti yang kita miliki, kau bisa kembali pada Papamu, dan kami bisa mengambil kesempatan,” kata Kenzo, kesempatan yang di maksud Kenzo adalah, kesempatan untuk mendapatkan kepercayaan Tuan Brahma.
.
.
.
Jack yang sedang berada di rumah utama, yaitu kediaman Kakek Petter, sedang duduk di ruangan sang Kakek. Di ruangan itu, ada Dean, Kakek, dan juga Sam.
Saat mereka sedang berbicara serius, tiba-tiba sebuah notifikasi masuk ke ponsel Jack.
‘Ting’
“[Tuan, besok Kembaran anda, Iwan dan juga Kenzo, akan datang ke perusahaan A untuk membongkar penyamaran anda,]”
__ADS_1
“[Baiklah, terimakasih! Kau sudah boleh pergi dari tempat itu, aku sudah mengirimkan uangnya ke rekeningku, dan masalah anakmu, sudah di bereskan anak buahku, tidak lama lagi, ia akan pulih]”
Orang suruhan Jack yang mematai-matai Klan Tiger adalah orang yang sedang membutuhkan pertolongan untuk anaknya, ia rela menukar nyawanya agar anaknya yang berusia 9 tahun dapat segera operasi pencangkokan ginjal. Jack pun dengan senang hati membantu, dengan imbalan, pria itu mau memata-matai Klan Tiger. Mendengar Jack mau membantunya, ia tak lagi sungkan, ia segera setuju meski membahayakan nyawa, asal anaknya bisa sehat kembali.
Jack membaca pesan dan membalas pesan itu, ia mengerutkan kening. Kakek Petter, Dean dan Juga Sam yang melihat Jack mengerutkan keningnya, segera bertanya.
“Ada apa Jack?” tanya Kakek dan Dean.
“Ada apa Kak?” tanya Sam.
“Mata-mata yang kita kirimkan, memberi informasi. Bahwa, besok Marco, Iwan dan Ken, akan membongkar drama yang ku ciptakan,” kata Jack. Membuat ke tiga orang yang bersamanya itu menjadi terkejut.
“Lalu, apa yang harus kita lakukan?” tanya Dean.
“Kalian tidak perlu cemas, aku bisa mengatasinya,” kata Jack, ia hanya menanggapi pertanyaan dan kecemasan ketiga orang itu dengan senyuman.
“Jangan main-main Jack, di dalam keadaan bahaya seperti ini! Kau masih bisa tersenyum manis seperti itu,” kata Dean. Ia tidak habis pikir dengan Jack yang begitu santai.
Melihat kecemasan tiga orang itu, Jack segera menjelaskan semua rencananya. Setelah Jack menceritakan rencananya secara detail, Kakek Petter, Dean dan juga Sam bisa bernapas lega.
“Tidak usah di pikirkan lah, biar aku saja yang bekerja. Kalian tinggal menikmati tontonanya saja,” kata Jack. Setelah itu, ia pamit ke kantor Brahma.
“Kakek, Kak Dean, aku pamit pergi ke kantor tua bangka itu,” Jack segera meyambar kunci mobilnya yang ada di atas meja. Lalu segera pergi meninggalkan kediaman Kakek.
.
.
.
“Mbok, kok Kak Rahmat belum pulang ya,” kata Mayang sambil meyandarkan kepalanya ke atas meja makan.
“Mungkin sebentar lagi, biasanya juga pulangnya sore, kan?” Mbok Jum sibuk dengan pekerjaannya. Tapi, ia tetap menjawab semua pertanyaan dan keluh kesah Mayang.
__ADS_1
“Sebenernya, apa ya, Mbok. Pekerjaan Kak Rahmat?”
“Mbok gak tau, katanya di kantor, berarti ya di kantor,” kata Mbok Jum.
“Di kantor sih di kantor, Mbok. Tapi, Mayang sudah berapa kali lihat pakaian Kak Rahmat kusut sekali dan banyak bercak merah yang berbau amis, seperti bau darah,darah mungkinkah dia habis bunuh orang?” kata Mayang. Ia mengingat kembali, di mana saat Jack pulang malam-malam sehabis mengeksekusi dua pria yang sudah mengganggu Mayang saat pesta di malam itu.
Tapi, Mayang tidak berani bertanya. Pasalnya, saat itu hubungan mereka belum baik seperti saat ini.
“Jangan berpikir aneh-aneh!” ujar Mbok Jum. “Tuan Muda memang berbeda sekarang, tapi Mbok tidak percaya kalo dia jadi seorang pembunuh,” sambung Mbok Jum sambil mengelap meja.
BERSAMBUNG
.
.
.
Sembari nunggu up, bisa mampir ke karya yang ada di bawah ini ya!
Judul: Gadis Scorpio
Author: AdindaRa
"Where is, Minerva Bee?" tanya Austin menyeruak kumpulan orang yang sedang mengelilingi Minerva.
"Here is Me." ucap Minerva membuat seorang Austin Wycliff terpana.
Gadis yang tadi ditabraknya ternyata yang mengalahkannya kali ini. Tidak hanya itu, Minerva juga akan makan malam gratis di cafenya selama satu minggu. Austin berjalan ke arah Minerva dan bertanya siapa dia sebenarnya. Karena selama ini Austin memang tidak terkalahkan.
"Who are you?" tanya Austin sambil menatap kedua netra Minerva.
"Bukankah kau lebih tahu siapa yang kini menjadi lawan mainmu?" tanya Minerva menantang Austin.
__ADS_1
Austin sedikit terkejut mendengar jawaban Minerva kali ini. "Baiklah, kau berhak makan malam gratis di cafeku selama satu minggu penuh. Dengan syarat kita akan tetap bermain selama itu. Kita lihat siapa yang lebih unggul di antara kita." ucap Austin sambil meninggalkan Minerva.