DENDAM (Aku Bukan Bayangan)

DENDAM (Aku Bukan Bayangan)
BIARKAN SAJA!


__ADS_3

Siang itu, Jack kembali ke apartemen. Ia segera menyusul istrinya di lantai atas.


“Sayang.!” Panggilnya pada Mayang sembari mendorong gagang pintu.


“Ya..” jawab Mayang.


“Apa kau sudah siap?” tanya Jack, ia mendekati istrinya yang sedang duduk di dekat jendela.


“Sudah siap? Memangnya kita mau kemana?” tanya Mayang, ia lupa. Bahwa, Jack sudah berjanji akan membawanya ke rumah orang tua Mayang.


“Loh! Kok kemana? Katanya mau ketemu sama ayah kamu?”


“Oh, iya. Aku lupa,” kata Mayang sambil menepuk jidat nya.


Mayang segera bersiap, dengan setia, Jack menunggunya di kamar itu.


“Udah, kak.. Yuk, kita berangkat,”


Mayang dan Jack yang di kawal oleh beberapa anak buahnya. Segera bergegas menuju kediaman Pak Jono.


Setelah menempuh perjalanan sekitar satu setengah jam, akhirnya mobil yang dua mobil. Yang satu di kendarai oleh Jack sendiri, dan yang satunya lagi di kendarai oleh anak buahnya, tiba dia area pasar minggu yang tidak jauh dari kediaman Pak Jono.


Dengan segera, Mayang turun dari mobil dan berlari ke arah kediaman orang tuanya yang nampak sepi.


“Sayang.. Jangan berlari!” seru Jack, ia tidak ingin istrinya itu terjatuh dan terluka.


Mayang tidak mendengarkan perkataan Jack, ia terus berlari dan setelah tiba, ia segera mengetuk pintu rumah ayahnya.


Tok tok tok..


“Ayah.. Apa ayah ada di rumah, ini Mayang!” seru Mayang, ia berteriak dengan tidak sabaran. Sedangkan Jack, ia hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya.


“Kalian terus siaga! Aku tidak ingin terjadi apapun pada istriku!” Jack terus mengingatkan anak buahnya, agar terus siaga.


“Baik, Bos!” sahut anak buahnya serempak.


.


.

__ADS_1


.


“Bagaimana? Apakah ada tanda-tanda?” Dean bertanya pada Erick yang baru kembali dari menyusuri sungai yang ada di pinggiran hutan.


“Tidak ada, Tuan. Kami tidak menemukan adanya tanda-tanda keberadaan Iwan!” jawab Erick. Ia dan beberapa anggota Klan Dragon bertugas di bagian barat hutan. Sedangkan Joe dan Argo serta beberapa anggota Klan Dragon yang lain, bertugas di sisi selatan hutan. Tapi, mereka belum juga kembali.


“Mudah-mudahan, Joe dan Argo menemukan keberadaan Iwan,” kata Dean. Ia sangat cemas, ia takut, Jack akan mengamuk jika mereka tidak menemukan keberadaan Iwan.


Tidak berapa lama kemudian, Joe dan Argo serta beberapa anggota Klan Dragon yang lain kembali. Mereka segera melaporkan hasil pencarian mereka.


“Bagaimana Joe, Argo?” tanya Dean dan Erick bersamaan.


“Maaf, kami tidak menemukan Iwan. Tapi, kami menemukan tanda bekas keberadaan Iwan. Kami juga sudah mencarinya di area tempat itu, tapi tidak menemukannya. Sepertinya, rekan-rekan nya sudah menemukan keberadaannya lebih dulu dan membawanya pergi dari tempat itu,” Joe menjelaskan semua dugaannya.


“Jika sudah seperti ini, apa yang harus kita lakukan?” Dean semakin resah, memikirkan kemungkinan yang akan terjadi.


Semua hanya bisa diam, tidak ada yang berani membuka suara. Mereka takut salah dalam berucap, dan membuat keadaan semakin keruh.


“Aku harus segera menghubungi Jack, lebih baik, ia mengetahui lebih awal dari pada ia tahu belakangan,” kata Dean. Ia pun segera mengeluarkan ponselnya, dan menghubungi Jack.


Jack yang sedang berdiri di belakang istrinya, di depan pintu rumah Pak Jono. Tiba-tiba merogoh saku celananya, saat ponselnya berdering.


“Sebentar sayang, aku angkat telpon dulu,” kata Jack. Ia segera pamit kepada Mayang, untuk pergi sebentar dari tempat itu.


Jack pun, sedikit menjauh dari tempatnya dan Mayang bersama.


“[Hallo..]” jawab Jack.


“[Hallo Jack, aku ingin memberi tahu. Bahwa, keberadaan Iwan tidak di temukan,]” jelas Dean yang ada di seberang telpon.


“[Apa? Bagaimana bisa? Jumlah kalian lebih dari 100 orang, tapi tidak bisa menangkap satu orang yang terluka!]”


“[Maafkan kami, Jack. Kami sudah menyusuri pinggiran sungai dan juga seluruh area hutan. Tapi, Iwan tidak ada. Dan kemungkinan, dia sudah di selamatkan oleh orang-orangnya,]” jelas Dean.


Jack pun berpikir, cukup lama ia terdiam dan menimbang. “[Ya sudah! Biarkan saja, tapi terus tingkatkan kewaspadaan. Jangan sampai lengah!]”


“[Baik, Jack!”] sahut Dean di seberang telpon. Setelah itu, ia mengakhiri panggilan itu.


“Bagaimana? Apa kata Tuan Jack?” tanya Erick.

__ADS_1


“Dia bilang, biarkan saja. Tapi, kita harus waspada. Bisa saja Iwan dan orang-orangnya kembali untuk menyerang kapan saja,” jelas Dean.


Sedangkan di tempat Jack, setelah ia berbicara lewat sambungan telpon dengan Dean. Ia segera kembali ke tempat di mana Mayang berada.


“Sayang, bagaimana? Apakah ayahmu ada?” tanya Jack pada Mayang. Ia melihat, pintu rumah orang tua Mayang belum juga terbuka.


“Gak tau, Kak. Dari tadi gak ada jawaban,” kata Mayang.


Tiba-tiba saja, seorang pria paruh baya yang memanggul kardus di bahunya, meneriaki nama Mayang.


“Mayang..!” panggil pria paruh baya itu.


BERSAMBUNG


.


.


.


Judul : Maafkan aku, Istriku


Penulis : Nazwatalita


Blurb


Perjuangan Abimanyu untuk mendapatkan kembali cinta Renata, sang istri yang telah berulang kali disakitinya.


Tidak mencintai gadis yang menjadi wasiat terakhir ibunya membuat Abimanyu seringkali menyiksa dan menyakiti hati Renata hingga berkali-kali.


Akankah Bima bisa kembali mendapatkan cinta istrinya? Sementara hati Renata telah mati rasa akibat perbuatan Abimanyu yang telah menyebabkan buah hati dan ibunya meninggal dunia.


"Mas Bima-"


"Panggil aku Tuan seperti biasanya, karena kau hanyalah seorang pembantu di sini!"


"Ta-tapi Mas, kata Nyonya-"


"Ibuku sudah meninggal. Aku menikahimu karena keinginan ibuku, Jai kau jangan berharap dan bermimpi kalau aku akan menuruti keinginan ibuku untuk menjagamu!"

__ADS_1


"I-iya, Tu-Tuan*** ...."



__ADS_2