DENDAM (Aku Bukan Bayangan)

DENDAM (Aku Bukan Bayangan)
IKAN GOSONG


__ADS_3

Keadaan Jack sudah benar-benar membaik. Setelah ia mengetahui bahwa istrinya tengah hamil, ia menjadi lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah.


Seluruh pekerjaan kantor ia serahkan pada Sam dan Dean. Urusan Klan ia percayakan sepenuhnya pada Erick, Argo dan Joe. Sedangkan Marco, Jack meminta nya mengelola ulang perusahaan A. Karena bagaimanapun, perusahaan itu adalah peninggalan mendiang kakek mereka. Yaitu, Marcus Morren sabahat dari Kakek Petter, kakek dari Dean yang kini sudah kembali ke Belanda.


Pagi itu, di saat mereka semua sedang sarapan. Tiba-tiba Mayang membuat ulah, hingga membuat semua yang ada di sana di buat pusing olehnya.


“Mayang, kau tidak makan?” tanya Marco pada Mayang yang duduk di samping Jack sembari menompang dagunya dengan kedua tangan.


“Makanlah, sayang. Nanti kamu sakit, kasian baby kita,” bujuk Jack.


“Kau ingin apa? Biar kami carikan atau buatkan?” tawar Dean.


Mayang mendapatkan lampu hijau, Ia melirik ke arah suaminya. Dan Jack segera mengangguk.


“Mayang ingin makan ikan bakar,” kata Mayang. “Kak Marco yang buat kan!”


“Hahaha! Kena kau, Kak Marco!” Sam tertawa bahagia, melihat Marco yang mendapatkan jatah pekerjaan dari Mayang.


“Hahaha. Bahagia sekali kau, Sam?” Dean ikut tertawa.


Sedangkan Marco, ia tetap cuek. Ia segera bangkit dari kursinya dan meninggalkan makanannya.


Baginya, menuruti kemauan Mayang adalah hal penting. Karena, jika Mayang dan kandungannya sehat. Maka, adiknya akan bahagia. Marco sudah berjanji pada dirinya sendiri, bahwa ia akan membuat Jack mendapatkan kasih sayang yang telah hilang.


“Mayang, kau ingin ikan apa?” tanya Marco sembari mengeluarkan ikan dari freezer.


Mayang segera mendekat, ia pun menunjuk ikan mas yang paling besar. “Yang ini! Biar cukup!” ujar Mayang.

__ADS_1


Deg! Marco membatin. “Hehehee! Biar cukup, berarti semua bakal dapat jatah.”


Marco segera mencuci ikan itu dan segera memanggangnya. Setelah matang, ia pun memberikannya pada Mayang.


“Ini, makanlah!” Marco meletakan ikan itu di hadapan Mayang dan Jack.


“Biar aku suapi,” ucap Jack.


“Jangan!” Mayang menahan tangan Jack yang hendak meraih ikan itu.


“Kak Marco, bisa di bakar lagi gak? Sampe hitam,” kata Mayang pada Marco.


“Bisa, sini! Biar Kakak bakar lagi.” Marco yang baru saja duduk segera bangkit kembali. Ia pun kembali membakar ikan itu hingga gosong.


Tak lama kemudian, Marco kembali ke ruang makan itu, dengan ikan gosong yang ada di tangannya.


“Yess, makasih,” ucap Mayang dengan wajah puas.


“Ini punya Kak Marco, ini Kak Dean dan ini punya Sam!” Mayang meletakan tiga bagian ikan itu di hadapan masing-masing orang.


Tiga orang itu menelan ludah dengan kasar, mereka menatap ikan gosong yang ada di hadapan mereka masing-masing.


“Ini bisa di makan, Mayang?” tanya Dean.


“Bisa, coba aja!” ujar Mayang.


Dean mencoba ikan itu. “Huekk!” Serasa ingin muntah, Dean segera meneguk segelas air putih yang ada di hadapannya.

__ADS_1


“Hahaha!” Sam menertawakan.


Sedangkan Marco, beruntung ia mendapat bagian kepala. Jadi, hanya gosong bagian luarnya saja. Dan bagian dalamnya tidak terlalu gosong.


Sam mencoba memakan bagiannya, matanya terpejam saat merasakan rasa ikan bakar itu.


“Emm, lumayan! Ada rasa pahit, asin dan juga sedikit gurihnya,” ucap Sam sambil membuka matanya yang terpejam.


“Kalau gitu, habiskan. Habiskan semuanya!” ujar Mayang dengan raut wajah berbinar. Dan tabpa sadar, ia telah memakan makanan miliknya. Perutnya yang kosong sudah terisi meski hanya dengan nasi putih saja.


Dengan terpaksa, ketiga orang itu memakan jatah ikan mereka masing-masing. Dean menatap pada Mayang yang terus menyendok nasi di dalam piring nya.


“Jika bukan demi keponakanku yang belum lahir itu, mana mungkin aku sudi seperti ini. Tapi sepertinya, Mayang sungguh-sungguh mengidam. Buktinya, setelah keinginannya terpenuhi, ia segera mengisi perutnya meski tanpa lauk dan pauk.” Batin Dean.


Jack hanya bisa menyaksikan kemalangan ke tiga orang itu, tanpa bisa membantu ataupun berbuat apa-apa.


Setelah makan, Mayang kembali menguap. Ia menutup mulutnya dan pamit pada Jack.


“Kak, Mayang udah kenyang. Mayang ngantuk lagi,” ucap Mayang.


“Jangan tidur pagi, tahan hingga siang. Tidak baik untuk kandungamu!” ujar Marco.


Mayang melirik pada Marco. Lalu, beralih pada suaminya. Lagi-lagi, Jack hanya mengangguk.


“Ya udah, Mayang gak jadi tidur. Mayang mau jalan pagi aja,” kata Mayang. Ia pun segera bangkit, dan berjalan menuju belakang rumah itu untuk menikmati hangatnya cahaya mentari pagi.


“Terimakasih untuk semuanya,” guman Jack pelan. Tapi, masih terdengar oleh yang lainnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG!


KABURR🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️


__ADS_2