
“Temukan putraku secepatnya!” Tuan Brahma memerintah anak buahnya untuk mencari keberadaan Marco.
“Baik, Tuan! Kami akan segera menyebar untuk mencari keberadaan tuan muda.” Jawab seseorang, lalu semua anak buah Tuan Brahma pergi dari tempat mereka berkumpul.
Setelah anak buahnya pergi dari tempat itu, Tuan Brahma melempar barang-barang yang ada di dekatnya ke sembarang arah.
“Jika aku tau sejak awal, jika anak itu lebih cerdik dari pada Marco. Sudah sejak dulu aku menukar mereka!” Tuan Brahma menyesal karena telah salah memilih di antara keduanya.
“Marco tidak bisa di andalkan sama sekali, lain dengan anak kampung itu.”
Sore harinya, salah satu anak buah Brahma datang kembali menemui Brahma.
“Lapor, Tuan! Tuan muda, saat ini tinggal bersama dengan ketua Klan Tiger. Sepertinya, mereka tengah bekerja sama untuk menghancurkan Jackson Morren beserta para anggota Klan Dragon!” jelas anak buahnya.
Mendengar nama Morren di sebut, terkesiaplah Tuan Brahma. Ia ingat, jika nama Morren adalah marga dari keluarga ibu dari Marco dan Rahmat.
“Siapa Jackson Morren?” tanya Tuan Brahma. Ia tidak pernah mengenal, anggota keluarga Morren yang bernama Jackson. Seingatnya, ia telah menghancurkan dan menghabisi keluarga Jackson, kecuali istrinya yang ia asingkan di desa terpencil, jauh dari keramaian.
“Jackson Morren adalah seorang pria bertopeng, ia adalah Presiden direktur perusahaan B milik Tuan Petter!”
Makin terkejutlah Tuan Brahma, mendengar nama Petter dan juga Jackson pria bertopeng.
“Jackson Morren? Petter? Bukankah Jackson Morren adalah Presdir yang memegang kendali perusahaan B yang mempermalukan aku waktu itu.” Guman Tuan Brahma. Ia mengingat di mana saat ia di permalukan oleh Jack dan Dean saat ia datang untuk meminta kerja sama pada perusahaan B itu.
“Petter dan Jackson, apa hubungan mereka? Kenapa di belakang nama Jackson, bermarga Morren?” Tuan Brahma bertanya-tanya sendiri.
Lama ia kalut dalam pikirannya sendiri, hingga akhirnya, anak buahnya itu memecah kekalutanya.
“Tuan! Apa yang harus saya lakukan sekarang?”
“Emm.. Kau kabarkan pada Marco dan pimpinan Klan Tiger, suruh mereka kemari! Aku sudah mengetahui semuanya!”
Mendengar perintah Tuan Brahma, anak buahnya itu segera undur diri.
“Kalau begitu, saya pamit undur diri. Tuan.” Anak buahnya membungkukan badan lalu meninggalkan kediaman Tuan Brahma.
__ADS_1
.
.
.
“Sayang, betah sekali berada di kamar? Sejak tadi siang aku berada di lantai bawah, tapi kau tidak turun sams sekali,” ucap Jack yang memasuki kamarnya, dan mendapati Mayang yang sedang berbaring di atas ranjang sambil membaca komik.
“Aku malu untuk turun. Lihat lah leherku!” Mayang meletakan komik yang ia baca, lalu menunjuk pada lehernya.
“Kak Dean bilang, ini semua bukan digigit nyamuk. Tapi di gigit oleh kakak,” ucap Mayang.
Jack tersenyum, sejenak memandang wajah Mayang yang menurutnya sangat lucu jika sedang cemberut begitu.
“Kenapa kakak menatap Mayang seperti itu? Apakah kakak sudah puas, karena membuat Mayang malu?”
“Aku minta maaf, sayang! Lagian, semua juga, bukan sepenuhnya salahku,” kata Jack sambil duduk di atas ranjang tepat di samping istrinya.
“Jadi, maksud kak Rahmat, semua ini salahku!” Mayang melempar Jack menggunakan bantal.
“Iya, aku tidak memanggil dengan kakak dengan sebutan itu lagi,” kata Mayang.
“Aku memang tidak sepenuhnya bersalah, kepada lehermu yang seperti itu. Bukannya semalam kau juga sangat menikmatinya.” Dengan lembut Jack mengusap bibir Mayang yang terus cemberut.
Makin cemberut lah, Mayang mendengar perkataan Jack. Sebenarnya, Mayang bukan marah. Tapi, cemberut karena menutupi malu yang sedang ia rasakan. Benar yang di katakan suaminya itu, bahwa semalam ia sangat menikmati belaian dan sentuhan yang di berikan oleh Jack.
“Jangan cemberut seperti ini! Atau aku akan menggigit bibirmu.” Goda Jack, Mayang yang mendengar segera mundur dari harapan Jack. Hingga membuat Jack terkekeh geli.
“Aku ingin turun ke lantai bawah, aku ingin membantu Mbok Jum memasak makan malam untukmu, tapi aku malu.”
Jack berjalan ke arah lemari, dan mengambil sesuatu dari dalam sana.
“Kemari!” pinta Jack pada Mayang.
“Untuk apa benda itu?” tunjuk Mayang pada benda yang ada di tangan Jack.
__ADS_1
Jack tersenyum, lalu memasangkan syal yang ia pegang pada leher Mayang. “Nah! Tidak terlihat lagi kan?” Jack memutar tubuh istrinya menghadap cermin, lalu tangannya ia lingkarkan di pinggang Mayang.
Mayang mendongakan wajahnya pada wajah Jack yang di tompangkan Jack pada bahunya.
“Kak!” Panggil Mayang lirih pada Jack yang memejamkan mata dan sedang menghirup aroma rambutnya.
“Ya!” jawab Jack singkat.
“Apakah kakak benar mencintai aku?” tanya Mayang.
“Tidak!” jawab Jack.
Mayang terdiam mendengarnya. “Aku tidak hanya mencintaimu, tapi sangat sangat mencintai!” lanjut Jack. Mayang tersenyum bahagia mendengarnya.
BERSAMBUNG!
.
.
.
SEMBARI NUNGGU UPDATE, BISA MAMPIR DI KARYA TEMAN NENG SYANTIK YANG ADA DI BAWAH INI YA!
Judul :Sekadar Istri Siri
Penulis : Aisy Arbia
Sashi Arandita, gadis 28 tahun yang selalu mendambakan pernikahan sekali seumur hidup harus rela mengubur dalam-dalam prinsip hidupnya. Pasalnya, sebelum ibunya meninggal, wanita paruh baya itu meminta putrinya untuk menikah dengan Puguh Amarta, 34 tahun. Pria yang sudah dijodohkan dengannya karena menjadi wasiat almarhum ayahnya, Abdul Mahesa.
Di sisi lain, Puguh Amarta telah memiliki istri sah yaitu Nadya Ningrum, 30 tahun. Puguh ingin menolak, tetapi karena balas budinya kepada keluarga Abdul Mahesa sehingga pria beristri itu menerima pernikahan tersebut.
Akankah Sashi mampu menerima pernikahan ini? Ataukah memilih bercerai karena tahu kenyataan kalau dia hanyalah istri siri?
__ADS_1