
“Sayang, aku pulang!” seseorang masuk kedalam rumah dan mencari keberadaan istrinya.
“Kak, baru pergi kok udah balik lagi?” tanya Mayang. Istri orang itu.
“Ada yang ketinggalan!” sahut Jack.
“Kami pulang sama siapa?” tanya Mayang.
“Sendiri lah,” jawab Jack. “Aku gak balik lagi ke kantor deh, aku mau di rumah aja sama kamu,” sambung Jack.
Setelah itu, ia menaiki anak tangga. Mayang pun mengikutinya. Belum juga sampai di kamar, tiba-tiba saja Jack memeluk tubuh Mayang.
“Kak, apa yang kakak lakukan?” Mayang cukup terkejut dengan kelakuan Jack.
“Ayolah, aku mengingkannya,” bisik Jack.
“Ini masih pagi, kakak kenapa? Biasanya tidak seperti ini!” tanpa mendengarkan ucapan Mayang, Jack terus memeluk dan menciumi leher jenjang Mayang.
“Jangan di sini!” Mayang mendorong tubuh Jack agar menjauh darinya. Dan ia segera berjalan mendahului Jack menuju kamar.
Jack pun mengikuti langkah Mayang, saat telah tiba di dalam kamar. Jack kembali memeluk tubuh Mayang dengan erat. Ia kembali menciumi leher Mayang.
“Kenapa Kak Rahmat seperti ini?” batin Mayang.
Saat Jack hendak mencium bibirnya, Mayang melihat ke arah wajah Jack. Sebelum bibir itu sampai pada bibirnya, Mayang segera mendorong tubuh itu dengan kasar.
__ADS_1
“Kamu bukan suamiku! Siapa kamu?” Mayang mundur perlahan, dan menjauh dari hadapan Jack.
Pria yang ternyata adalah Marco itu tersenyum pada Mayang.
“Matamu cukup jeli untuk mengenali siapa suamimu,” ucap Marco.
“Siapa kamu? Apa maumu?” teriak Mayang ketakutan, saat ia melihat Marco terus mendekat ke arahnya.
Saat Marco ingin menciumnya, Mayang melihat warna bola mata Marco yang berbeda dengan warna bola mata Jack. Jika bola mata Jack agak berwarna kebiruan, bola mata Marco berwarna kecoklatan. Dari situ lah ia merasa ada yang janggal, dan ternyata hal yang ia curigai dan takuti benar.
“Aku adalah Marco, kakak kembar suamimu!” jawab Marco. “Aku akan menjauhkan dirimu darinya, seperti dia menjauhkan aku dari ibuku!” Kini, Marco sudah berada tepat di hadapan Mayang yang berdiri ketakutan di pojokan lemari.
“Kau sudah gila! Jadi kau yang suda membuatnya mendekam di penjara? Kalian sungguh jahat!” teriak Mayang.
Marco mendekat, lalu ia menarik rambut Mayang. “Kau bilang kami jahat? Suamimu lah yang jahat! Ia tidak hanya mengambil ibuku, tapi juga merampas semua harta milik papaku!”
“Tau apa kau tentangnya, wanita jal*ng!” teriak Marco tepat di depan wajah Mayang.
“Kau gila, kalian gila!” teriak Mayang. Membuat Marco kesal setengah mati.
Marco melepaskan jambakan tangannya pada rambut Mayang, dan mendorong tubuh Mayang ke arah lemari dengan kasar dan juga keras.
Bruk! Mayang terjatuh dengan kepala bagian belakang menghantam lemari kayu dengan keras.
“Auuuchh..” rintih Mayang sambil memegangi kepalanya yang mengeluarkan darah. Tapi, ia tidak pingsan.
__ADS_1
Melihat Mayang yang terjatuh, Marco pun tertawa senang. Lalu, ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Iwan.
Di saat ia sedang lengah, Mayang bangkit perlahan dan meraih pajangan keramik yang ada di dekat lemari itu. Lalu, memukul kepala Marco.
Prakk! “Ahhrr, perempuan sialan!”erang Marco. Kini, tidak hanya Mayang yang terluka, Marco pun ikut terluka. Mayang yang melihat Marco mengerang sambil memegangi kepalanya itu, segera berlari keluar dari kamar itu.
“Mbok! Mbok!” panggil Mayang pada Mbok Jum. Tapi sayangnya, Mbok Jum tidak ada di rumah, saat ini Mbok Jum sedang keluar untuk ber belanja.
Mayang terus berlari menuruni anak tangga dan keluar dari dalam apartemen itu. Ia memanggil-manggil penjaga, tapi tidak ada yang mendengar. Karena pada dasarnya, penjaga yang di tugaskan untuk menjaganya, sudah di lumpuhkan oleh Iwan dan Kenzo.
“Perempuan setan!” maki Marco, lalu dengan cepat ia mengejar Mayang.
Mayang yang telah tiba di ambang pintu, segera berbalik dan hendak menghubungi Jack menggunakan telpon rumah.
Saat ia sedang sibuk menekan nomor telpon Jack. Marco sudah tiba dan membanting telpon rumah yang di pegang oleh Mayang. Mayang ketakutan, ia pun mencoba berlari dan membanting barang-barang yang ia lewati.
Iwan dan Kenzo segera menyusul masuk ke dalam apartemen itu, mereka kesal pada Marco yang tidak becus mengurus satu wanita saja.
“Diam di tempatmu! Atau, timah panas ini kan menembus kepalamu!” ancam Kenzo pada Mayang.
Mayang yang sibuk menghindari Marco, menjadi terdiam ketakutan. Ia menatap pada Iwan dan juga Kenzo yang berdiri tidak jauh darinya.
“Kau pilih menurut pada kami atau mati saat ini juga?” di saat Mayang terdiam tiba-tiba saja, Marco mengambil kesempatan untuk membuat Mayang tak sadarkan diri.
Buk!” Marco memukul pundak Mayang. Mayang pun terjatuh di lantai dalam kondisi tak sadarkan diri.
__ADS_1
BERSAMBUNG!