DENDAM (Aku Bukan Bayangan)

DENDAM (Aku Bukan Bayangan)
JACK PANIK!


__ADS_3

2 jam sebelum kejadian di apartemen Jack.


“Marco, saat ini adalah waktu yang tepat untuk meyandra istri Jack. Ingat! Kau harus berhasil, jangan mengecewakan kami!” ujar Iwan.


“Baiklah,” ucap Marco. “Tapi, apakah aku boleh bersenang-senang dulu dengan perempuan itu sebelum membawanya pergi?” tanya Marco kemudian.


“Saat ini bukan waktunya bersenang-senang, dasar bodoh!” maki Kenzo.


“Kau harus berhasil, Marco. Buktikan pada Papa, bahwa kau lebih unggul dari pada Adikmu,” ucap Tuan Brahma.


Marco, Iwan dan Kenzo yang mengintai apartemen Jack, setelah melihat Jack, Dean dan Sam pergi. Segera melancarkan aksi mereka. Sedangakan Tuan Brahma, ia telah menunggu di tempat yang telah di tentukan.


.


.


.


Mbok Jum yang baru pulang daru berbelanja, sangat terkejut, karena ia melihat seluruh ruangan apartemen itu berantakan.


Wanita paruh baya itu, segera berlari ke lantai atas untuk mencari keberadaan Mayang. Namun, ia tidak menemukan keberadaan Mayang. Yang ia lihat hanyalah, noda darah yang hampir mengering berceceran di lantai kamar itu.


“Mayang!” teriak wanita paruh baya itu dengan panik.


Di saat Mbok Jum yang ada di apartemen itu panik, dan bingung harus berbuat apa. Lain lagi halnya dengan Jack yang merasa panik, dan tidak tenang.


Ia pun pamit pulang lebih dulu pada Dean dan Sam.


“Kak, Sam, aku pulang duluan ya. Hatiku terasa tidak tenang, aku merasa telah terjadi sesuatu yang buruk pada Mayang.”


“Pulang lah, hubungi kami jika terjadi sesuatu,” ucap Dean. Setelah itu, Jack segera pergi meninggalkan perusahaan dengan hati yang gelisah.

__ADS_1


Jack mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, setelah menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit, akhirnya ia tiba di apartemen.


Ia melihat ada yang janggal, tidak terlihat keberadaan satu orang pengawal pun yang ia tugaskan di depan apartemen itu.


Ia segera berlari masuk, tapi ia di buat terkejut dengan keadaan apartemen yang seperti kapal pecah.


“Mayang! Mayang!” panggilnya.


“Tuan muda, Non Mayang hilang. Mbok sudah mencari nya ke semua tempat, tapi tidak menemukan keberadaanya. Maafkan, Mbok.” Wanita paruh baya itu duduk bersimpuh di lantai sambil terus menangis.


Jack terdiam, pikirannya kacau, ia bingung dengan apa yang harus ia lalukan.


“Kemana, Mbok. Saat semuanya terjadi?” tanya Jack tiba-tiba.


“Seperti biasa, jika hari selasa, Mbok akan pergi berbelanja ke supermarket,” kata Mbok Jum. “Tapi, setelah Mbok pulang, keadaan sudah seperti ini. Dan di kamar kalian, terdapat banyak noda darah yang sudah mengering di lantai,” sambung wanita paruh baya itu.


Mendengar noda darah, makin panik lah Jack di buat nya.


Tak lama kemudian, Dean dan Sam tiba. Mereka berdua segera bergegas menemui Jack yang sedang duduk bersandar pada lemari tempat Mayang di dorong oleh Marco sebelumnya. Dan di situlah tempat yang terdapat banyak darah berceceran.


“Jack!” panggil Dean pada Jack yang sedang terduduk lemas.


“Kak, tolong cari keberadaan istriku.” Pinta Jack pada Dean.


“Tenangkan dirimu, jangan panik seperti ini!” ujar Dean.


“Bagaimana aku tidak panik! Lihatlah darah ini, ini pasti darah istriku!” teriak Jack.


.


.

__ADS_1


.


“Kita apakan perempuan ini?” tanya Marco pada Kenzo dan Iwan.


“Ikat saja dia pada kursi itu!” tunjuk Kenzo pada sebuah kursi kosong.


“Lalu? Apa yang akan kita lakukan?” Tanya Marco lagi.


“Hubungi, Jack. Katakan padanya jika saat ini istrinya masih baik-baik saja. Perintahkan dia datang kemari dengan membawa berkas-berkas perusahaan A yang sudah ia ambil alih kepemimpinan nya,” kata Iwan.


Sedangkan Tuan Brahma, kini pria paruh baya itu sedang duduk bersantai sambil menikmati sebatang rokok di tangan kirinya, sambil menatap hal yang di lakukan oleh Marco, Iwan dan juga Kenzo kepada anak menantunya itu.


“Dan, katakan padanya, jangan membawa pasukan Klan Dragon, jika ia ingin istri tercintanya ini selamat.” Sambung Iwan.


Mendengar perintah Iwan, Marco pun segera menghubungi nomer Jack.


“[Hallo!]” sahut Jack dari seberang telpon.


“[Segera datang ke dermaga C tepat di gudang minyak, bawa semua berkas-berkas perusahaan A!]” Timbal seseorang yang ada di seberang telpon. Ia adalah Marco.


“[Apa yang kau lakukan pada istriku, Marco!]” geram Jack. “[Cepat bebaskan istriku, atau a-]” belum sempat Jack menyelesaikan ucapannya, Marco sudah memotongnya lebih dulu.


“[Atau apa? Jika kau ingin istrimu selamat, turutilah perintahku, bawa semua berkas-berkas perusahaan A, dan datang sendirian ke tempat yang aku sebutkan tadi, sendirian. Hanya SENDIRIAN!]”


.


.


.


BERSAMBUNG!

__ADS_1


__ADS_2