
Tap tap tap! Langkah kaki terdengar mengetuk-ngetuk lantai. Semua orang yang melihat kedatangan orang itu segera membukukan tubuh mereka, sebagai tanda hormat.
“Presdir kembali,” bisik karyawan A pada karyawan B.
“Ya, Presdir misterius itu sudah kembali!”
“Berdiri yang tegap! Tidak perlu menyanjungku seperti itu, aku bukan orang yang gila hormat!” tegas orang itu, ia tidak suka pada orang-orang penjilat seperti para karyawan itu.
Seluruh karyawan yang ada di perusahaan itu segera berdiri tegap. Jika, selama ini mereka bisa berkerja dengan santai saat tidak Presdir mereka. Tapi kini, mereka harus bekerja extra dan di tuntut untuk serius.
“Presdir Jackson sudah kembali, jadi kita harus bekerja dengan hati-hati. Jangan sampai, kita melakukan kesalahan sekecil apapun,” kata karyawan A.
“Aku benar-benar penasaran, seperti apa wajah Presdir kita. Apakah dia tampan? Atau wajahnya sama seperti sikapnya yang mengerikan?”
“Hust! Jangan membicarakannya seperti itu, bisa tamat riwayat kita, jika Presdir Jackson mendengar!” ujar karyawan lainnya.
“Tuan Jack, lihatlah! Ketiga wanita itu sedang membicarakan Anda!” seru seseorang cukup keras.
Ketiga karyawan itu diam membeku di tempatnya. Tubuh mereka bergetar hebat, tiba-tiba perasaan mereka di hantui rasa ketakutan.
“Hahaha!” meledaklah tawa orang itu.
Ketiga karyawan wanita itu segera membalikan tubuh mereka menghadap sember suara.
“Lucu sekali expresi kalian. Makanya, jangan suka berghibah dan bergosip bergosip saat sedang bekerja.” ucap orang itu yang ternyata adalah Sam. Ia sengaja berbuat iseng, untuk memberi ketiga karyawan itu pelajaran.
“Maaf, Tuan!” ketiga karyawan yang sudah pucat pasi itu, segera membubarkan diri dan kembali pada meja kerja masing-masing.
.
.
.
“Apa yang akan kau lakukan dengan berkas-berkas itu, Jack?” tanya Dean pada Jack yang sedang sibuk membuka setiap lembar berkas yang ada di hadapannya.
“Aku ingin segera menghancurkan perusahaan Brahma.” Jawab Jack. “Di mana Sam?” Jack mendongakan wajahnya pada Dean.
“Aku di sini!” sahut Sam yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan itu.
“Ada tugas yang akan diberikan Jack padamu,” kata Dean pada Sam.
“Kau retas akun perusahaan Brahma. Aku ingin, sore nanti, semua tugas yang ku berikan sudah kau selesaikan dengan baik!” Jack melempar beberapa lembar kertas pada Sam.
“Kak Dean, bagianmu kerjakan semua berkas ini!” Jack juga, menyerahkan berkas-berkas yang akan di gunakan untuk Metting siang itu.
.
__ADS_1
.
.
“Maafkan, Papa. Marco! Papa telah salah mengenali,” kata Tuan Brahma.
“Aku tidak menyalahkan , Papa yang sudah tua,” ucap Marco sambil memandang ke sembarang arah.
“Ingin sekali rasanya, aku memukul kepalanya yang sudah mulai beruban itu!” Marco mengumpat dalam hati.
“Marco, siapa mereka?” tunjuk Tuan Brahma pada Iwan dan juga Kenzo yang pernah ia usir dari kediamannya itu. Bukannya Tuan Brahma tidak tau siapa mereka, hanya saja. Ia berbasa-basi untuk memulai pembicaraan.
“Mereka adalah pemimpin pasukan Klan Tiger yang telah menyelamatkan aku dari Sekapan Klan Dragon,” kata Marco.
“Klan Dragon yang di pimpin oleh Jackson Morren?” Tanya Tuan Brahma.
“Kenapa yang menyekap Marco pasukan Klan Dragon? Apa hubungannya Klan Dragon dan anak kampung itu? Kenapa bisa?” batin Brahma bertanya-tanya.
“Jadi, tua bangka ini tidak tahu, bahwa pemimpin Klan Dragon adalah putra yang telah ia buang!” bisik Kenzo pada Iwan.
“Ya, sepertinya begitu!”
“Papa tidak tau. Siapa itu Jackson Morren?” tanya Marco sambil mengupil.
“Tidak!”
“Jakson itu ya anakmu! Yanf pernah kau masukan ke penjara,” kata Marco. Lagi-lagi, Tuan Brahma di buat terkejut dengan semua kebenaran yang tidak terduga itu.
“Marco, kau meyumpahi papamu jantungan atau bagaimana?” Kenzo tidak tahan lagi dengan sikap Marco.
“Aku tidak meyumpahi, tapi aku berkata sejujurnya. Aku tidak ingin, papaku terkena serangan jantung!” ujar Marco lalu duduk di dekat papanya itu.
“Marco memang tidak waras.” Batin Kenzo.
“Jadi! Jackson itu adalah Rahmat? Anak kampung itu?” tanya Tuan Brahma.
“Iya, Jackson adalah putramu, dan dia adalah pimpinan Klam Dragon yang baru,” jelas Iwan.
“Jika sudah seperti ini! Apa yang harus kita lalukan?”
“Hancurkan!” sahut Kenzo.
“Tidak semudah itu,” balas Iwan. “Kita perlu meyusun rencana yang matang. Jika kita gegabah, bisa-bisa nyawa kita yang akan melayang lebih dulu.”
Di saat mereka sedang bicara serius, tiba-tiba ponsel Tuan Brahma berdering.
“[Hallo!]” Sahut Tuan Brahma.
__ADS_1
“[.. .. .. .. .. ..!]”
“[Apa!?]”
BERSAMBUNG!
.
.
.
Yuk.. sembari nunggu up, bisa mampir di karya yang ada di bawah ini!
JUDUL: KEPEDIHAN JIWA
AUTOR: ERMOLINA
"Ini yang terakhir kalinya kamu mengatakan untuk mati. Setelah ini kamu harus bisa mengontrol diri agar bisa sembuh," kata Abi tepat di telinga Larisa.
Wanita itu menganggukan kepalanya. "Jangan pergi dan tinggalkan aku, ya, Kak. Aku takut kalau, Kakak pergi," isaknya.
Abi menangkup pipi basah Larisa. "Kamu maukan sembuh?"
Dan Larisa mengangguk.
"Kalau begitu ikut dengan, Kakak. Lupakan masa lalu dan mulai hidup baru. Kakak, akan membantu serta menemani kamu."
Suasana tegang tadi berubah kembali normal dan Larisa sudah bisa dibujuk oleh Abi. Tanpa obat penenang gadis itu akhirnya istirahat dengan baik di kamarnya.
"Tante, Om, ada hal yang ingin saya bicarakan." Abi menemui orang tua Larisa di ruang tengah. Keduanya masih terkejut atas insiden tadi.
"Ada apa?" tanya Endra
"Saya ingin membawa Larisa pergi dari kota ini."
"Pergi? Buat apa dan kemana?" Davira tampak bingung juga khawatir.
"Bali. Saya akan membawa Larisa menjalani hidup barunya di sana. Menjauh dari hal-hal yang memicu gejala depresinya juga untuk melupakan hal-hal yang membuatnya tertekan. Apa lagi suasana di Bali juga bagus untuk kesehatan mental Larisa."
"Lalu Larisa akan tinggal dengan siapa disana? Kami gak mungkin ikut pindah ke sana?" tanya Endra
"Larisa akan tinggal bersama saya."
"Abi, Tante rasa itu gak mungkin. Kalian bukan-"
"Bukan pasangan yang sah maksud, Tante?" Abi langsung memotong perkataan Davira. "Sebelum pindah, saya akan menikahi Larisa secara agama."
__ADS_1
"Maksud kamu apa?" Nada suara Endra mulai meninggi.