DENDAM (Aku Bukan Bayangan)

DENDAM (Aku Bukan Bayangan)
APA ITU PRESDIR?


__ADS_3

Di sebuah Klinik, telah terjadi keributan. Pasalnya, Kenzo yang membawa Iwan ke Klinik tersebut, membuat Dokter dan perawat ketakutan.


“Cepat obati kakakku, jika tidak. Ku pecahkan kepalamu!” ancam Kenzo.


Dokter itu ketakutan, “Maaf, Tuan. Luka tembak yang ada di lengan kakak, Anda cukup parah. Kami tidak berani mengambil tindakan, karena alat di klinik ini sangat terbatas. Kami takut, akan terjadi sesuatu yang tidak baik terhadap kakak, Anda.” Jelas Dokter itu dengan tubuh bergetar. “Sebaiknya, Anda membawanya ke rumah sakit saja, agar bisa mendapatkan pertolongan yang baik. Karena dia harus segera di operasi untuk mengeluarkan peluru yang ada di lengannya itu!” Sambung Dokter itu.


Brak.. Kenzo menggebrak meja dokter itu. Ia sangat kesal dan juga emosi.


“Kalian bertiga! Hancurkan tempat ini, buat tua bangka ini kehilangan tempat bekerja nya!” perintah Kenzo pada ketiga anak buahnya. “Sedangkan kalian, cepat bawa kakakku. Kita bawa pulang, aku akan mendatangkan sendiri dokter terbaik, untuknya.” Sambung Kenzo.


“Kalian ingin tau kan, bagaimana rasanya tertembak!” Kenzo melepaskan satu timah panas pada salah satu perawat.


Dor..


“Arhhkk.. Ohh..” perawat wanita yang di tembak oleh Kenzo tepat di bagian lengannya itu. Langsung terjatuh dan tak sadarkan diri dengan darah yang mengucur seperti air.


“Tuan, kau kejam sekali! Suatu saat, kau pasti akan menerima karma atas semua perbuatanmu,” ucap Dokter itu, ia segera berjalan hendak memeriksa perawat nya itu, yang ternyata sudah tak bernyawa.


Kenzo tak mendengarkan sumpah serapah dari sang Dokter, ia berjalan dengan tegap seperti manusia tanpa dosa. Mengikuti anak buahnya yang membopong tubuh iwan ke dalam mobil.


Di saat Kenzo sedang cemas dengan keadaan kakaknya, lain lagi halnya dengan pasangan Jack dan Mayang. Kini, sepasang anak manusia itu. Tengah duduk di atas kasur empuk yang berkurang king size.


“Apakah kau bahagia menikah denganku?”


“Tidak! Ak-” jawab Mayang, belum sempat ia menyelesaikan perkataannya. Jack sudah lebih dulu memotongnya.


“Jika kau tidak bahagia menikah denganku, pergilah! Aku tidak akan lagi menahanmu untuk tetap berada di sisiku!” Jack berbicara tanpa menatap wajah Mayang. Ia mengulum lidahnya sambil menatap ke sembarang arah.


“Kenapa kakak mengusirku? Tidakkah kakak mendengarkan dulu perkataanku?” Mayang menangkup kedua pipi suaminya. “Aku tidak hanya bahagia menikah dengan kakak, tapi aku sangat sangat bahagia. Karena, cintaku tidak lagi bertepuk sebelah tangan,” ucap Mayang dengan lembut. Ia tidak ingin, Jack salah mengartikan perkataannya, dan menyebabkan psikis Jack kembali terganggu. “Tapi, masih ada satu hal yang mengganjal di hati Mayang,” ucap Mayang dengan lirih.

__ADS_1


“Apa? Coba katakan padaku?” kini Jack sudah berani menatap wajah Mayang. Setelah Mayang mengatakan isi hatinya.


“A-a-aku ingin bertemu dengan ayah,” kata Mayang. Setelah berbicara seperti itu, ia segera menundukkan kepalanya.


“Besok kita akan kesana! Aku akan membangun kembali usaha ayahmu,” kata Jack. Membuat Mayang senang bukan kepalang. Ia tidak menyangka, bahwa Jack mau menuruti keinginannya.


Sebenarnya, hati Jack belum bisa memaafkan perlakuan buruk yang ia dapatkan tempo hari. Tapi bagaimana pun, ia tidak mau membuat istrinya menderita.


“Aku akan membawamu kesana, juga mengembalikan usaha ayahmu. Tapi, aku memiliki satu syarat!” ujar Jack.


“Syarat apa?” tanya Mayang.


‘Kau tidak boleh melarangku, untuk melakukan apapun pada Baron dan juga teman-temannya,” kata Jack.


“Tidak, Mayang tidak akan melarang. Mereka lah penyebab ayah membenci Kak Rahmat waktu itu, jadi mereka harus membayarnya,” kata Mayang sambil memeluk pinggang suaminya.


“Jangan terlalu serius, aku hanya bercanda. Aku tidak akan lagi menyakiti ayahmu, meski aku membencinya,” Jack menarik kepala Mayang, agar bersandar di dadanya.


“Aku mencintaimu, kak. Aku mencintaimu sejak pertama kita bertemu, pria lusuh yang datang ke gudang beras milik ayah. Pria lusuh yang sangat baik dan ramah. Rasanya, aku ingin kau tetap seperti dulu, ramah kepada setiap orang, dan juga memiliki jiwa sosial yang tinggi,” ucap Mayang. Perlahan ia menghirup aroma tubuh suaminya. Berada di dekapan Jack, membuat ia merasa sangat nyaman.


“Kak, apa sebenarnya pekerjaan kakak? Kenapa kakak bisa sampai pada titik ini?” tanya Mayang, ia mendongakkan wajahnya pada dagu suaminya.


“Aku seorang Presdir di perusahaan B. Milik kakeknya Kak Dean.” Jawab Jack.


“Apa itu Presdir?” tanya Mayang yang tidak mengerti dengan kata Presdir.


“Presiden direktur!” jawab Jack singkat. Tangannya sibuk memainkan rambut istrinya yang tergerai.


“Jadi, suami Mayang adalah Presiden? Bukankah Presiden hanya ada satu?” tanya Mayang lagi.

__ADS_1


“Presiden negara dan presiden direktur tentu berbeda, presiden negara memang hanya satu. Sedangkan presiden direktur, ada di setiap perusahaan,” jelas Jack. Dengan sabar ia menjelaskannya kepada Mayang yang berasal dari pinggiran kota Jakarta itu.


“Lalu, kenapa banyak sekali orang berpakaian serba hitam yang mengelilingi kakak? Dan, kenapa saat mereka datang membakar gudang beras milik ayah dan membuat keributan di tempat lain, tidak ada polisi yang mencegah?”


Jack tidak bisa menjawab perkataan istrinya lagi, ia tidak mungkin memberitahu istrinya, bahwa ia adalah ketua dari kelompok mafia dan juga seorang psikopat gila.


“Sudah malam, tidurlah! Jangan bertanya lagi, aku sangat lelah,” ucap Jack. Lalu, pura-pura menguap. “Hoammm..”


Mayang segera berpindah posisi, membiarkan Jack berbaring di ranjang itu. Meski ia tahu, bahwa Jack menyembunyikan sesuatu.


“Kak Rahmat, pasti menyembunyikan sesuatu! Tapi, aku tidak boleh egois. Lambat laun, ia pasti akan menceritakan rahasia yang ia sembunyikan itu kepadaku,” batin Mayang. Ia pun, ikut membaringkan tubuhnya di sisi kanan Jack.


“Maafkan aku, aku tidak bisa memberi tahu mu segalanya,” batin Jack. Mereka berdua larut di dalam pikiran masing-masing.


Keesokan harinya, Mayang yang terbangun dari tidurnya. Tidak mendapati keberadaan suaminya. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Tapi, Jack tetap tidak terlihat.


“Pagi, sayang..!” Jack masuk ke dalam kamar itu, dengan nampan yang berisi makanan untuk Mayang. Dan juga, pakaian yang ia kenakan sudah rapi.


“Pagi..” balas Mayang dengan malu-malu.


“Kau sarapan lah! Aku akan pergi ke kantor. Nanti siang, aku akan kembali. Dan kita bisa pergi ke tempat ayahmu,” kata Jack.


Mayang mengagguk, lalu bangkit dari ranjang dan berjalan menuju ke kamar mandi.


Jack melihat jam yang melekat di pergelangan tangannya. Jam sudah menujukan, pukul setengah tujuh pagi. “Aku harus segera menuju kantor Brahma, sudah hampir dua minggu, aku tidak menemui tua bangka itu!” guman nya.


“Tua bangka siapa, Kak?” terkejutlah Jack di buatnya.


“Ahh.. Bukan siapa-siapa, hanya salah satu security di kantor,” Jack menjawab pertanyaan istrinya itu dengan kebohongan.

__ADS_1


__ADS_2