DENDAM (Aku Bukan Bayangan)

DENDAM (Aku Bukan Bayangan)
RENCANA JACK


__ADS_3

Saat Marco, Iwan dan juga Kenzo baru saja memasuki kediaman Tuan Brahma untuk membongkar semua drama yang di ciptakan oleh Jack.


Tiba-tiba saja, seseorang menggedor-gedor pintu kediaman Tuan Brahma itu.


“Pa.. Papa..” teriak suara teriakan yang terdengar kesakitan dari arah luar rumah itu.


Tuan Brahma, bersama Marco yang asli, Iwan dan juga Kenzo yang baru saja duduk dan mengobrol. Kini fokus pada suara yang ada di luar rumah itu.


Suara yang berasal dari luar itu, terus saja terdengar. Dan semakin lirih. Membuat Tuan Brahma kebingungan.


“Marco..” guman Tuan Brahma.


“Pa, akulah Marco. Aku ada di sini, pria yang bersama papa selama ini bukan aku, tapi anak kampung itu!” Marco yang melihat papanya nampak ragu, segera mencoba untuk meyakinkan.


“Aku pusing sekarang!” Tuan Brahma memegangi kepalanya yang terasa berdenyut.


“Pa.. Tolong Marco, mereka akan segera membunuh Marco. Menjauh lah dari mereka, atau mereka akan membunuh Papa juga,” teriak suara yang berasal dari luar.


“Tidak salah, itu putraku!” Tuan Brahma segera berlari dan meninggalkan Marco, Iwan dan juga Kenzo di ruang tamu itu.


Brak.. Tuan Brahma membuka pintu rumah itu. Dan tampaklah Jack sebagai Marco dengan pakaian kotor dan juga tubuh penuh luka. Penampilan kusut, seperti saat Marco sedang di sekap oleh nya dan juga Dean.


“Papa,” ucap Jack dengan lirih sambil memegangi perutnya.


“Marco, apa yang terjadi?” Brahma segera mengangkat tubuh Jack yang ia kira adalah Marco.


“Pa, jauhi dia. Dia bukan Marco, selama ini dia menculik dan mengurung Marco, agar dia bisa menggantikan Marco dan merebut semua harta kita, sebagai balas dendam nya. Karena, kita telah memenjarakan dia,” kata Jack dengan suara yang lemah.


“Kurang ajar! Selama ini, mereka telah menipu papa,” geram Tuan Brahma. “Pengawal! Cepat kumpul, dan tangkap tiga orang itu!”


Marco, Iwan dan juga Kenzo terkejut. Bagaimana mungkin, rencana mereka bisa gagal total seperti itu. Mereka mengira, rencana mereka bisa berhasil dengan mudah, jadi mereka bertiga tidak membawa anak buah dan juga alat pelindung.


“Bagaimana ini, Kak? Kenapa bisa seperti ini? Dari mana Jack tau semua rencana kita,” bisik Kenzo.


“Sepertinya, ada mata-mata yang mereka selundupkan di antara anak buah kita,” kata Iwan.


“Lalu sekarang, kita harus bagaimana?” tanya Marco.


“Kita hanya bisa mundur, nanti kita akan pikirkan rencana lain,” kata Iwan.

__ADS_1


“Pa, Marco sudah tidak tahan,” kata Jack. Setelah itu, ia berpura-pura tak sadarkan diri.


“Marco, bangun! Papa akan membawamu ke rumah sakit!” Tuan Brahma cukup panik melihat keadaan putranya. Ia memeluk tubuh bau dan kotor itu.


“Cihh.. Bau sekali tubuhku,aku sangat tidak tahan mencium aroma nya,” batin Jack. Matanya terpejam, ia menahan diri agar actingnya tidak buyar.


Sedangkan di dalam rumah itu, Marco, Iwan dan juga Kenzo yang di seret oleh para pengawal Tuan Brahma, tidak melawan sama sekali. Bagaimana pun, mereka tidak mau membuat Tuan Brahma semakin mempercayai Jack dan meragukan mereka.


“Pa, aku Marco. Aku lah Marco, dia itu anak kampung yang bodoh itu, Pa!” Marco berteriak sambil memberontak dari kedua tangan pengawal yang mencekal tangannya.


“Lempar mereka keluar!” perintah Tuan Brahma.


“Pa, dengarkan Marco. Atau, Papa akan menyesal nanti!” Marco terus memberontak.


Kenzo pusing mendengar suara Marco yang begitu melengking dan memekakan telinga. “Ck.. Diam lah! Tidak ada gunanya kau berteriak, lihatlah! Papamu saja tidak mengenali mu,” kata Kenzo dengan kesal.


Marco, Iwan dan Kenzo yang di seret keluar, berpapasan dengan Jack yang pura-pura tak sadarkan diri. Jack menyunggingkan senyuman mengejek ke arah mereka. Membuat ketiga orang itu menjadi kesal setengah hidup.


“Kurang ajar, ku pukul kepalamu itu sampai benjol!” maki Marco sambil berjalan terpaksa karena di seret pengawal.


Setelah sampai di luar gerbang rumah itu. Barulah para pengawal melepaskan mereka.


“Aku heran denganmu, kau perempuan atau laki-laki sih! Mulutmu sangat pedas, seperti bon cabe level 13,” kata Kenzo sambil mencebikkan bibirnya.


“Kau jangan meledekku! Aku akan membuat perhitungan dengan tua bangka itu, setelah dia mengetahui bahwa aku adalah Marco,” ucap Marco. “Akan ku pukul hidung tuanya sampai mengeluarkan darah!” sambungnya sambil membanting pintu mobil Kenzo.


“Hey! Pelan kan tangamu, mobil Sportku bisa lecet dan rusak!” Kenzo meneriaki Marco yang baru saja membanting pintu mobilnya.


“Kalian berdua bisa diam tidak!” bentak Iwan, ia kesal kepada adiknya dan juga Marco yang seperti tom and jerry itu. Tidak pernah akur, membuat kepalanya pusing. “Kalian berdua bukannya memikirkan cara untuk menghancurkan Jack, tapi malah bertengkar terus menerus.”


“Maaf,” ucap Marco dan Kenzo bersamaan.


.


.


.


Kembali ke kediaman Tuan Brahma, kini ia dan beberapa pengawal sedang sibuk membopong tubuh Jack ke dalam mobil. Tuan Brahma dan beberapa pengawalnya hendak membawa Jack ke rumah sakit, agar segera mendapatkan penanganan.

__ADS_1


Mobil Tuan Brahma melaju dengan cepat, melewati mobil Kenzo yang berada di pinggir jalan begitu saja.


“Tua bangka itu benar-benar membawa cowok kampung itu ke rumah sakit,” guman Marco.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh menit, akhirnya mobil Tuan Brahma dan pengawalnya tiba di rumah sakit. Mereka segera memanggil perawat, agar segera membawa Jack menggunakan brankar.


Tidak butuh waktu lama, dua perawat datang dengan tergesa. Mereka segera memindahkan Jack ke atas brankar dan membawa Jack masuk ke dalam rumah sakit.


Dokter membawa Jack masuk ke UGD, dan menutup pintu. Sedangkan Tuan Brahma dan para pengawalnya, sedang menunggu di luar ruangan. Tuan Brahma nampak cemas di buat nya.


Saat Dokter hendak memeriksa Jack. Tiba-tiba saja, Jack bangun dari tidurnya. Membuat Dokter dan kedua perawat yang menangananinya menjadi terkejut.


BERSAMBUNG!


.


.


.


Sembari menunggu Jack update, kalian bisa mampir di karya yang ada di bawah ini! Di jamin, ceritanya keren banget dan juga seru.


Judul: Di khianati karena tak kunjung hamil


Author: Senja_90


Kehamilan merupakan sebuah impian besar bagi semua wanita yang sudah berumah tangga.


Begitu pun dengan Arumi. Wanita cantik yang berprofesi sebagai dokter bedah di salah satu rumah sakit terkenal di Jakarta. Ia memiliki impian agar bisa hamil. Namun, apa daya selama 5 tahun pernikahan, Tuhan belum juga memberikan amanah padanya.


Hanya karena belum hamil, Mahesa dan kedua mertua Arumi mendukung sang anak untuk berselingkuh.


Di saat kisruh rumah tangga semakin memanas, Arumi harus menerima perlakuan kasar dari rekan sejawatnya, bernama Rayyan. Akibat sering bertemu, tumbuh cinta di antara mereka.


Akankah Arumi mempertahankan rumah tangganya bersama Mahesa atau malah memilih Rayyan untuk dijadikan pelabuhan terakhir?


Kisah ini menguras emosi tetapi juga mengandung kebucinan yang hakiki. Ikuti terus kisahnya di dalam cerita ini!


__ADS_1


__ADS_2