
Mayang yang memang belum tidur, sengaja menunggu kepulangan suaminya. Ia di temani oleh Sam di ruang tamu rumah Kakek itu.
Ia di buat terkejut bercampur panik setelah melihat, Erick, Dean, Argo dan juga beberapa anak buah lainnya yang menggotong tubuh Jack dan juga Marco.
“Kak, kenapa bisa begini!” Mayang berlari menghampiri Jack yang di gotong dalam ke adaan tak sadarkan diri itu.
“Kak Dean, kenapa bisa begini? Siapa yang melakukannya?” teriak Mayang pada Dean yang berada di sebelah anak buahnya yang menggotong Jack.
“Ceritanya panjang, biarkan mereka membawa Jack dan Marco untuk beristirahat!” Dean meminta Mayang minggir dari ambang pintu, agar anak buahnya dapat membawa Jack dan Marco masuk kedalam rumah.
“Cepat hubungi dokter Hardi, Sam!” perintah Dean pada Sam yang setia berada di samping Mayang.
“Tolong katakan, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kalian membawa penjahat itu bersama suamiku?” Mayang menarik pakaian Argo. Ia tidak terima, jika Marco di tempat kan satu ruangan bersama suaminya.
“Maafkan, kami, Nona. Tuan Jack berkelahi dengan kakaknya,” kata Argo. “Kami sengaja membawa mereka bersama, karena mereka baru saja berbaikan dan menghabisi Tuan Brahma bersama, sebelum mereka tak sadarkan diri!” jelas Argo. Ia menceritakan, cerita yang ia dengar dari Dean kepada Mayang.
.
.
.
“Kak, kumohon. Buka matamu,” ucap Mayang yang duduk di kursi samping ranjang tempat Jack di baringkan.
“Buka matamu, demi aku, Kak,” ucapnya lagi. Tiada lelah, Mayang terus menunggu Jack sadar dari pingsannya. Ia menggegam jemari Jack yang terasa dingin bagaikan mayat.
__ADS_1
Perlahan jemari Jack, yang di genggam oleh Mayang bergerak. Mata Jack perlahan terbuka.
“I-i-ibu..” Jack sadar dan mengucapkan kata ibu.
“Kak, kakak sudah sadar?” Mayang tersenyum sembari mengusap air matanya.
“Kak Dean! Sam!” Mayang berjalan keluar ruangan, ia memanggil Dean dan Sam. “Kak Dean, Sam! Kak Jack sudah sadar!” teriaknya senang.
“Ibu, di mana ibuku?” tanya Jack, ia berusaha bangkit dari tidurnya dan mencari keberadaan ibunya.
“Jack, kau sudah sadar!” Dean mendekati Jack, dan hendak memeluknya. Tapi, Jack menghentikan langkah Dean.
“Siapa kalian? Di mana ibuku?” tanya Jack sambil menatap Dean, Mayang dan juga Sam yang ada di hadapannya. “Dan, siapa Jack?” tanya nya dengan heran.
“Aku bukan Jack, namaku Rahmat,” kata Jack.
“Ada yang tidak beres! Aku harus memanggil dokter Hardi kembali,” kata Sam. Lalu, ia segera berlari keluar untuk menjemput dokter Hardi yang baru saja pulang.
“Kak, ini aku, Mayang. Istrimu,” kata Mayang sembari duduk di sebelah Jack.
“Minggir! Aku tidak punya istri, umurku saja masih 17 tahun,” kata Jack.
Dean melongo setelah mendengar perkataan Jack.
“Jack, kau kenapa?” tanya Dean.
__ADS_1
Di saat Dean dan Mayang sedang kebingungan. Tiba-tiba, Marco yang berada di ranjang sebelah Jack terbangun.
“Di mana adikku?” tanya Marco yang tubuhnya lebih bugar dari tubuh Jack.
“Kamu?” tunjuk Jack. “Kamu saudaraku?” terka Jack pada Marco.
Marco mengangguk, Jack segera berjalan tertatih ke arah ranjang Marco. “Akhirnya, kita bertemu. Ayo kita pulang, kak. Ibu pasti senang,” kata Jack.
Marco diam mematung, ia heran dengan sikap Jack yang berbeda.
“Kenapa dengan Jack?” batin Marco.
“Kak, kakak kenapa? Kenapa kakak lupa pada Mayang?” Mayang mendekati Jack yang sedang duduk di samping Marco.
“Kenapa dengan gadis ini! Kenapa dia selalu dekat-dekat,” ucap Jack. “Kak, tolong katakan pada gadis itu, jangan ganggu aku. Aku tidak ingin berpacaran, aku ingin melanjutkan sekolahku, aku akan meminta ayah kita untuk menyekolahkan ku.”
Marco termenung, pikirannya menjadi bercabang-cabang. “Inikah niatnya datang ke kota, untuk mencariku dan papa selama ini? Kenapa aku begitu jahat?” batin Marco.
“Aku selalu merasa, bahwa aku lah anak yang paling tidak beruntung karena tidak mendapatkan kasih sayang dari mama, tapi ternyata, batin adikku jauh lebih tersiksa.”
“DIA AMNESIA!” ujar Marco pada Dean dan Mayang.
BERSAMBUNG!
Huwaa.. Maafkan saya yang semakin gila dan menjadi ini.
__ADS_1