DENDAM (Aku Bukan Bayangan)

DENDAM (Aku Bukan Bayangan)
OPERASI


__ADS_3

Kini, Jack dan seluruh Anggota Klan Dragon sudah bersiap kembali ke tempat masing-masing. Erick dan Argo di tugaskan untuk membawa Jenazah Iwan, Karena bujukan Jack, akhirnya Ken setuju untuk ikut mereka.


Saat telah berada di area luar hutan, Jack mengecek ponselnya. Ia mendapatkan pesan dari Kakaknya, yaitu Marco.


“[Istrimu pendarahan, kami sedang menuju rumah sakit sekarang.]”


“[Jika kau menerima pesan ini, cepatlah pulang. Istrimu menunggu kehadiranmu!]”


Dua pesan yang ia terima dari Marco. Raut wajahnya begitu cepat berubah, ia meminta Dean menghentikan mobilnya.


Jack segera turun dari mobil itu, dan melambaikan tangannya pada anggota Klan yang mengendarai motor terabas di bagian bagian belakang.


“Apa yang ingin kau lakukan, Jack?” tanya Dean.


“Aku harus ke rumah sakit sekarang, istriku menungguku. Jika aku menaiki mobil ini, jam 8 pagi baru akan sampai!” jelas Jack. Ia pun segera mengambil alih motor trabasan itu dari anggota Klannya.


“Aku pergi duluan!” Jack segera menancap gas setelah selesai memasang helm.


.


.


.


Saat ini, Marco sedang menemani Mayang di ruang perawatan. Dokter sudah meminta Marco keluar, tapi Mayang tidak ingin di tinggalkan. Jadi, Marco tetap memaksa untuk menemani isfri adiknya itu.


“Kak, Mayang sudah tidak tahan lagi!” Mayang mencakar lengan Marco dengan keras dan kasar untuk mengurangi rasa sakitnya.


“Bersabarlah, Mayang. Aku tidak berani mengambil tindakan, Jack belum jug kembali!”


“Bagaimana ini, Dokter? Pasien terus mengalami pendarahan, kita harus segera mengambul tindakan. Jika tidak, keduanya tidak akan bisa di selamatkan!” ujar seorang perawat.


“Bagaimana, Pak? Bapak dengar sendirikan?” Dokter itu menatap wajah Marco yang kelihatan begitu gusar.

__ADS_1


“Baiklah! Operasi saja dia sekarang, lebih baik selamatkan salah satunya dari pada mati keduanya!”


Mendengar persetujuan Marco, Dokter itu meminta Marco menandatangani surat perjanjian untuk operasi Mayang. Marco segera menandatangani surat itu.


Setelah itu, Dokter segera menyuntik Mayang dengan suntikan bius. Mayang segera di pindahkan ke dalam ruangan operasi.


Dengan setia, Marco dan Sam menunggu diluar ruangan operasi itu. Sebelumnya, Marco sudah memaksa ingin ikut masuk. Tapi, tidak di izinkan oleh Dokter dan perawat.


“Kak, bagaimana ini? Apakah Mayang akan mati?” Perkataan Sam, membuat Marco menatapnya dengan tatapan tajam.


“Ahh.. Maksudku, apakah Mayang akan baik-baik saja?” Sam menggigit jarinya, ia salah bicara lagi.


“Aku tidak tau, aku bukan dokter dan juga bukan TUHAN. Kita tunggu saja dan berdoa yang terbaik, semoga TUHAN menyelamatkan keduanya!” ujar Marco.


.


.


.


“Bayinya sudah di keluarkan, dan perempuan,” ucap Dokter itu.


“Alhamdulillah!”


“Ta-pi!”


“Tapi apa, dokter?” tanya Marco dan Sam bersamaan.


“Tapi, ibu bayi mengalami kritis karena kehilangan banyak darah. Kami akan mencoba untuk melakukan yang terbaik!”


“Apakah kami boleh melihat bayi itu, dan menggedongnya, dokter?” tanya Marco. Ia ingin sekali melihat dan menggendong keponakannya yang baru saja di lahirkan itu.


“Maaf, tidak bisa! Bayi itu lahir dalam keadaan Prematur, jadi bayi itu harus tetap berada di dalam incubator!”

__ADS_1


“Yeahh!” Marco menatapnya kecewa pada Dokter itu.


“Saya permisi dulu!” Dokter itu meninggalkan Sam dan Marco yang berdiri di depan ruangan operasi itu. Mereka menunggu pada perawat membawa Mayang keluar dan memindahkannya ke ruang rawat.


.


.


.


Brak! Jack membanting motor trabasan yang ia kendarai di halaman rumah sakit. Begitu juga dengan helmnya, ia membuang helm tak berdosa dan tak bersalah itu ke sembarang arah.


Ia tidak perduli dengan orang-orang yang memandang heran padanya, di area rumah sakit itu. Ia berlari tanpa menghiraukan sekitar.


“Kak!” panggil Jack. Keringat mengucur dari pori-pori kulitnya, dengan napas ngos-ngossan, ia memanggil Marco yang berdiri di depan ruang operasi bersama dengan Sam.


“Bagaimana keadaan istri dan anakku?” tanyanya.


“Anakmu sudah di pindahkan ke ruang anak, karena ia lahir prematur jadi ia di letakan di dalam incubator,” kata Marco.


“Lalu, istriku?” tanya Jack.


“Ia masih di dalam, keadaanya kritis dan sangat lemah,” ucap Marco dengan pelan. Ia takut, adiknya itu menjadi syok.


BERSAMBUNG!


.


.


.


Hahaha! Bikin mati aja Mayang-nya, ya! Gak berguna ini.

__ADS_1


__ADS_2