DENDAM (Aku Bukan Bayangan)

DENDAM (Aku Bukan Bayangan)
PANIK!


__ADS_3

Dak dak! Bruk!


Anggota Klan Dragon yang mengikuti pimpinan mereka menyerang markas Klan Tiger. Sedang berusaha mendobrak gerbang pengaman markas Klan Tiger.


“Kita di serang!” teriak salah satu anak buah Kenzo dan Iwan yang berjaga di area luar.


Blar blar, duarr! Ledakan di area luar markas. Markas bagian luar itu, telah menjadi pora poranda dalam waktu yang singkat.


Terkejutlah Iwan dan Kenzo yang berada di area paling dalam markas itu. Anak buahnya yang ada di luar sudah mulai menyebar dengan senjata mereka masing-masing.


Sedangkan Iwan dan Kenzo, sibuk berpikir di dalam ruangan persembunyian mereka.


“Kak, kenapa jadi begini? Baru saja kita membicarakan mereka, kini mereka malah berada di luar,” kata Kenzo. Terlihat jelas dari raut wajahnya bila ia sangat cemas dan khawatir.


“Aku tidak tau, mungkin selama ini mereka sudah menargetkan kita,” kata Iwan. “Lebih baik, kita mencari cara untuk kabur dari sini. Saat ini juga!” ujarnya. Ia meraih senjata mesin yang ia simpan di bawah lantai, ia membuka lantai itu dan mengambil senjatanya. Begitupun dengan Kenzo.


Mereka berdua bersiap-siap untuk kabur. Mereka diam-diam keluar dari tempat persembunyian mereka, dan menyelinap ke area belakang markas itu.


Tanpa mereka tahu, bahwa Jack dan Joe sudah lebih dulu sampai di area bagian belakang markas itu, mereka sudah menduga, bahwa Iwan dan Kenzo akan melarikan diri dari tempat itu.


“Joe, kau ikut aku kebelakang. Mereka pasti akan pergi dari markas ini melewati jalur hutan yang ada di belakang markas ini!” ujar Jack sembari berlari menuju area belakang markas.


Joe segera ikut berlari, ia mengikuti langkah Jack. Mereka pun tiba di area belakang markas, tapi di belakang tampak sepi. Dia ada pergerakan manusia sama sekali.


Kenzo dan Iwan yang juga telah tiba di area belakang, segera menghentikan langkah mereka. Mereka mendengar drap langkah kaki, di dalam kegelapan malam itu.


“Hust!” Iwan memberi isyarat kepada adiknya agar diam.

__ADS_1


“Mereka tidak ada di sini, Joe!” suara Jack membuat Kenzo geram.


“Mungkin mereka masih bersembunyi di dalam, Tuan!” ujar Joe.


Kenzo bersiap untuk membidik Jack di dalam kegelapan malam itu. Tapi, Iwan mencegahnya.


“Jangan,” ucap Iwan dengan lirih.


“Kenapa, Kak? Kalau dia mati, kita tidak perlu khawatir lagi,” kata Kenzo.


“Iya kalau dia mati terkena tembakanmu. Jika tidak? Maka bisa di pastikan, kita lah yang akan mati lebih dulu!”


.


.


.


“Aucchh!” Mayang terjatuh di lantai yang ada di depan pintu kamarnya.


“Kak, Kak Marco!” teriak Mayang. “Kak Marco, Sam!” teriaknya lagi.


“Aucchh, sakit!” rintihnya.


“Mayang!” Marco yang mendengar suara teriakan Mayang dari lantai atas itu, segera berlari. Di ikuti oleh Sam di belakangnya.


“Kak, tolong Mayang,” ucap Mayang. Tangan terus memegangi perutnya. Darah terus mengalir keluar dari area bawahnya.

__ADS_1


Marco dan Sam menjadi panik. “Mayang, kenapa bisa begini?” teriak Marco. Ia segera membopong tubuh Mayang.


“Sam, segera siapkan mobil! Kita kerumah sakit sekarang!” perintah Marco pada Sam.


“Iya, Kak!” Sam berlari lebih dulu menuruni anak tangga. Sedangkan Marco, tak kalah tergesa-gesanya dari Sam. Tapi, ia tetap berhati-hati karena saat ini ia sedang membopong tubuh Mayang.


“Kak, dimana Kak Jack. Mayang ingin di temani olehnya,” ucap Mayang dengan lirih. Keringat membasahi keningnya. Wajahnya sudah berubah pucat.


“Nanti dia akan pulang, jika dia tidak pulang. Maka aku akan menyusulnya,” ucap Marco. “Kau bertahanlah. Kita akan ke rumah sakit!”


“Sam, cepatlah sedikit. Kenapa lamban sekali!” gerutu Marco. Ia kesal pada Sam, yang sangat lama mengelurakan mobil dari bagasi.


“Maaf, Kak!”


Marco segera membawa Mayang memasuki mobil, ia menidurkan Mayang di kursi bagian belakang.


“Kak, sakit sekali,” ucap Mayang. Marco duduk dan mengalaskan pahanya untuk meletakan kepala Mayang.


“Ayolah Sam, tambah lagi kecepatan lajunya!” teriak Marco.


“Ini sudah cepat, jika ku tambah lagi. Kita bukan sampai ke rumah sakit, tapi ke rumah TUHAN!” Pekik Sam dengan kesal. Pasalnya, dari awal ia selalu saja di salahkan.


Marco memeganggi kepala Mayang dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya sibuk pada ponsel, ia mencoba untuk menghubungi Jack. Berulang kali ia mencoba, tapi nomer Jack tidak dapat di hubungi. Lalu, ia beralih pada Dean, tapi sama saja.


Ia pun memilih untuk mengirim pesan saja, nanti jika nomer Jack dan Dean aktip. Mereka pasti menerima pesan itu.


BERSAMBUNG!

__ADS_1


__ADS_2