
Jack tampak mengamati keadaan di sekitarnya. Setelah itu. Ia berteriak kepada Joe.
“Joe, ayo pergi! Mereka tidak ada di tempat ini.” Jack menarik Joe di dalam kegelapan malam itu.
Joe mengikuti Jack yang terus menariknya hingga tempat yang cukup jauh.
Sedangkan Iwan dan Kenzo yang merasa sudah aman, segera berjalan pelan dan keluar dari persembunyian mereka.
Belum lagi mereka berdua jauh, suara tembakan mengejutkan mereka.
Pyuu.. Pyuu.. Dor..
“Sial, lagi-lagi kita ditipu!” Iwan segera mendorong adiknya agar menjauh lebih dulu dari tempat itu.
“Pergilah, Ken. Aku yang akan menahan mereka,” kata Iwan kepada adiknya itu.
“Tidak! Kita berdua harus tetap bersama, apapun yang terjadi!” Kenzo menolak perintah kakaknya.
“Ken, dengarkan aku!” pekik Iwan tapi Kenzo tetap diam di tempatnya.
“Akhirnya, kalian keluar juga!” tiba-tiba, suara Jack terdengar sangat dekat dengan Iwan dan Kenzo didalam kegelapan malam itu.
“Aku tidak menyangka, bahwa kau sangat licik!” Iwan berbicara dengan geram pada Jack.
“Itu bukan licik tapi taktik untuk menangkap lawan!” ujar Jack dengan santai.
“Sial kau, Jack. Aku akan membunuhmu!” teriak Iwan. Iwan pun maju ke arah Jack berdiri. Ia menyerang Jack dengan membabi buta, karena Iwan tidak menggunakan senjatanya. Maka Jack juga melawan dengan tangan kosong. Dan terjadilah baku hantam antara Jack dan Iwan di dalam kegelapan malam itu.
__ADS_1
Begitu juga dengan Kenzo, ia melawan Joe. Tapi, mereka berdua berkelahi menggunakan senjata tajam, yaitu belati. Karena Joe kemana-mana selalu membawa belati kesanyangannya.
Brak.. Buk..
Iwan memukul tubuh Jack di dalam kegelapan malam, Jack pun terbatuk-batuk. Kedua orang itu, sudah babak belur. Tapi, Jack lebih parah dari Iwan.
Terbukti sudah, jika kekuatan dan daya tahan tubuh Iwan lebih besar jika di bandingkan dengan Jack.
Selama ini, Jack bertarung dan meraih kemenangan karena selalu menggunakan taktik bukan kekuatan ototnya.
Sementara itu, Joe sedang bergulat dengan Kenzo. Samar-samar, Joe melihat Jack yang sudah terpojok.
Kini, Jack sudah lemas. Ia tergeletak di tanah tapi ia masih sadar. Alias belum pingsan.
“Matilah kau, Jack!” Iwan mengeluarkan belatinya dan hendak menusuk perut Jack.
Dor.. Dor.. Erick melepas dua tembakan dan menembus punggung Iwan.
“Kak!” teriak Kenzo dengan sangat keras. Ia segera meninggalkan Joe dan berlari ke arah kakaknya yang tergeletak di samping Jack.
“Menyerahlah!” teriak Erick.
“Tidak! Kalian telah melukai kakakku!” teriak Kenzo.
“Jika kakakku pergi malam ini, maka aku akan ikut pergi bersamanya!” Kenzo memeluk tubuh kakaknya dengan erat. “Kak, jangan tinggalkan Ken. Ken tidak memiliki siapa-siapa selain kakak!”
Argo dan Joe hendak maju, tetapi Dean menahan mereka. “Biarkan dia!”
__ADS_1
“Kak, bangun. Tolong jangan tinggalkan Ken, Ken butuh kakak!”
“Hahaha.. Ja-ngan me-nangis, kau la-ki-laki. Ma-lu Ken!” Iwan masih mencoba tertawa di tengah rasa sakit yang ia rasakan di punggungnya.
“Lebih baik aku menjadi perempuan dari pada harus kehilangan, Kakak!” Kenzo terus menangis. Ia tidak perduli pada seluruh Anggota Klan Dragon yang melihatnya.
“Per-ju-angan ki-ta sudah berakhir. Kini, kakak sadar jika dendam tidak akan ada habisnya. Lagi pula, tua bangka itu sudah mati!”
“Kak, Ken janji. Ken akan menghabisi anak-anak Brahma dengan tangan Ken sendiri, tapi kakak harus sembuh! Ken akan balaskan kematian ayah dan ibu!”
“Apa maksudmu?” Jack bangkit, dan berjalan terhuyung ke arah Iwan dan Kenzo.
“Apa maksud kalian? Dendam apa, siapa yang membunuh ayah ibu kalian?” tanya Jack. Ia tidak mengerti dengan pembicaraan dua kakak adik itu.
“Ayahmu! Ayahmu lah yang telah menghabisi keluargaku! Aku akan membunuh mu!” teriak Kenzo.
“Aku tidak memiliki ayah, dia bukan ayahku! Tua bangka itu bukan manusia, dia juga telah menghabisi kakek dan ibuku,” kata Jack.
“Ja-ck.. To-long jaga adikku!” pinta Iwan dengan suara yang putus-putus. “Ken, tolong lupakan dendamu! Ikhlaskan semuanya, belajarlah menerima. Bergabunglah pada mereka, mereka orang baik!”
“Ken tidak bisa, kak. Mereka juga tidak akan bisa setulus kakak untuk menjaga dan menerima Ken. Ken hanya ingin kakak!”
“A-ku min-ta ma-af, Jack. To-long ja-ga adikku.”
Setelah itu, Iwan menghembuskan napas terakhirnya. Dan tamat! Eh.. Belum ya, Mayang kan masih di rumah sakit! Hahaha.
MASIH BERSAMBUNG!
__ADS_1