DENDAM (Aku Bukan Bayangan)

DENDAM (Aku Bukan Bayangan)
APAKAH DULU ADA AMPUN UNTUKKU?


__ADS_3

Di area pasar, sedang terjadi keadaan yang menegangkan. Pasalnya, beberapa orang berbadan kekar dan mengunakan pakaian serba hitam sedang mencari keberadaan Baron, Murat dan juga rekan mereka yang lainnya.


“Siapa di antara kalian yang bernama Baron?” teriak salah satu pria berbadan kekar dan berpakaian serba hitam itu.


Semua orang terdiam, mereka tidak berani angkat bicara. Keadaan di area pasar itu sangat mencekam, seperti sedang berasa di kawasan angker.


Tiba-tiba saja, suara seseorang berteriak dengan lantang. “Aku lah Baron, ada apa kalian mencariku? Dan siapa kalian?” Baron mendekat sambil menenteng bajunya. Mungkin ia gerah, jadi baju yang menutup kulit hitamnya ia lepaskan.


“Jadi, Kamu yang bernama Baron?” Seorang pria kekar yang berpakaian hitam itu, melepas kaca mata yang bertengger di hidungnya.


“Ya, aku lah Baron!” sahut Baron. Ia seakan tidak takut pada beberapa pria berseragam hitam itu. Seolah-olah, ia melupakan, bahwa ia pernah di hajar oleh anak buah Jack saat pembakaran gudang beras milik Pak Jono di lakukan.


“Di mana teman-temanmu yang lainnya?” tanya salah satu pria berpakaian hitam itu.


“Aku tidak tau!” sahut Baron lagi.


“Tangkap orang itu! Jangan biarkan dia kabur!” perintah salah satu pria berpakaian serba hitam itu kepada rekannya.


Mereka segera bergerak untuk menangkap dan melumpuhkan Baron. Tapi, Baron tidak diam saja. Ia melakukan perlawanan meski sia-sia.


Buk.. Buk.. Awalnya, terjadi baku hantam antara Baron dan satu anak buah Jack. Sedangkan anak buah Jack yang lain hanya menyaksikan dan menunggu. Meski Baron hanya melawan satu dari bagian anak buah Jack itu, tapi Baron tetap kalah tanding. Karena, orang yang di hadapi Baron adalah orang-orang terlatih, bukan preman pasar seperti Baron.


Buk..


“Huekk..! Baron memuntahkan darah, setelah lawannya meninju perutnya dengan keras.


Kini, Baron sudah lemah dan tergeletak di tanah area pasar yang sedang ramai itu.


“Seret dia!” perintah salah satu anak buah Jack, yang di tugaskan Jack memimpin rekannya mamasuki area pasar itu.


Dua anak buah Jack segera menyeret tubuh Baron. Kini, anak buah Jack bergerak mencari keberadaan Murat dan beberapa rekannya yang lain.


Tidak membutuhkan waktu yang lama, kini mereka sudah menemukan bahkan melumpuhkan Murat dan rekan rekannya.


“Cepat bawa mereka ke kediaman Orangtua Nona Mayang!” mendengar perintah dari rekan mereka, maka segera bergerak lah anak buah Jack menuju kediaman Pak Jono.


Sepuluh menit kemudian, para anak buah Jack yang membawa Baron, Murat serta rekan yang lainnya. Tiba di kediaman Pak Jono.


“Panggil Tuan Jack kemari,” kata salah satu anak buah Jack.


“Tidak usah, telpon saja. Dia pasti akan segera keluar,” kata rekan yang lainnya.


Maka, salah satu anak buah Jack. Segera menghubungi Jack yang berada di dalam kediaman Pak Jono.


“[Hallo, Bos! Kami sudah membawa mereka, dan kami sudah berada di halaman depan.]”

__ADS_1


“[Aku keluar sekarang!]” sahut Jack, lalu mematikan sambungan telpon itu.


Jack segera bangkit dari tempatnya duduk, lalu berjalan keluar dari rumah itu. Sedangkan Mayang, sejak tadi. Ia belum juga keluar dari kamarnya, sepertinya, ia sangat betah. Entah apa yang ia lakukan di dalam kamar itu.


Tap tap tap.. Suara sepatu pantofel mengetuk-ngetuk lantai rumah Pak Jono.


“Bawa mereka kemari!” perintah Jack pada anak buahnya, setelah ia sampai di teras rumah Pak Jono.


Mendengar perintah Jack, anak buahnya segera menyeret Baron, Murat dan dua rekannya ke hadapan Jack.


“Siapa kamu?” tanya Murat dengan wajah yang lebam.


“Kau tidak ingat?” Jack mendekatkan wajahnya pada wajah Murat. “Aku lah, pria desa yang kalian fitnah dan pukuli setiap hari di tempat ini!”


“A-a-apa?” Baron, Murat dan dua rekannya terkejut. “Kau Rahmat?” tanya Murat.


“Ya, aku lah pria kumuh yang selalu kalian perlakukan seperti hewan!” bentak Jack.


Grekk.. “Akkkrhh..!” jerit Murat saat Jack menginjak telapak tangannya.


“Ini sebagian kecil balasan untuk tanganmu yang selalu memukulku pada waktu itu!”


Setelah ia puas menginjak tangan Murat hingga berdarah, kini ia beralih pada Baron. Baron yang melihat Jack mendekat ke arahnya, segera mencoba untuk menghindar dari tempatnya dengan cara mengesot. Tapi semua sudah terlambat, Jack lebih dulu duduk berjongkok di hadapannya dan menarik rambutnya.


“Ahhhkkk.. Tolong lepaskan, ampuni kami,” kata Baron sembari mengeryit menahan sakit.


“Tolong ampuni kami, Rahmat. Kami menyesal,” ucap Baron.


“Ampuni! Apakah saat itu kalian mengampuni dan mengasihani aku?” tanya Jack, tangannya terus menjambak rambut Baron dengan sangat keras. “Apakah saat itu, kalian menganggap manusia? Tidak kan!” Jack melepaskan tarikannya. Namun, penderitaan Baron tidak cukup sampai di situ. Jack juga menginjak telapak tangannya seperti Murat.


“Arhhhkk.!” Baron terus merintis menahan sakit. Setelah merasa cukup puas, Jack berjalan melangkahi tubuh Baron.


“Sebaiknya, ku apakan kakimu ini?” Jack menendang kaki kiri Baron. Murat dan kedua temannya yang lain, hanya bisa menatap takut.


“Hey! Kalian semua. Hukuman apa yang pantas aku berikan kepada provokator ini!” Jack berteriak kepada seluruh anak buahnya. Dan jari telunjuknya menunjuk pada Baron.


Yang di anggap Jack paling bersalah adalah Baron, karena sejak awal, Baron lah yang menjadi provokator di antara ketiga temannya. Hingga teman-temannya ikut membenci Jack saat itu. Bahkan, tega membuat Jack di pukuli anak buah Pak Jono dan di usir dalam keadaan terluka.


“Patahkan saja kakinya, Tuan!” Salah satu anak buahnya Jack memberikan ide sambil menunduk kan wajahnya, karena ia takut salah memberi ide. Dan berakhir ia lah yang di patahkan kakinya oleh Tuan juga Bos nya itu.


“Hmmm.. Ide yang bagus!” sahut Jack. Saat ia hendak mengambil ancang-ancang untuk mematahkan kaki Baron. Tiba-tiba, Mayang meneriakinya.


“Kak..!” seru Mayang. Mayang yang mendengar suara berisik, segera keluar kamar dan berlari ke arah pintu rumah itu. Di mana ayahnya sedang berdiri, menyaksikan kekejaman Jack. Sudah cukup lama, Mayang melihat perlakuan Jack, hingga akhirnya, ia yang melihat Jack hendak mematahkan kaki Baron, menjadi tidak tahan. Ia pun memberanikan diri untuk memanggil Jack.


“Diam di tempatmu! Apakah kau melupakan perkataanku sebelum kita ke tempat ini!” teriak Jack pada Mayang yang hendak melangkah ke arahnya yang sedang berdiri di hadapan Baron yang sudah tidak berdaya.

__ADS_1


“Mayang tidak lupa, tapi tidakkah kakak kasihan pada mereka yang sudah tidak berdaya?”


Jack menatap wajah Mayang yang terlihat cemas dan ketakutan. Lalu, kembali menatap ke empat pria yang sudah tidak berdaya itu.


“Tolong, tolong ampuni kami, Tuan. Kami berjanji tidak akan mengulangi perbuatan kami, kepada siapapun,” ucap Murat.


Baron dan dua rekannya yang lain ikut meminta maaf. “Aku tidak akan memaafkan kalian semudah itu. Aku ingin kalian bersujud di bawah kakiku!”


Tanpa memikirkan harga diri mereka, Baron, Murat dan dua rekan lainnya segera bangkit dan berjalan sambil menarik kaki mereka yang terasa sakit ke arah Jack. Lalu mereka bersimpuh memohon maaf.


Mayang yang melihat hal itu, menjadi bernapas lega. Sedangkan, Pak Jono. Ia hanya bisa menatap dengan ketakutannya dalam diam.


“Ayo kita pulang! Aku sudah tidak tahan berada di tempat ini!” Ajak Jack pada Mayang.


“Kalian berlima, tinggalkan di tempat ini. Bangun kembali gudang beras yang ada di belakang, stabilkan kembali perekonomian Ayah dari istriku dan juga keempat pecundang ini!” perintah Jack kepada lima anak bbuahnya. Setelah itu, ia menggandeng Mayang pergi dari tempat itu.


“Sayang, terimakasih,” ucap Mayang sambil memeluk lengan suaminya.


“Untuk apa?” tanya Jack, Dingin.


“Untuk semuanya,”


“Jangan bangga, aku melakukan semuanya, bukan karena memaafkan mereka tapi karena tidak ingin melihatmu bersedih dan ketakutan,” kata Jack dengan cuek.


BERSAMBUNG


.


.


.


Penulis : Triplel. 1


Judul karya : Truly Madly Love


Hubungan jarak jauh tidaklah mudah. Apalagi jika keadaan yang sangat memaksa membuat mereka terpaksa menjalaninya.


Walaupun Lily lebih muda tujuh tahun dari Zack Alexander. Lily dapat membuktikan bahwa dia dapat bertahan dengan ketulusan cintanya.


Tujuh tahun bukanlah waktu yang singkat dalam menjalani hubungan jarak jauh. Pada tahun kelima, Zack menghilang. Lily kehilangan kontak dan semua akses terhadap Zack.


Dua tahun kemudian, mereka bertemu kembali. Namun, Zack telah memiliki keluarga kecil.


Akankah Lily menyerah tanpa menuntut penjelasan Zack?

__ADS_1



__ADS_2