
Di perusahan A. Saat ini, Jack yang sedang memainkan peran sebagai Marco. Sedang duduk di ruangan kerjanya. Tuan Brahma yang mendengar dari Li. Bahwa putranya telah kembali, segera bergegas menemui putranya itu.
“Marco.! Dari mana saja kau, selama dua minggu ini?” tanya Tuan Brahma pada Jack.
“Aku ada urusan bersama teman-temanku,” kata Jack.
“Lalu, kenapa saat ayah tanyakan pada Jhon, ia tidak tahu keberadaan dirimu?” tanya Tuan Brahma. Ia menyelidik lewat sorot mata Jack. Tapi ternyata, Jack sangat pintar meyembunyikan kebohongannya.
“Kenapa harus percaya pada Jhon, teman Marco kan banyak. Apakah, Papa tidak tahu! Bahwa sekarang, teman Marco banyak, terutama dari kalangan pembisnis,” kata Jack dengan santai. Agar tidak membuat Tuan Brahma curiga. Dan benar saja, Tuan Brahma langsung percaya begitu saja pada Jack.
“Benar juga, selama kau bekerja di kantor Papa. Kau jarang keluar lagi bersama Jhon,” kata Tuan Brahma sambil manggut-manggut.
Melihat Tuan Brahma yang tidak memiliki keraguan sama sekali, Jack sedikit menyunggingkan senyumannya. “Tua bangka bodoh! Mudah sekali di perdaya,” batin Jack.
“Dia masih mempercayaiku sebagai Marco, itu artinya, aku harus segera menyelesaikan misiku. Aku yakin, tidak akan lama lagi, Marco pasti akan kembali,” batin Jack lagi.
“Kalau sudah, sana! Papa pergilah, Marco ingin fokus menyelesaikan tumpukan berkas-berkas ini!” Usir Jack, dengan dalih ingin menyelesaikan tumpukan berkas.
“Kau mengusir Papa?” Tuan Brahma mengerutkan alisnya. Namun, Jack malah melolot. “Ahh.. Iya, papa akan pergi, agar kau bisa fokus,” kata Tuan Brahma. Lalu segera keluar dari ruangan kerja Jack.
“Ada-ada saja, anak itu. Sejak kapan dia semakin berani memarahi Papanya sendiri,” guman Tuan Brahma.
Li yang melihat Tuan Brahma seperti sedang menggerutu, segera menegurnya. “Ada apa Tuan? Kenapa Tuan kelihatan sedang kesal?” tanya Li.
“Tidak ada, apa-apa, Li. Aku hanya heran dengan sikap Marco, Aku merasa, dia berubah menjadi cerdas dan sedikit pendiam,” ucap Tuan Brahma.
__ADS_1
“Bukankah itu hal yang bagus, Tuan? Bukankah selama ini, itulah yang Tuan harapkan setelah bertahun-tahun, Tuan mengurusnya?”
“Ahh.. Kau benar juga, tidak ku sangka, dia dapat berguna secepat ini,” kata Tuan Brahma.
“Tidak sia-sia aku membesarkan anak itu dengan susah payah, ternyata dia sangat berguna untukku,” batin Tuan Brahma.
.
.
.
“Aih.. Kemana perginya Kenzo jelek itu! Kenapa belum juga kembali?” Marco mondar mandir di bawah anak tangga. Ia bingung, kenapa semua anak buah Kenzo tidak ada yang bisa di ajak bicara.
“Kau bisa diam tidak! Kau seperti seorang gadis yang sedang menunggu kekasihnya kembali!” Teriak Kenzo dari arah pintu masuk markas itu. Di belakangnya, ada beberapa anak buahnya yang membopong tubuh Iwan.
Keadaan Iwan masih sama seperti kemarin, hanya saja. Peluru yang bersemayam di lengannya sudah di keluarkan. Kenzo sengaja tidak membawa kakaknya ke rumah sakit, karena takut. Polisi akan mengenali mereka, Ya! Kenzo adalah seorang buronan. Lain hal nya dengan organisasi yang di dirikan oleh Kakek Petter, organisasi Klan Dragon sudah kerap bergabung dengan pihak kepolisian untuk mengusut sebuah kasus. Tapi, Berbeda dengan Klan Tiger, Klan Tiger adalah organisasi yang dua tahun terakhir sedang di buru oleh pihak kepolisian.
“Kau dari mana saja? Lalu kenapa dengan dia?” Marco memboombastis Kenzo dengan banyak pertanyaan.
“Ckk.. Kau ini! Aku dari menjemput kakakku. Ia ketahuan setelah menolongmu, dan dia tertembak,” kata Kenzo.
“Siapa yang berani menembak nya?” tanya Marco.
“Siapa lagi? Tentu saja Jackson, saudara kembar mu!”
__ADS_1
“Jangan mengada-ada, aku tidak pinya saudara kembar,” Marco tidak mengakui saudara kembarnya itu.
Kenzo segera memerintahkan anak buahnya membawa Iwan menuju kamar.
“Bawa kakakku ke lantai atas, biarkan dia beristirahat. Aku akan panggilkan dokter itu kemari,” kata Kenzo.
“Jadi bagaimana dengan diriku? Kapan aku bisa menemui papaku?” tanya Marco sambil mendekati Kenzo.
“Kenapa kau cerewet sekali? Seperti seorang wanita!” Kenzo kesal dengan mulut Marco yang cerewet. “Sudah lemah, tidak bisa apa-apa. Cerewet lagi!”gerutu Kenzo.
“Apa kau bilang? Kau bilang aku lemah?” Marco tidak terima dengan ucapan Kenzo. “Ku beri tahu ya! Aku kuat, aku tidak lemah. Sudah banyak gadis yang aku tiduri!” dengan bangga, Marco menepuk dadanya.
Pakk.. Kenzo memukul kepala Marco.
“Itu yang kau sebut kuat? Kegiatan di atas ranjang, tidak akan bisa menolongmu saat kau di serang oleh Jackson dan pada anak buahnya!”
“Begitukah? Lalu aku harus bagaimana?” tanya Marco sambil mengusap kepalanya yang di pukul oleh Kenzo.
“Kau tidak perlu melakukan apapun untuk saat ini, kau hanya perlu diam dan tidak banyak bicara. Sisanya menjadi urusanku dan kak Iwan,” kata Kenzo.
“Tapi, aku ingin bertemu dengan papaku!” teriak Marco.
Untuk sesaat, Kenzo menutup telinganya yang serasa peka karena teriakan Marco. “Belum saatnya, sekarang masih ada Jack di sampingnya,” kata Kenzo.
Marco pun, hanya bisa menghembuskan napas berat.
__ADS_1