DENDAM (Aku Bukan Bayangan)

DENDAM (Aku Bukan Bayangan)
MARCO VS JACK


__ADS_3

“Saat ini, istrimu sudah bersamamu! Serahkan berkas itu!” teriak Marco sambil melompat turun dari drum minyak yang ia duduki.


“Ambil saja, aku tidak butuh,” kata Jack. “Meski kalian mengambil alih kembali perusahaan itu, kalian tidak akan bisa membuatnya maju kembali,” sambungnya.


Jack segera membawa Mayang keluar dari dalam gudang itu. Lalu, ia segera menuju mobilnya.


“Kau tunggulah di sini, aku akan kembali kesana. Apapun yang terjadi, jangan pernah keluar!”


“Tapi, Kak. Lebih baik kita pulang saja, jumlah mereka banyak sekali. Lagi pula, siapa mereka, kenapa mereka menangkap Mayang?” tanya Mayang dengan heran.


“Pria yang mirip denganku adalah Marco, saudara kembar yang pernah ku ceritakan padamu,” kata Jack.


Jack pun hendak meninggalkan Mayang di dalam mobilnya. Tapi, Argo bersama yang lainnya datang.


“Jack, biarkan istrimu di antar pulang oleh Sam ke kediaman kakek, tidak baik baginya jika terus berada di tempat ini!” ujar Dean.


Jack pun setuju, ia meminta istrinya untuk ikut Sam pulang ke rumah Kakek. Karena, di apartemen sudah tidak aman bagi mereka.


Mayang pun hanya menurut, meski ia ingin tetap tinggal. Jack tidak mengizinkannya.


Setelah Sam yang membawa Mayang pergi dari dermaga itu, Jack dan yang lainnya mulai menyerang anak buah Kenzo yang masih tersisa di area luar dermaga.


“Kalian urus bagian luar, aku akan menyelesaikan dendamku pada Marco dan tua bangka itu, malam ini juga!” Jack segera berlari menuju ruangan di mana Marco dan yang lainnya berada.


Suara tembakan bersahutan di area dermaga. Membuat Kenzo, Iwan dan Marco terkejut.

__ADS_1


“Sial! Aku akan menghabisi mereka semua!” Kenzo yang merasa di permainkan oleh Jack, menjadi murka dan hendak pergi keluar untuk membalas serangan.


Belum lagi sampai di luar, Jack mengentikan langkahnya.


“Tunggu!”


“Ku bunuh kau, Jack!”


“Nanti saja jika kau ingin membunuhku, biarkan aku menyelesaikan dendamku lebih dulu pada orang yang ada di belakangmu!” tunjuk Jack pada Marco yang berdiri di belakang Kenzo.


Marco maju kehadapan Jack, “Baik! Kita selesaikan semuanya malam ini juga!”


Maka, menyingkirlah Iwan dan Kenzo. Dean yang juga baru tiba di dalam gudang itu, segera meyingkir.


Kedua kakak beradik itu, berkelahi tanpa menggunakan senjata tajam. Keduanya berkelahi menggunakan kekuatan dan tenaga masing-masing.


“Sialan kau anak kampung!” maki Marco saat Jack berhasil membogem wajahnya.


Pak, duk! Marco membalas dengan cara menendang kaki Jack serta memukul perut adiknya itu.


Cukup lama terjadi baku hantam antara kedua bersaudara itu. Hingga keduanya kelelahan dengan tubuh yang penuh memar dan luka.


“Kau salah, kau salah Marco. Jika, kau membenciku karena aku merebut kasih sayang ibumu! Maka, kau salah besar! Aku tidak pernah merebutnya, selama ini, aku dan ibu hidup dengan sangat menderita. Itu semua terjadi, karena Papamu, orang tua yang telah membuat kita ada di dunia ini!” Jack yang terbaring di lantai dengan pelipis dan sudut bibir yang berdarah, mencoba menjelaskan semuanya kepada Marco.


“Cukup! Aku tidak ingin mendengar semua omong kosongmu!” Marco berusaha bangkit, dan meraih senjata api yang tergelatak tidak jauh dirinya. Ia menodongkan senjata itu pada Jack.

__ADS_1


“Aku datang dari desa ke tempat ini, bukan untuk merebut papamu ataupun harta ibu yang di kuasainya. Tapi, awal aku datang ke tempat ini, hanya untuk meminta pengakuan dari papa dan juga dirimu. Tapi tenyata, aku tidak mendapatkan itu semua.”


Jack tersenyum ke arah Marco, Marco masih menatap Jack dengan senjata api yang tertodong ke arah Jack yang bersandar di tangki minyak.


“Kau ingin tau siapa papamu sebenarnya kan? Siapa papa kita?”


“Jangan berbelit-belit! Cepat selesaikan ceritamu!” Marco yang juga sudah lemah, terus bertahan. Ia tidak ingin tumbang di hadapan Jack.


“Mereka akan saling membunuh,” bisik Iwan pada Kenzo.


“Semoga saja, Jack mati lebih dulu. Jika dia mati, maka kita akan mendapatkan peluang yang besar. Dan, kita hanya perlu menyingkirkan Marco.”


“Papa yang sudah membesarkanmu, adalah seorang iblis. Ia telah membunuh kakek dengan cara yang keji, Marcus Morren adalah kakek kita, ayah dari mendiang ibu. Setelah dia membunuh kakek, dia mengasingkan kita ke pedesaan, tapi di pedesaan, kau terus sakit-sakitan. Ibu memohon padanya, agar mau membawamu bersamanya agar mendapatkan pengobatan dan juga pertolongan. Lama ibu memohon, akhirnya tua bangka itu mau membawamu, ia juga berjanji akan kembali untuk menjemputmu dan ibu. Tapi, sampai ibu menghembuskan napas terakhirnya, ia tidak pernah membawamu ke desa sekalipun!”


Terbelalak lah mata Marco, setelah mendengar cerita Jack.


“Marco, cepat habisi dia. Setelah itu, kau dan papa akan hidup bahagia!” Tuan Brahma tiba-tiba muncul di belakang Jack, dan meminta Marco untuk membunuh Jack.


Marco menatap Tuan Brahma dan Jack secara bergantian dengan tatapan yang sulit di artikan.


“Benarkah semua yang di katakan nya, Papa?” tanya Marco, tangannya masih mengacungkan senjata api.


“Be-be-benar, tapi Papa melakukannya karena terpaksa. Karena papa dendam kepada kakek mu, Marcus Morren. Ia tidak setuju Papa menikahi mamamu!”


Dor..!

__ADS_1


BERSAMBUNG!


__ADS_2