DENDAM (Aku Bukan Bayangan)

DENDAM (Aku Bukan Bayangan)
SAM POLOS ATAU BODOH?


__ADS_3

“Sayang, sejak kapan kamu merasa aneh pada diri kamu?” tanya Jack dengan lembut pada Mayang.


“Mayang gak ngerasa aneh, Mayang baik-baik saja,” timbal Mayang.


“Sam, kau carilah dokter perempuan. Bawa kemari,” bisik Dean pada Sam yang ada di sebelahnya.


Sam pun mengajak Marco ikut dengannya menuju rumah sakit untuk menjemput Dokter yang akan memeriksa Mayang. Tentunya, sudah melalui dokter Hardi.


“Kau ikut aku, Kak!” ajak Sam sembari menepuk pundak Marco. Marco pun mengikuti langkah Sam. Mereka berdua, segera menuju rumah sakit.


Sedangkan Dean, melihat Jack dan Mayang yang terus saja berpelukan. Menjadi jengkel, ia pun segera pergi meninggalkan dua orang itu.


“Sialan! Mereka berdua tidak punya mata.” Gerutu Dean. “Di kira aku batu apa?” ia pun segera keluar dari ruangan itu.


Sembari menunggu Dokter datang, Dean memutuskan untuk menghubungi Erick.


“[Hallo!]” sahut Erick di seberang telpon.


“[Hallo, bagaimana perkembangannya, Er?]” Tanya Dean.


“[Belum ada pergerakan, Tuan. Tapi, kami akan terus waspada. Dan tidak akan membiarkan mereka maju selangkah dari kita!]”


“[Pantau terus! Jika nanti Jack sudah lebih baik. Aku yang akan mengajaknya untuk membumi hanguskan sarang Klan Tiger!]”


“[Apakah, ingatan Tuan Jack sudah kembali?]” tanya Erick.


“[Sudah, ingatannya sudah kembali. Dan sepertinya, ia juga akan segera memiliki Jackson junior,]” kata Dean pada Erick yang menyimak di seberang telpon.


“[Benarkah, Tuan? Jika demikian, kami semua yang ada di sini, turut bahagia!]”

__ADS_1


.


.


.


Sam dan Marco kembali, mereka membawa seorang dokter muda.


“Ayo, Dokter!” Sam menarik pergelangan tangan dokter itu, seperti anak kecil yang memaksa ibunya untuk mendapatkan sesuatu.


“Tolong jangan menarik saya seperti ini! Saya bisa jalan sendiri,” ucap Dokter muda itu.


“Kau jalannya lama sekali, ku tarik biar cepat. Jika tidak, begini saja!” Sam melepaskan tarikan tangannya, lalu tiba-tiba, ia menggendong Dokter muda itu seperti karung beras.


“Brengsek! Apa yang kau lakukan? Cepat turunkan aku!” teriak dokter itu.


Marco yang berada di belakang Sam dan Dokter muda itu, menahan tawa. Begitukah cara Sam yang polos memperlakukan seorang wanita?


“Tapi tidak begini juga caranya!” Dokter muda nan cantik itu kesal pada Sam yang seenaknya.


Setelah sampai di kamar Jack dan Mayang. Sam menghempaskan tubuh mungil Dokter cantik itu ke atas sofa.


“Sam, apa yang kau lakukan dengan wanita itu?” teriak Jack.


“Aku memanggulnya, Kak. Agar cepat sampai,” kata Sam dengan bangga.


Plak! Tiba-tiba tangan dokter cantik itu melayang pada pipi kiri Sam.


“Hahahaa!” Marco yang sedari tadi mengekor akhirnya tertawa lepas.

__ADS_1


“Hahaha! Bisa gak tampar sebelah lagi?” pinta Mayang yang sedang duduk di pangkuan Jack.


Dokter cantik itu menatap ke arah orang-orang yang ada di sekitarnya.


“Tolong kau tampar Sam sekali lagi, aku akan membayarmu dua kali lipat nanti,” kata Jack. Sam mendelik lebar setelah mendengar perkataan Jack.


Plak! Satu tamparan lagi mendarat di pipi sebelah kanan Sam.


“Kalian jahat sekali,” ucap Sam yang cemberut sambil memegangi pipinya. “Aku hanya berniat baik padamu, Nona dokter. Tapi kau malah seperti ini.”


“Kau menarik paksa aku, kau memanggulku seperti karung beras. Kau pikir, aku apa?”


“Aku pikir apa? Ya dokter perempuan lah,” kata Sam dengan polos.


Marco menepuk jidatnya. Ia tidak habis pikir pada Sam, polos atau bodoh beda tipis, kan?


“Sudah-sudah!” Marco segera menyudahi perdebatan itu. “Tolong dokter segera periksa istri adik saya,” kata Marco.


Marco pun segera meminta dokter itu memeriksa Mayang.


Dokter itu segera memeriksa Mayang, ia tersenyum setelah selesai memeriksa.


“Bagaimana keadaan istri saya, dokter?” tanya Jack.


“Selamat ya, sebentar lagi. Anda akan menjadi seorang ayah,” kata Dokter itu.


“Ahh. Benarkah?” Jack begitu bahagia mendengarnya. “Kau dengar sayang, kau hamil. Kita akan punya anak!” Jack menciumi wajah istrinya di hadapan Sam,Marco dan dokter itu.


“Ehh, Nona Dokter. Dari mana kau tau jika siluman itu hamil? Memangnya kau pernah hamil?” tanya Sam pada dokter itu.

__ADS_1


“Jangan panggil saya Nona dokter, nama saya Sarah!” ujar dokter itu. “Dan satu lagi, memangnya untuk mengetahui seseorang hamil atau tidak, harus hamil terlebih dahulu?”


“Oh begitu?” Sam manggut-manggut.


__ADS_2