DENDAM (Aku Bukan Bayangan)

DENDAM (Aku Bukan Bayangan)
AKHIR DARI BRAHMA


__ADS_3

Dor..!


“Jack!” pekik Dean.


Ia begitu terkejut mendengar suara tembakan yang tiba-tiba. Di lihatnya, Jack masih duduk bersandar di tangki minyak dengan mata terpejam.


Perlahan Marco mendekati Jack. “Bunuh saja aku, Marco!” Jack tersenyum pada Marco yang berdiri tepat di hadapannya.


Namun, Jack di buat terkejut dengan Marco yang tiba-tiba mengulurkan tangannya.


“Bangun lah! Aku akan singkirkan dia untukmu, untuk mama dan juga kakek!”


“Arhhhkk!” erang Tuan Brahma yang terluka di bagian kaki akibat terkena serempetan tembakan Marco.


Semua orang yang ada di ruangan itu terkejut, mereka tidak menduga dengan semua yang di lakukan oleh Marco.


“Kini semuanya sudah jelas Brahmana! Kau membesarkan ku hanya untuk meraih ke untungan yang besar.”


“Kau bunuh kakekku, kau bohongi mamaku, kau sakiti adikku, kau pisahkan kami, kau rampas kebahagian itu. Kau adalah manusia yang sangat buruk! Beruntungnya aku, mengetahui semuanya sebelum terlambat.”


Marco mengangkat tubuh Jack dengan sekuat tenaga.


“Aku akan balaskan semua penderitaan yang di rasakan oleh mama dan juga adikku!”


“Marco! Apa yang kau bicarakan?” Tuan Brahma hendak mencuci otak Marco.


“Aku sudah mendengar semuanya! Aku sudah mendengar semua pembicaraan mu dan Li. Kalian mengatakan, akan menyingkirkan aku setelah semua tujuan kalian terpenuhi, benar begitu, bukan?!”


Dor..! Lagi, Marco melepaskan tembakan pada kaki Tuan Brahma yang sebelah kanan.


“Ini untuk Mamaku!”

__ADS_1


Dor..! “Yang ini untuk kakekku!” lagi, tembakan menembus lengan Tuan Brahma.


Bruk.. Tuan Brahma terduduk dengan lutut yang menahan tubuhnya.


Marco hendak melepaskan timah panas itu lagi, tapi ia tidak tega saat melihat wajah tua Brahma yang meringis menahan sakit.


“Berikan padaku!” Jack merampas senjata api yang ada di tangan kakaknya itu. Lalu, mendorong tubuh Marco dengan keras, membuat Marco terdorong ke belakang dan terjatuh lalu pingsan.


Dor dor! Jack melepaskan dua tembakan berturut ke arah dada Brahma. Bersamaan dengan itu, mata tua Brahma resmi tertutup. Ia tewas di tangan putra kembarnya.


Tiba-tiba, Jack menutup matanya dan terjatuh di samping Marco.


Brukk!


Kedua kakak beradik itu hilang kesadaran dalam waktu bersamaan.


“Jack!” pekik Dean.


Di saat Kenzo dan Iwan hendak mengambil kesempatan untuk menghabisi Jack dan Marco secara diam-diam. Tiba-tiba saja, Erick dan yang lainnya memaksa masuk kedalam ruangan itu. Alhasil, rencana Iwan dan Kenzo gagal. Mereka segera menyelinap kabur dari tempat itu sebelum Erick dan yang lainnya menyadari keberadaan mereka berdua.


“Cepat bawa mereka berdua!” perintah Dean pada anggota Klan Dragon yang ikut.


“Kenapa di bawa kedua-duanya?* tanya Argo.


“Mereka berdualah yang telah menghabisi Brahma, ayah mereka sendiri!”


“Hah? Benarkah itu?” tanya Erick dan Argo. Mereka tidak percaya dengan apa yang mereka dengar.


“Coba lihat itu!” tunjuk Dean pada Mayat Brahma yang ada di pojok ruangan.


“Kita bawa mereka berdua, lalu bagaimana dengan mayat-mayat ini?” tanya Argo.

__ADS_1


“Telpon saja polisi setelah kita cukup jauh dari tempat ini, biar polisi yang mengurusnya,” kata Dean.


Mereka pun segera membawa Marco dan Jack yang tidak sadarkan diri. Dan segera meninggalkan dermaga itu.


.


.


.


“Kita bawa mereka kemana?” tanya Argo pada Dean dan Erick.


“Bawa saja mereka ke rumah utama, yaitu rumah kakek,” kata Dean.


“Kenapa tidak di bawa ke rumah sakit saja, Tuan?” ujar Erick.


“Jack tidak suka keramaian, jika nanti dia terbangun dan berada di rumah sakit, maka ia akan marah,” kata Dean. “Jadi, lebih baik kita panggil saja dokter dan perawat nya ke rumah, Kakek.”


“Baiklah kalau begitu!”


“Oiya, kemana Iwan dan Kenzo?” Dean baru ingat, bahwa ada Iwan dan Kenzo di tempat itu.


“Memangnya di sana ada Iwan?” kejut Erick.


“Ya! Saat Jack dan Marco berkelahi, mereka ada di sana. Tapi, setelah Brahma tewas, mereka tidak terlihat lagi.”


“Mungkin mereka berdua kabur, setelah melihat kita memasuki ruangan itu, Bang!” terka Argo.


“Bisa jadi!” Dean ikut menimpali.


BERSAMBUNG!

__ADS_1


Mon maaf, makin ngawur dan ngalor ngidul.


__ADS_2