
Setengah bulan kemudian.
“Kak, besok kita pulang, ya. Aku bosan di sini, aku kangen sama ibu. Ibu pasti sangat senang, karena Ram udah bisa nemuin kakak,” kata Jack pada Marco. Marco hanya bisa diam, ia bingung harus menjawab apa. Melihat rupa ibunya saja ia tidak pernah, dan bagaimana ia tahu, di mana kampung tempat Ibu dan adiknya itu tinggal.
“Kak, kenapa kakak selalu diam? Apa kakak gak mau ketemu sama ibu?” tanya Jack.
“Emm, istirahatlah. Gak usah banyak berpikir, aku mau keluar sebentar.” Marco hendak berjalan meninggalkan Jack di dalam kamar itu, tapi, Jack mencekal tangannya.
“Tunggu! Kakak gak boleh pergi, sebelum kakak jelaskan semuanya!”
“Kamu mau kakak menjelaskan apa?” Marco mencoba menahan gejolak di dalam dadanya. Ia takut salah bicara pada adiknya dan membahayakan kondisi adiknya yang sudah hampir membaik itu. Tapi, sepertinya Marco sudah mulai tidak tahan.
“Kenapa kalian semua yang ada di dalam rumah ini sangat aneh? Tidak pernah ada yang mau menjawab pertanyaan ku. Dan kenapa kalian menyebut Ram dengan sebutan Jack? Kenapa gadis yang ada di luar itu selalu menangis jika melihatku?” tanya Jack panjang lebar dengan rasa penasarannya yang begitu besar.
“Wanita itu istrimu, Jack. Istrimu! Mereka adalah saudara angkatmu! Dan ibu yang kau sebut-sebut itu bukankah sudah lama meninggal?” pekik Marco. Hingga terdengar ke luar ruangan, membuat Mayang, Dean dan Sam yang ada di luar ruangan itu segera berlari memasuki kamar.
“Hahaha.. Mana mungkin!” Jack tertawa, ia tidak percaya dengan semua yang ia dengar.
“Cobalah, untuk mengingat! Jika kau malas untuk mengingat semuanya, maka kau akan melupakan dan kehilangan segalanya,” kata Marco sembari memegangi kedua bahu Jack.
__ADS_1
Jack mulai mengerang kesakitan, setelah mendengar perkataan Marco.
“Marco, apa yang kau lakukan? Kau bisa membunuhnya!” Dean mendorong tubuh Marco agar menjauh dari Jack.
“Minggir!” Jack mendorong tubuh Dean yang hendak mengangkat tubuhnya yang terduduk di lantai. “Jangan sentuh aku, biarkan kakakku menjelaskan semuanya.”
“Biarkan dia mengingat segalanya, aku sudah lelah membantunya dengan perlahan. Biarkan dia mencoba, meski dia mati menyusul mendiang ibunya dan juga Brahma sekalipun!” ujar Marco dengan wajah memerah. Entah apa yang sebenarnya di pikirkan oleh Marco.
“Brahma Brahma, Brah-ma!” mata Jack mulai berkunang, lalu beberapa detik kemudian. Ia hilang kesadarannya kembali.
“Kak, bangun. Mayang mohon, bangunlah!” setelah Jack hilang kesadaran, barulah Mayang mendekat. Wanita itu menangis dengan keras.
“Pria gila! Dia ingin menghabisi Jack dengan cara seperti ini. Jika terjadi sesuatu pada Jack, aku akan menghabisi nya!” Dean sangat geram dengan apa yang di lakukan oleh Marco.
“Sabar lah, Kak. Aku yakin, dia melakukan semua ini. Pasti ada alasan yang kuat di baliknya,” ucap Sam sambil mengangkat tubuh Jack.
“Alasan apapun itu, dia sudah membahayakan keselamatan Jack. Apa yang akan ku katakan pada Kakek, jika ia kembali nanti!”
Sedangkan di luar ruangan itu, Marco tidak benar-benar pergi. Ia mendengarkan semua perkataan Dean dan Sam.
__ADS_1
“Maafkan aku, aku terpaksa melakukannya. Aku tidak ingin Jack selalu seperti ini, setelah ini aku yakin, hanya ada dua kemungkinan, ingatannya akan kembali atau justru sebaliknya,” ucap Marco dengan lirih. “Semoga saja, hal baik yang akan terjadi setelah ini. Mama, maafkan Marco yang terlambat mengetahui dan menyadari semua ini.”
.
.
.
“Kak, sudah hampir sebulan. Kenapa tidak ada kabar dari Klan Dragon?” ujar Kenzo pada Iwan.
“Entah lah, atau jangan-jangan salah satu dari anak kembar itu sudah mati!” terka Iwan.
“Gak mungkin, Kak. Gak mungkin salah satu dari mereka mati secepat itu,” kata Kenzo.
“Kirimkan anak buahmu untuk mencari tau keadaan di luar sana, jika keadaan baik. Kita serang saja mereka,” ucap Iwan, ia sudah tidak ingin membuang waktu lagi.
“Mau menyerang bagaimana? Anak buah kita tidak ada setengah lagi, banyak yang mati saat kejadian bulan lalu,” kata Kenzo. Ia mencoba mengingatkan kakaknya, bahwa Klan Dragon sangat kuat.
BERSAMBUNG!
__ADS_1