
Dor.. Jack kembali melesatkan satu tembakan.
“Arrkkhhh..” erang Iwan, saat timah panas milik Jack mengenai lengan kirinya.
Iwan segera bersembunyi di balik pohon besar. Darah segar mengalir dari lengannya, Iwan mencoba menghentikan darah itu. Ia mengeluarkan saput tangan dari saku celananya dan membalut luka di lengannya itu.
“Iwan, keluar kau.!” Teriak Jack sambil berjalan maju ke arah rerumputan tempat dia menembak Iwan sebelumnya.
“Sial! Dia terus mendekat,” guman Iwan. “Aku harus segera pergi, jika tidak. Aku bisa mati di hutan ini!” Ia segera berbalik dan berjalan perlahan meninggalkan tempat itu.
“Darah!” Jack menginjak dedaunan yang di tetesi darah Iwan. “Dia pasti belum jauh dari tempat ini,” gumannya.
Joe yang memimpin beberapa anggota Klan Dragon tiba di tempat Jack. “Tuan, apakah Tuan menemukan Iwan?” tanya Joe.
“Dia tadi di sini, dan lengannya terkena tembakanku.. Tapi dia menghilang, tapi ku pastikan, dia belum jauh,” ucap Jack. “Cepat perintahkan kelompokmu untuk menyebar ke area barat. Aku yakin, dia pergi ke arah sama,” sambungnya.
Joe dan beberapa anggota Klan Dragon segera berpencar untuk mencari ke beradaan Iwan.
Di saat seluruh anggota Klan Tiger sedang sibuk mencari keberadaan Iwan. Iwan sendiri malah sedang menyusuri jalan setapak yang menuju ke arah jalan Raya.
Wajahnya sudah memucat akibat kehabisan banyak darah. Setelah merasa cukup aman, ia pun segera menghubungi Kenzo.
“Ken, aku bersembunyi di pinggiran hutan. Tanah dataran yang di tumbuhi banyak ilalang, segera lah kirim anak buahmu menjemputku!” ucapnya dengan lemah. Setelah itu, ia pun hilang kesadaran dan tergeletak di antara tumbuhan ilalang.
“Hallo, Kak. Kak.. Apa kau masih di sana?” teriak Kenzo yang berada di seberang telpon.
“Ahh.. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa dia ketahuan?” Kenzo bertanya-tanya.
“Siapkan senjata! Aku akan menjemput kakakku!” perintah Kenzo kepada anak buahnya.
Anak buah Kenzo segera bergerak. Mereka menyiapkan senjata yang di perlukan oleh Kenzo, setelah itu. Kenzo dan beberapa anak buahnya menaiki mobil Jepp dan segera menancap gas menuju tempat yang di sebutkan oleh Iwan.
Setengah jam kemudian, Kenzo dan anak buahnya tiba di tempat yang di sebutkan Iwan. Mata mereka terus menyisir area di padang ilalang yang luas.
“Bos, itu bos Iwan!” tunjuk salah satu anak buah Kenzo yang melihat keberadaan Iwan.
__ADS_1
Kenzo segera memandang ke arah yang di tunjukan anak buahnya. Saat pandangannya bertemu dengan seseorang yang tergeletak, ia segera berlari menghampirinya.
“Kak, bangun kak..” Kenzo segera duduk dan mengangkat kepala kakaknya itu dan meletakannya di pangkuannya.
“Kak, kenapa bisa begini? Siapa yang menembak mu?” Kenzo menepuk-nepuk pipi Iwan. “Aku akan menghabisi Klan Dragon!” teriak Kenzo.
“Segera angkat kakakku ke mobil!” perintah Kenzo. Anak buahnya segera bergerak dan mengakat Iwan yang tak sadarkan diri ke dalam mobil.
Kedua mobil Jeep itu segera pergi meninggalkan padang Ilalang itu.
.
.
.
“Cari pengkihianat itu sampai ketemu!” teriak Jack kepada seluruh anggota Klan.
“Jack, sebaiknya kau pulang lebih dulu. Kau sudah meninggalkan apartemen seharian, Mayang pasti akan sangat cemas,” ucap Dean. “Hari sudah mulai gelap, pulanglah!” Titah Dean.
“Kami akan berusaha semampu kami untuk mencarinya, Tuan!” sahut Erick.
“Baiklah kalau begitu, aku akan pulang lebih dulu.” Jack segera keluar dari area hutan yang ada di belakang markas itu. Ia pun bergegas kembali ke apartemen.
Dean, Joe, Erick dan Argo, masih berada di hutan dan aksn tetap tinggal di markas. Sedangkan Sam, di perintahkan Dean untuk menemani Jack kembali ke apartemen.
“Sam, kejarlah Jack. Temani dia kembali ke apartemen!” perintah Dean.
“Baik, Kak!” sahut Sam, lalu ia segera mengejar Jack yang sudah kembali ke markas lebih dulu.
“Kak Jack, tunggu!” teriak Sam pada Jack yang sudah menghidupkan mesin mobilnya.
Ia pun mengikuti Jack kembali ke apartemen.
Sekitar satu jam kemudian, Sam dan Jack sudah tiba di apartemen. Mayang yang melihat kedatangan Jack dan Sam dari balkon apartemen itu, segera berlari menuruni anak tangga.
__ADS_1
“Kalian dari mana?” tanya Mayang, saat ia sudah berada di lantai bawah apartemen itu.
“Dari kantor, maaf aku tidak membangunkan mu,” ucap Jack, lalu mencium kening Mayang di harapan Sam.
“Dari kantor? Tapi kenapa pakaian kalian kusut sekali?” tanya Mayang, ia curiga kepada dua orang pria yang ada di hadapannya itu.
“Sudah lah, aku lelah sekali. Bisakah bertanya nya di pending dulu?” Mayang melihat wajah suaminya yang memang terlihat sangat lelah itu. Ia pun tidak melanjutkan pertanyaannya.
“Kalian pasti lapar, aku dan Mbok Jum sudah masak. Ayo, kita makan malam dulu,” kata Mayang pada Jack dan juga Sam.
Jack dan juga Sam segera berjalan mengikuti Mayang ke ruang makan. Mereka pun makan malam bersama.
Setelah mereka menyelesaikan makan malam itu, Jack pun menyuruh Sam untuk beristirahat di kamar tamu.
“Sam, kau bisa bersitirahat di kamar tamu.” Sam pun mengangguk dan segera pergi meninggalkan Jack dan Mayang di meja dapur itu.
“Tidak usah di bereskan, biar Mbok Jum saja,” Jack melarang istrinya untuk membereskan meja makan.
“Biar sekalian saja, kasian Mbok Jum. Dia pasti lelah, Kak,” kata Mayang.
“Kau tidak mau mendengarkan perkataanku!” Jack menatap tajam ke arah Mayang. Mayang yang di tatap seperti itu, menjadi ketakutan. Ia segera melepaskan piring yang ia pegang dan meletakannya kembali ke meja makan. Ia jadi teringat, saat pertama Jack membawanya ke apartemen itu.
Jack tersadar dengan perlakuannya terhadap Mayang, ia telah kembali berbuat kesalahan. “Ma-ma-mayang, maafkan aku. Aku tidak bermaksud memarahimu,” ucap Jack meminta maaf. “Aku hanya tidak ingin, kau kelelahan,” Jack segera bangkit dan memeluk tubuh Mayang dengan erat. Ia takut, Mayang akan kembali marah dan berniat meninggalkannya.
“Ku mohon, jangan marah padaku. Aku akan melakukan apapun untukmu,” ucap Jack lagi. Sambil memeluk dan menyandarkan kepalanya di bahu Mayang.
“Mayang tidak marah, hanya saja, Mayang sedikit terkejut mendengar suara keras, Kakak. Niat Mayang hanya ingin membantu Mbok Jum, agar dia tidak kelelahan. Mbok Jum sudah cukup tua, untuk melakukan semua pekerjaan rumah sendirian, Mayang hanya ingin meringankan sedikit pekerjaannya,” kata Mayang. Meski sebelumnya ia ketakutan, tapi hatinya sangat senang melihat Jack yang menyesali perbuatannya.
“Kau tidak marah, sayang? Sungguh?” Jack melepaskan pelukannya, dan menatap wajah sang istri.
“Sungguh,” jawab Mayang.
Mayang terkejut, saat tiba-tiba Jack menggendongnya dan meninggalkan meja makan itu. Mbok Jum yang sedari awal melihat kejadian itu, hanya tersenyum kecil. Ia sangat bahagia, melihat Jack dapat tersenyum dan bahagia seperti itu.
“Semoga tuhan melimpahkan kebahagiaan yang tak pernah putus untuk mu, Tuan Muda,” batin Mbok Jum.
__ADS_1