
Saat ini, Jack sedang berada di depan ruangan anak. Ia melihat anaknya yang menggeliat di dalam Incubator dari kaca transparant ruangan itu.
Ia menangis haru, ingin sekali rasanya ia mendekap tubuh mungil putrinya itu. “Ayah ingin sekali menggendong dan menimangmu, sayang,” ucap Jack dengan lirih. Ia menautkan jemarinya di kaca transparant itu.
.
.
.
Satu bulan kemudian, bayi Jack dan Mayang sudah dibawa pulang. Jack bisa mengurusnya di rumah, sedangkan Mayang. Sudah satu bulan berlalu, tapi tidak ada perkembangan. Keadaannya masih sama, yaitu KOMA.
Jack sengaja, membawa istrinya pulang. Ia ingin, istrinya di rawat di rumah dan di tempatkan bersama bayinya. Jack juga membawa satu orang perawat yang di tugaskan untuk merawat bayinya.
“Bagaimana dengan anakmu? Apa sudah tidur?” tanya Marco pada adiknya itu.
“Sudah, baru saja!” Jack mendudukan bokongnya di tepian ranjang istrinya.
“Jika bayimu sudah tidur, lebih baik kau tidur juga. Hari sudah sangat larut!”
“Aku tidak mengantuk, Kak,” kata Jack sambil menggenggam jemari istrinya.
“Usahakan tidur, Jack. Jika kau ikut sakit, bagaimana dengan anak dan istrimu?” Marco menatap iba pada adiknya itu. Jika saat itu ia tidak membiarkan Mayang naik sendirian ke lantai atas, pasti kejadian itu tidak akan terjadi dan Mayang tidak akan koma seperti itu.
“Emm.. Baiklah, sebentar lagi aku akan tidur,” kata Jack pada Marco. Setelah mendengar perkataan Jack, Marco segera keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
Sepeninggalan Marco, Jack mencium tangan istrinya. “Sayang, bangun dong. Sampai kapan kamu mau kayak gini? Apa kamu gak capek tiduran terus?” Jack berbicara pelan di telinga istrinya. Ia sangat percaya, bahwa istrinya itu mendengar semua perkataannya.
“Apa kamu gak kangen sama aku? Apa kamu gak pengen peluk aku dan anak kita? Kamu tau gak yank, anak kita perempuan. Dia cantik banget, lebih cantik dari kamu. Hehehee! Kamu pasti bakalan iri!” Jack terkekeh sendiri, seakan-akan ia benar-benar mengobrol dengan istrinya itu. Bibirnya terus tertawa, tapi bertepatan dengan tawanya. Airmata mengalir membasahi pipinya.
“Bangunlah, Mayang. Aku janji, kalau kamu bangun. Kita akan pergi meninggalkan keramaian kota ini, kita pergi bersama putri kita ke tempat yang jauh dari hiruk pikuk keramaian. Tempat yang damai, dimana orang-orangnya berhati baik. Tidak seperti di kota ini!”
Tanpa di sadari dan di ketahui oleh Jack, air mata Mayang menetes di sudut matanya. Itu pertanda, bahwa Mayang benar-benar mendengar semua perkataan suaminya selama ini.
Jack mencium kening istrinya, sebulan tidak melihat senyuman, tangis dan juga pertanyaan-pertanyaan konyol dari istrinya. Membuat ia begitu rindu.
Jack tertidur di kursi yang ada di samping ranjang istrinya itu. Tangannya terus menggenggam jemari Mayang.
Keesokan paginya, ia merasakan ada pergerakan dari istrinya.
“K-k-kak..” panggil Mayang dengan lirih.
“Kak Dean, Kak Marco, Sam!” teriaknya.
Ketiga orang yang mendengar teriakan Jack, menjadi terkejut. Mereka bertiga segera berlari ke arah kamar Jack, Mayang dan anaknya itu.
“Ada apa?” tanya ketiga orang itu serempak.
“Panggilkan dokter, istriku sudah sadar,” kata Jack. Membuat ketiga orang itu ikut bahagia mendengarnya.
“Aku, aku akan mengajak Kenzo untuk menyusul dokter!” ujar Marco. Marco segera berlari keluar dari kamar itu, dan menghampiri Kenzo yang sedang duduk di tepian kolam. Tampaknya, pemuda itu sedang murung.
__ADS_1
“Ken, temani aku ke rumah sakit!” teriak Marco.
“Siapa yang sakit?” tanya Kenzo dengan wajah datar.
“Istri Jack sudah sadar,” jawab Marco. “Ayo cepatlah!”
Kenzo segera bangkit dari duduknya, dan mengikuti langkah Marco keluar dari rumah itu.
Bukan tanpa alasan, Marco mengajak Kenzo. Marco ingin, Kenzo segera melupakan kejadian yang sudah lalu. Marco ingin, Kenzo memulai hidup baru bersama mereka.
“Kau hebat!” tiba-tiba Kenzo berbicara pada Marco.
“Siapa? Aku!” tunjuk Marco pada dirinya sendiri.
“Ya! Siapa lagi?”
“Hebat apanya?” tanya Marco dengan wajah serius.
“Hebat karena dengan cepat, kau bisa melupakan dendamu. Melupakan kejadian yang sudah lewat dan dengan cepat, kau bisa berbaur dan bergabung bersama mereka,” kata Kenzo dengan senyum yang menyedihkan. Matanya tampak memerah dan siap mengeluarkan crystal bening.
“Sedangkan aku, aku sulit sekali untuk berbaur dengan mereka. Aku merasa tidak pantas berada di sekitar kalian,” kata Kenzo. Kini, air matanya benar-benar jatuh.
“Tidak ada yang tidak pantas, Ken. Kita semua sama, kau tau sendiri kan? Siapa aku sebelumnya. Jika kita bisa menghilangkan rasa benci di hati ini, pasti kita akan bisa melihat ketulusan dari orang lain.” Marco menepuk pundak Ken dengan pelan.
“Kau tau! Kita semua adalah korban, korban dari seorang Brahma Widjahja. Korban dari kejahatan dan keserakahan sseseorang. Jangankan keluargamu yang notabe orang lain, istri dan anak-anaknya saja ia korbankan untuk mencapai tujuannya.”
__ADS_1
Kenzo terdiam, ia menatap wajah Marco dengan intens. Ia mencerna semua perkataan yang terucap dari bibir Marco.