
Hampir 4 jam, Jack pingsan. Selama itu juga, Mayang tak beranjak sedikitpun dari sisi Jack.
Perlahan Jack menggerakkan tangannya, Mayang yang merasakan jemari Jack bergerak. Segera melepaskan genggaman tangannya, ia takut jika Jack sadar, akan kembali marah setelah melihat kehadiran dirinya.
“Ma-yang!” panggil Jack dengan lemah.
Mayang terkejut, lalu ia kembali mendekat dan menggenggam jemari Jack.
“Mayang, apa yang terjadi?” tanya Jack dengan suara lirih.
“Kakak sudah bangun, kakak mengingat Mayang?” tanya Mayang dengan deraian air mata.
“Aku kenapa? Kenapa aku tidak mengingat istriku sendiri,” kata Jack. Lalu, ia berusaha bangkit dari ranjang itu.
“Jangan banyak bergerak, Kak. Kakak harus istirahat agar cepat pulih!” ujar Mayang.
“Tunggu sebentar, Mayang panggilkan Kak Dean, Kak Marco dan Sam.” Mayang segera berlari, meninggalkan Jack seorang diri yang sedang di landa kebingungan di dalam kamar itu.
“Kenapa Marco ada di sini?” guman Jack. Ia pun mengingat di mana saat Marco memeluknya, memenangkannya bahkan mengajaknya bercerita.
“Jadi benar dia, dia yang menemani aku selama sebulan ini,” kata Jack.
Saat pikirannya sedang berperang, tiba-tiba Mayang kembali bersama Dean, Marco dan Sam.
“Kau sudah ingat semuanya, kakak sangat senang!” Marco mendekat lebih dulu dan memeluk tubuh Jack.
__ADS_1
“Lepaskan aku, Marco!” bentak Jack.
“Tidak, aku tidak akan melepaskan mu. Sebelum kau memanggilku dengan sebutan kakak seperti saat kau hilang ingatan,” kata Marco sambil menahan tubuh Jack.
“Lepaskan aku! Aku tidak sudi di peluk oleh mu!”
“Jack, kau jangan keterlaluan. Dia lah yang selama ini merawatmu di saat sakit!” ujar Dean. Dean kasihan melihat Marco yang di marahi oleh Jack.
“Aku tidak pernah memintanya untuk menjaga dan merawat ku,” kata Jack. Perlahan Marco melepaskan pelukannya pada Jack.
“Cih! Kami masih ingat, bagaimana kau merengek minta di temani olehnya, merengek minta kembali bersekolah, dan merengek minta makan seperti anak kecil padanya!” Dean tersenyum mengejek pada Jack.
“Aku tidak pernah seperti itu!” kilah Jack.
“Mayang, kemarilah. Apa kau tidak ingin memeluk suamimu,” ucap Jack dengan manja. Ia sengaja mengalihkan pembicaraan, karena tidak ingin di permalukan oleh Dean.
Sam tersenyum melihat kekalahan Jack. “Ayo kita pergi, sebentar lagi. Dia pasti akan berubah menjadi nyamuk dewasa!” ledek Sam sambil menarik tangan Marco menjauh dari tempat itu.
“Benar, aku ingat sekali. Bagaimana ia berubah menjadi nyamuk kelaparan malam itu!” Dean menimpali ucapan Sam. Ia tidak sadar, jika kini Sam dan Marco sudah tidak ada di ruangan itu. Dan Jack, pria itu kini sudah berdiri tegap di belakang Dean.
Dean mengambil ancang-ancang untuk kabur. Tapi, sesaat kemudian. Ia jatuh tersungkur di hadapan Jack, karena Jack mencekal dengan kakinya.
Bleduk..!
“Hihihihi..” tawa Mayang tertahan.
__ADS_1
“Jack, kau!” tunjuk Dean pada Jack yang berdiri di hadapannya yang jatuh tersungkur mencium lantai itu.
“Apa? Kau pikir, dengan aku sakit dan lemah seperti ini. Kau bisa seenaknya mempermainkan aku?” Jack menatap sinis pada Dean.
“Lebih baik kau hilang ingatan saja, dari pada seperti ini. Selalu berbuat seenak mu!”
“Apakah kau lupa, Kak Dean? Bos yang ada di sini adalah aku, aku orang satu-satunya yang di tunjuk kakek.” Jack duduk di hadapan Dean. Ia tersenyum ke arah Dean, membuat Dean semakin jengkel.
Dean segera bangkit, lalu dengan cepat ia berjalan ke arah pintu. Dan ternyata, di depan pintu itu, ada Marco dan Sam yang sedang mengintip.
“Kalian berdua mengintip?” teriak Dean. Membuat Marco dan Sam terkejut.
“Lari Kak Marco! Dia pasti akan mengamuk,” kata Sam pada Marco. Marco segera lari terbirit menuruni anak tangga. Sedangkan Sam, ia tidak dapat kabur, karena saat ia memasang aba-aba. Dean lebih dulu menarik bagian belakang baju kaos yang ia kenakan.
“Hahaha! Kena kau sekarang.” Dean mendorong tubuh Sam. “Kau harus merasakan bagaimana rasanya mencium lantai!” Dean mendorong Sam hingga jatuh berguling di lantai yang ada di depan kamar Jack itu.
“Ampun, Kak!” ujar Sam.
“Ampun kau bilang, ini adalah kali keduanya aku mencium lantai karena ulahmu!” Dean menduduki bokong Sam yang sedang tidur di lantai.
“Turun lah kak, sakit sekali bokongku,” kata Sam dengan suara memelas.
“Aku akan turun, setelah aku puas!”
BERSAMBUNG!
__ADS_1