
“Ini benar-benar sebuah keajaiban tuhan. Istri anda benar-benar sudah sembuh, beberapa hari lagi, dia akan benar-benar pulih!” dokter menjelaskan semuanya pada Jack. Jack sangat bersyukur dengan semua itu.
“Terimakasih, dokter!” Jack meraih tangan dokter paruh baya itu.
“Berterimakasih lah pada tuhan, saya hanya perantara saja!”
“Kalau begitu, saya mohon undur diri!” pamit Dokter itu.
Setelah dokter pergi, Jack mendekati istrinya yang masih terbaring lemah.
“Sayang, akhirnya kamu sadar. Kamu sembuh,” kata Jack sembari meraih dan mencium jemari istrinya.
“Mana anak kita?” tanya Mayang dengan suara lemah dan pelan.
“Anak kita, anak kita masih tidur. Nanti, jika dia bangun. Aku akan memberikannya padamu,” kata Jack. Ia menangis haru, perasaannya begitu bahagia.
“Jangan menangis, kak. Aku disini, aku gak akan pergi lagi!” Mayang mencoba mengangkat tangannya dan menghapus butir air mata Jack yang jatuh.
“Aku janji, setelah ini kita akan pergi dari tempat ini. Kita akan pergi ke desa,” kata Jack. “Disana tempatnya indah, gak kayak disini!”
Mayang mengangguk pelan, ia sedikit tersenyum.
“Kak, apa Kak Jack akan benar-benar pergi dari sini?” tanya Sam kepada Marco, Dean dan Ken yang berada di luar kamar itu.
“Aku tidak tau, yang pasti apapun keputusannya. Kita harus mendukungnya!” ujar Dean.
Mereka semua mengangguk setelah mendengar perkataan Dean.
.
.
__ADS_1
.
Beberapa bulan kemudian. Mayang sudah benar-benar sehat, putrinya juga tumbuh menjadi anak yang gemuk dan juga sehat.
Kini, Jack sedang bersiap-siap untuk pindah ke desa. Desa di mana dirinya di besarkan dengan limpahan kasih sayang ibunya meski dalam keadaan yang susah dan kekurangan.
“Kak, aku titipkan kakek padamu,” ucap Jack kepada Dean. Air matanya menetes, ia menangis didalam dekapan Dean. “Aku menyayangimu, Kak. Terimakasih untuk kasih sayang yang selama ini telah kau dan kakek berikan padaku, terimakasih karena telah mau memungutku dari penjara dan membawaku ketempat ini. Jika bukan karena dirimu dan kakek, mungkin sampai saat ini aku masih mendekam dibalik jeruji besi itu!”
“Kau tenang saja, aku akan menjaga kakek. Baik-baiklah kau disana, jaga istri dan anakmu. Aku janji, aku akan sering-sering mengunjungi mu!” Dean ikut menangis, semua yang ada disana juga ikut menangis.”Kau tau Jack, kau itu bagaikan bintang di tengah kegelapan malam. Kau mampu memberikan cahaya dengan sinarmu yang redup itu. Kau memberikan kami semua pelajaran, kau membuat kami mengerti apa arti dari sebuah perjalanan dan perjuangan.” Dean semakin menangis.
Setelah cukup berbicara pada Dean, Jack beralih pada Sam.
“Samsul!” Jack menyebut nama asli Sam. Yaitu Samsul yang menjelma menjadi Samuel. Jack sedikit tersenyum sembari menghapus air matanya.
“Iya, Kak!” sahut Sam.
“Aku titipkan bujang lapuk ini padamu!” Jack menepuk punggung Dean.
“Bekerja yang benar, agar ibumu semakin bangga!” Jack memeluk tubuh Sam dengan erat. Tapi, aksi Sam malah mengejutkan semua orang yang ada di sana.
“Huwaa.. Kak Jack, jangan peluk aku. Jika setelah memelukku, kakak akan pergi!” Sam menangis dengan keras. Ia merasa akan kehilangan Jack untuk selamanya. “Jika kakak tidak ada, siapa yang akan membantuku jika bujang lapuk ini memarahiku.”
“Dia tidak akan memarahi mu lagi! Ingatlah, dia itu bodoh. Jika dia memarahi mu, ancam saja untuk meninggalkannya. Dia pasti ketakutan.” Bisik Jack di telinga Sam.
“Ahh.. Benar juga, Kak Dean kan memang bodoh. Di tidak akan bisa apa-apa tanpa aku yang jenius ini!” Sam berbicara dengan keras sembari mendorong tubuh Jack.
“Apa katamu, Sam?” Dean menatap Sam dengan tatapan tajam. Sam segera menundukkan kepala, takut kalau tiba-tiba Dean memukul kepalanya seperti tempo hari.
Kini, Jack beralih pada Marco dan Ken. Ia memeluk kakaknya lebih dulu.
“Aku pamit, Kak. Jaga dirimu di sini, aku percayakan seluruh harta peninggalan kakek padamu dan Kenzo. Aku minta maaf, jika selama ini seringkali menyakitimu dengan sikap dan caraku. Aku benar-benar tidak bermaksud seperti itu. Hanya saya, kebencian di hatiku membuatku gelap mata. Hingga aku selalu memupuknya dan membuat kebencian itu menjadi tubuh dan membesar.”
__ADS_1
“Aku juga minta maaf, Jack. Selama ini telah keliru dan tidak menyadari semuanya. Aku tidak bisa menilai, mana yang benar dan yang salah.” Marco membalas pelukan adiknya itu. “Jaga dirimu, besok aku akan kesana, aku akan menjenguk mu, Mayang dan juga Cahaya. Aku juga ingin mengunjungi makam ibu.”
“Ken, aku titipkan kakakku padamu. Ku harap, kau mau menerimanya seperti kakakmu sendiri,” kata Jack pada Kenzo.
“Iya!” sahut Ken dengan dingin.
“Tidak usah pura-pura keras hati! Aku tau, kau itu lembut, seperti nastar selai nanas yang asem kecut,” kata Jack sambil menahan kedua bahu Ken dengan tangannya.
“Huwa.. Maafkan aku yang selama ini selalu jahat padamu, dan ingin menghabisimu. Aku salah, aku jahat, Jack.” Kenzo yang lemah dan cengeng akhirnya ikut menangis dengan keras. Bahkan suaranya lebih keras dari pada suara tangisan Sam.
“Lupakan yang lalu, kita hidup di masa depan. Jadikan masa lalu pembelajaran untuk masa kini, akan lebih indah jika kita bisa saling merangkul.”
“Untuk kalian bertiga, aku percayakan Klan Dragon pada kalian! Ingat! Klan Dragon didirikan bukan untuk menghancurkan tapi untuk membangun.” Jack beralih pada Erick, Argo dan Joe yang berdiri paling pojok.
“Baik, Tuan!” sahut ketiga orang itu. Mereka pun memeluk Jack dengan bergantian.
Setelah merasa cukup untuk berpamitan. Jack segera menuntun istrinya yang menggendong putri mereka kedalam mobil.
Jack segera memasuki mobil itu, ia segera menacap gas. Dan melaju meninggalkan pekarangan rumah kakek.
Belum lagi mobil itu melaju menjauh, seseorang meneriaki mereka.
“Kak Jack..! Tunggu Joe!” teriak Joe dengan keras sembari berlari mengejar. Ia sudah menggendong tas ransel besar.
Jack memandang kearah kaca spion, dimana Joe sedang berarti terbirit-birit. Ia pun segera menghentikan laju mobilnya.
“Kak, aku ikut kakak saja. Aku juga tidak ingin lagi tinggal di kota!” teriak Joe dengan keras, ia melempar tas ransel besarnya kearah supir pick up yang membawa barang-barang milik Jack dan Mayang.
Bruk! Tas ransel besar itu terlempar dan mengenai wajah si supir pick up.
“Hahahaa!” semua orang menertawakan tingkah Joe yang sangat bar-bar dan sembrono itu.
__ADS_1
*TAMAT*