DENDAM (Aku Bukan Bayangan)

DENDAM (Aku Bukan Bayangan)
ACTING MEMBAWA BENCANA!


__ADS_3

Brak! Dean mendorong pintu kamar Jack dengan keras.


“Jack, apa yang terjadi? Kenapa istrimu terlihat begitu panik?” tanya Dean. Ia mendekati Jack yang sedang berbaring dengan tergesa-gesa.


“Hihihi!” Jack terkikik seperti hantu (Khas ketawaku). “Istriku aneh sekali, aku takut. Lalu, aku pura-pura sakit kepala,” kata Jack. Ia melirik ke arah pintu, takut Mayang kembali dan mengetahui bahwa ia pura-pura.


“Memang dia aneh, Jack. Tiga hari yang lalu, ia memaksa Sam membuat telur mata sapi, dan matanya harus di tengah-tengah!” Dean pun menceritakan kejadian tiga hari yang lalu, saat Jack belum mengingat kembali ingatannya yang hilang.


“Sam?” tanya Jack.


“Iya, selama kau sakit, Sam lah yang selalu menemani istrimu. Dia selalu saja di repotkan,” kata Dean.


Flashback on


“Ayolah, Sam. Tolong Mayang, buatkan Mayang telur mata sapi,” pinta Mayang dengan tatapan sendu pada Sam yang sedang minum kopi.


“Kau suruh saja, Kak Dean. Dia bisa masak, sedangkan aku tidak,” kata Sam. Tapi, Mayang tetap kekeuh ingin Sam yang membuatnya.


“Aku maunya kamu, bukan Kak Dean!”


“Aih, aku gak bisa!” balas Sam.


“Aku laporin Kak Jack kalo dia udah sembuh, kalo gak? Aku pergi aja dari rumah ini!” ancam Mayang. Mendeliklah mata Sam.


“Sam, buatkan lah. Jangan membuatnya menangis,” ucap Marco. Marco berubah dengan cepat, kini, ia menjadi pria yang lebih dewasa dan mampu menguasai diri. Ia tidak lagi bersikap ke kanak-kanakan.


“Baiklah!” Sam bangkit dari duduknya dengan malas, lalu berjalan menuju kompor yang ada di dapur itu.


Tak lama kemudian, telur mata sapi yang ia buat sudah matang. Ia memberikannya pada Mayang yang menunggunya dengan setia, bukan menunggu Sam tapi menunggu telurnya. Ehh! Salah, tapi telur mata sapi yang ia inginkan.

__ADS_1


“Sam, matanya kenapa kayak gini?” Mayang menyodorkan telur itu pada Marco dan Dean. Tapi, matanya menatap Sam.


“Itu telur mata sapi, Mayang!” pekik Sam.


“Bukan kayak gini! Tapi kuning nya di tengah, lihat mata Kak Marco dan Kak Dean, bolanya di tengah kan?” pekik Mayang tak kalah keras.


“Coba ku lihat mata kalian!” Dengan bodohnya, Sam melihat mata Dean dan Marco secara bergantian dengan serius.


“Astaga, Sam!” Dean menepuk jidat nya. Sedangkan Marco, ia hanya menatap jengah pada Sam.


“Ganti, pokoknya harus di tengah!”


Akhirnya, Sam menggoreng sebanyak 6 telur dan telur terakhir yang di terima oleh Mayang.


“Yeay, makasih.” Mayang segera memakan nasi putihnya dengan telur mata sapi buatan Sam.


“Mayang, kau tidak makan sayur?” Marco menatap isi piring Mayang.


“Kau makan begitu banyak hanya dengan telur mata sapi yang tidak ada rasanya itu, Mayang?” Dean merasa heran dengan perubahan yang ada pada diri Mayang. Biasanya, perempuan itu makan, tidak bisa tinggal yang namanya sayuran hijau.


Jangan tanya di mana Mbok Jum. Perempuan itu sudah di kembalikan ke asalnya, yaitu kampung halaman. Karena, Dean dan yang lainnya tidak ingin, wanita paruh baya itu terlibat dan jadi korban dalam kasus antara Klan Dragon dan Klan Tiger.


Flashback off


“Benarkah begitu, Kak?” Jack tidak percaya dengan apa yang di ceritakan oleh Dean.


“Kau bisa tanyakan pada Marco dan juga Sam sendiri,” kata Dean.


“Kak, kakak sudah mendingan?” Mayang datang dengan segelas air di tangannya.

__ADS_1


“Emm, udah lumayan.” Jack memegangi kepalanya, Dean pun ikut ber acting.


“Kasian, Jack. Mayang, sebaiknya kau jangan meminta hal yang aneh-aneh pada Jack. Jack kan baru saja sembuh,” kata Dean sambil menatap Jack dengan tatapan memelas.


“Kak Dean kok bilangin Mayang aneh?” Mayang menjadi salah paham dengan perkataan Dean.


“Sam!” teriak Mayang.


“Haihh.. Kenapa lagi perempuan ini!” Sam masuk kedalam kamar itu dengan tubuh yang lemas. Pasti ia akan mendapatkan pekerjaan konyol lagi.


“Kenapa?” tanya Sam.


“Lihatlah, Kak Dean! Dia bilang, Mayang aneh,” kata Mayang mengadu pada Sam.


“Lalu, apa hubungannya denganku?”


“Usir dia!” perintah Mayang.


Mendeliklah mata Sam dan Dean. Sedangkan Jack, ia tidak tahan lagi menahan tawa. Terbahaklah dia melihat Dean dan Sam yang kebingungan.


“Hahahaha!”


“Lebih baik, bawa dokter kandungan kemari. Periksakan Mayang!” Ujar Marco yang baru saja masuk kedalam kamar itu.


“Hah?” Dean dan Sam melongo mendengar usulan Marco.


“Mayang hamil, benarkah benihnya tumbuh?” guman Jack. “Sayang, sini?” panggil Jack pada Mayang.


BERSAMBUNG!

__ADS_1


Mwehehee maaf yak. Makin somplak!


__ADS_2