DENDAM (Aku Bukan Bayangan)

DENDAM (Aku Bukan Bayangan)
LEDAKAN!


__ADS_3

“Jack, jangan gegabah! Istrimu pasti baik-baik saja!” Dean mencoba menenangkan Jack yang sedang tergesa-gesa hendak pergi menemui Marco di tempat yang telah di sebutkan.


“Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi, Kak. Istriku dalam bahaya.”


“Aku tau, tapi tidakkah kau menunggu sebentar. Kita tunggu dulu Erick tiba, lalu kita susun rencana yang matang.”


“Menunggu rencana yang matang, maka istriku akan mati lebih dulu. Tidak kah kakak lihat, darah yang ada di lantai kamarku, aku yakin. Itu adalah darah istriku!”


Jack yang sudah memakai jaketnya dan juga membawa berkas-berkas perusahaan A. Hendak pergi meninggakkan Apartemen itu. Tapi sebelum ia benar-benar melangkah keluar, Sam bergerak lebih dulu mencegah Jack.


“Minggir, Sam! Aku harus pergi.”


“Maaf, Kak. Aku tidak bisa membiarkan kakak pergi,” ucap Sam sambil menatap Jack dengan serius.


“Ku bilang minggir!” Jack menatap balik Sam dengan tatapan tajam.


Buk! Dean yang berada di belakang Jack, segera memukul tengkuk Jack hingga membuat Jack jatuh tersungkur.


“Maafkan, kami, Jack. Kami tidak bisa membiarkan mu pergi,” ucap Dean.


“Ka-ka kalian!” Jack menunjuk Sam dan Dean, sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya.


Dean dan Sam segera mengangkat tubuh Jack, dan membaringkannya ke atas ranjang.


“Ku harap, ia sadar setelah Erick menemukan cara untuk menyelamatkan Mayang,” kata Dean pada Sam.


Tak lama kemudian, Erick dan Argo tiba di apartemen itu. Mereka berdua segera masuk.


“Di mana Tuan Jack?” tanya Erick pada Sam yang duduk di sofa ruang tengah.


“Dia pingsan, dan sekarang ada di dalam kamarnya,” jawab Sam.


“Kenapa pingsan?” tanya Argo.


“Kak Dean memukulnya, karena ia memaksa untuk pergi menyelamatkan istrinya sendirian.”

__ADS_1


“Begini saja, biarkan dia pergi lebih dulu bersama ku. Aku akan bersembunyi agar mereka tidak menyadari keberadaanku,” ucap Argo. “Lalu, kalian menyusul,” sambungnya.


“Baiklah kalau begitu, kita tunggu Jack sadar lebih dulu,” kata Dean.


Jack yang baru saja sadar dari pingsannya, segera bangun dan mencari keberadaan Dean serta Sam.


“Kurang ajar kalian!” Jack menatap tajam ke arah Sam dan Dean yang sedang duduk bersama Argo dan Erick.


“Tuan, tenangkan dulu diri, Anda. Jangan gegabah!” ujar Erick.


Jack menatap ke arah Erick yang sedang menatapnya dengan serius.


“Lebih baik, sekarang, Anda dan Argo pergi lebih dulu ke dermaga itu! Biar saya dan lainnya, membuntuti dari belakang.”


Tanpa berkata satu patah katapun, Jack segera berbalik ke kamarnya untuk mengambil berkas-berkas perusahaan A. Setelah itu, ia keluar apartemen dengan Argo yang mengekor di belakangnya.


Setelah mobil yang di kendarai Jack melaju dengan kencang. Mobil Dean dan juga satu mobil lainnya yang membawa beberapa anak buah terlatih Klan Dragon ikut melaju mengejar mobil Jack.


Kini, mobil Jack sudah tiba di dekat dermaga. Anak buah Klan Tiger yang mengintai, segera melapor setelah melihat kedatangan mobil itu.


“Apakah dia membawa rekan?” tanya Kenzo.


“Tidak, Bos. Dia hanya datang sendirian.”


“Bagus! Ternyata dia begitu mencintai wanita itu!” Kenzo segera memerintahkan anak buahnya, menuntun Jack memasuki gudang.


.


.


.


Kini, Jack sudah berada di dalam gudang. Di dalan ruangan itu, sudah ada Iwan dan Marco yang duduk di atas drum minyak dengan santai. Tapi, tidak terlihat ke beradaan Mayang.


“Di mana istriku, Marco?” teriak Jack.

__ADS_1


“Kau ingin istrimu?” tanya Marco dengan santai. “Berikan dulu, berkas-berkas perusahaan itu!” ujar Marco. Ia menunjuk map berwarna biru yang ada di tangan Jack.


“Serahkan dulu istriku, jika kalian tidak menyerahkan istriku. Jangan harap kalian akan mendapatkan berkas ini!”


Jack menjatuhkan berkas yang ada di tangannya, lalu menginjak berkas itu.


“Perintahkan orang untuk menghabisi nyawa istrinya!” teriak Kenzo.


“Jangan macam-macam, aku bisa menghancurkan dermaga ini beserta isinya hanya dengan satu hentikan jari!” ancam Jack.


Tertawalah, Iwan, Kenzo dan juga Marco.


“Hahaha!”


“Omong kosong apa yang kau bicarakan, brengsek?”


Mendengar tawa ketiga orang yang ada di hadapannya, Jack tersenyum smirk. Ia mengeluarkan sebuah remote dari dalam saku jaketnya.


“Aku tidak main-main! Jika kalian masih menyulitkanku, maka kita semua akan terbakar di tempat ini!”


Terdiam lah, Iwan, Marco dan Kenzo yang melihat remote kontrol yang ada di genggaman Jack.


“Aku sudah memasang bahan peledak di tubuhku, dan bukan hanya di sini! Tapi juga di mobilku yang ada di luar, dan aku pun sudah melepar satu bahan peledak di pinggir dermaga!” ujar Jack lalu ia menyingkap jaket hitam yang ia pakai.


Benar saja, di tubuh Jack sudah terpasang alat peledak. Yang jika tombol pada remote nya di tekan, boom itu akan meledak sewaktu-waktu.


“Pria gila!” guman Iwan.


“Kalian tida percaya! Baiklah aku akan buktikan.”


Jack menekan tombol berwarna merah pada remote kontrol itu, dan terjadilah satu ledakan di pinggir dermaga.


Terkesiap lah, Iwan, Marco dan juga Kenzo. Mereka tidak habis pikir, jika Jack akan berbuat nekat seperti itu demi menyelamatkan satu wanita saja.


BERSAMBUNG!

__ADS_1


__ADS_2