Desain Cinta CEO Dingin

Desain Cinta CEO Dingin
cerita yang sesungguhnya 1


__ADS_3

Bab 12


Edgar dan Milo kembali ke meja CEO. Mereka terdiam beberapa saat lalu Edgar buka suara memecahkan keheningan.


"Shakila Greyson. Huh. Kenapa aku tidak sadar jika nama belakangnya sama dengan nama Lyn saat melihat data riwayat hidup nya."


Milo menghembuskan nafasnya kasar sebelum menjawab.


"Kita terlalu fokus pada kekacauan pendaftaran Paris Fashion, sehingga yang kita pikirkan adalah mencari desainer pengganti secepatnya. Dan kebetulan Lyn datang dengan tiba-tiba menawarkan diri, dan kebetulan juga Lyn mempunyai riwayat hidup yang buruk sehingga fokus kita hanya pada Lyn untuk kelangsungan Paris Fashion."


Tiba-tiba Milo melihat Edgar dengan serius.


"Tunggu!"


Edgar menatap balik Milo tak kalah serius.


"Kekacauan pendaftaran Paris Fashion karena kehilangan para desainer, Lyn datang dengan menawarkan diri, nasib buruknya yang membuat kita fokus padanya. Apa itu tidak saling berhubungan?"


"Maksudmu itu bukan hanya sebuah kebetulan?" Tanya Edgar sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Itu hanya analisa ku. Biar bagaimanapun kita harus selalu tetap waspada."


"Baiklah. Kita akan mencari tahu dengan mengintrogasi nya secara halus." Ucap Edgar.


Satu jam sudah berlalu, saatnya mereka untuk pulang sesuai dengan keinginan Edgar.


Dion yang sedang bertugas di lobi, tidak sengaja melihat Lyn yang sedang bersama CEO dan asistennya keluar dari lift khusus CEO. Dion setengah berlari menuju Lyn, namun Lyn, Edgar dan Milo keburu memasuki mobilnya dan pergi.


Sebenarnya, Lyn juga melihat Dion yang berusaha mengejarnya. Namun masalah nya lebih penting daripada bertemu dengan Dion dulu.


Ketika sampai di mansion, mereka memutuskan untuk makan terlebih dahulu, karena mereka sudah melewatkan makan siang nya.


Ketika sudah selesai makan, mereka akan menuju ruang kerja Edgar. Karena ruang kerja adalah tempat umum untuk membahas hal-hal penting dan tentunya ruangannya kedap suara, tempat yang cocok sesuai dengan keinginan Lyn untuk membahas hal serius.


Sebelum membuka pintu ruang kerja, Lyn bertanya pada Edgar.


"Kakak Ed, apa kau tidak ingin istirahat dulu? bukankah tadi kau bilang kepalamu sedang tidak nyaman?" Tanya Lyn.


Milo hanya mengulum bibirnya menahan tawanya.


'kepalaku tidak nyaman karena terisi penuh oleh wajah cantikmu tahu'  batin Edgar.

__ADS_1


Edgar yang ditanya menjadi kikuk mengusap ujung rambut di bagian pelipis. Lyn yang melihat gerakan Edgar semakin khawatir, Lyn menangkap gerakan itu adalah gerakan memijat kepala lembut.


"Eh, kakak.. apa kepalamu semakin sakit? sudah kubilang untuk istirahat dulu." Ucap Lyn khawatir.


Edgar diam mematung dengan wajah bodohnya.


'Gadis ini. Kenapa dia polos sekali' batin Edgar.


Milo berusaha menahan tawanya mati-matian saat melihat wajah bodoh Edgar.


Pfftt…


Lyn melihat Milo bingung.


"Kak Milo, apa yang lucu? Kakak Ed sedang sakit."


"Baiklah, baik. Aku akan membawa kakak Ed mu ini ke kamarnya untuk istirahat."


"Mari kakak Ed." Goda Milo sambil berpura-pura memapah Edgar. 


Edgar pun mencubit Milo dalam diam, ini adalah kesempatan yang bagus untuk membalasnya. Milo hanya melotot sepanjang perjalanan menuju kamar.


Sesampainya di kamar, Milo segera mengunci pintu kamar Edgar buru-buru kemudian tawanya pecah sangat kencang.


Edgar melihatnya sangat kesal kemudian melempar bantal ke wajah sahabatnya.


Buk. 


"Sialan kau"


"Coba tunjukkan lagi wajah bodoh itu" goda Milo sambil mengeluarkan hp nya di depan wajah Edgar. 


Edgar mengambil hp Milo kemudian melempar nya sembarangan.


"Hei, kau tidak sopan" Milo menunjuk wajah Edgar.


Setelah makan malam, waktu yang ditunggu pun tiba. Lyn, Edgar dan Milo sudah berada di ruangan kerja dengan duduk saling berhadapan layaknya sedang mengintrogasi Lyn.


Setelah pertemuannya dengan Shakila, Lyn sudah tidak bisa menyembunyikan raut kesedihannya lagi sepanjang hari.


Beberapa saat suasana hening menyelimuti ruangan itu. Edgar melihat raut kesedihan Lyn merasa sedikit gelisah karena takut akan kondisi psikis nya yang baru pulih terguncang lagi.

__ADS_1


Milo mulai bersuara memecah keheningan. Sebagai asisten pribadi CEO dan juga sebagai orang yang paling tua diantara mereka, tentu saja hak untuk berbicara penuh diserahkan pada Milo.


"Adik Lyn, coba ceritakan tentang ketakutanmu pada Shakila."


"Kakak. Sebelum aku menceritakannya, bolehkah aku bertanya beberapa hal pada kalian?" Ucap Lyn sambil melihat wajah Edgar dan Milo.


"Tentu saja. Kau boleh bertanya apapun pada kami." Jawab Milo.


"Apa kalian sudah tahu cerita hidupku?"


"Tentu, kami sudah mengetahuinya sebelum kami membuat keputusan untuk menerima kesepakatan itu."


"Kenapa kalian mau menerima ku? Padahal sudah jelas hasil penyelidikannya adalah sebuah keburukan yang tiada henti." Ucap Lyn dengan mata berkaca-kaca.


 


"Awal nya kami memang tidak Sudi untuk membuat keputusan itu, namun karena melihat pribadi mu yang seperti bertolak belakang dengan cerita itu, kami menemukan kejanggalan dari riwayat itu dan memutuskan untuk menerima mu demi kelangsungan Paris Fashion dengan diiringi penyelidikan lebih lanjut. Alasan kami melakukan itu karena kamu yang ada di hadapan kami terlihat seperti yang kami harapkan." Jawab Milo dengan lugas. 


"Pada saat pertemuan pertama, kenapa kalian tidak bertanya tentang wajahku. Apakah kalian tidak penasaran?"


"Wajah adalah bagian dari tubuh manusia yang dimana manusia itu tidak ada yang sempurna. Awalnya kami sangat terkejut melihat wajah mu, namun kami berpikir realis, mungkin saja itu adalah kekurangan dari dirimu. Sebagai orang dewasa yang bijak, kami tidak mungkin melakukan body shaming pada dirimu." 


Mendengar setiap dari jawaban Milo Lyn jadi terharu.


"Jika aku mengatakannya, apakah kalian akan percaya?" 


"Kami percaya padamu. Itu terbukti dengan kamu ada di dalam mansion ini." Jawab Edgar.


Setelah memastikan raut wajah Edgar dan Milo yang bersahabat dengan nya. Lyn mengehela nafasnya lega kemudian bercerita.


"Apa kalian tidak ingin bertanya, mengapa sebelah wajah ku rusak?"


Edgar dan Milo diam menunggu kelanjutan ceritanya.


"Di masa SMA ketika aku, kak Kila dan geng pertemanan ku sedang berlibur di taman hiburan, ada seorang laki-laki yang menyiram air keras ke wajahku. Dan orang yang menyuruh laki-laki itu adalah Shakila kakakku sendiri." 


Edgar dan Milo sama-sama terkejut mendengarnya. Terlebih Edgar, dadanya terasa bergemuruh.


Edgar dan Milo sudah mengetahui semua cerita hidup Lyn dari Sari. Namun mereka tidak tahu akan kelanjutan ceritanya, karena setelah mengetahui bahwa Shakila adalah dalang atas wajah rusaknya, Lyn sudah mulai tertutup dengan Sari dan Sarah karena tidak ingin membuat keluarga angkat nya terbebani pikiran mengingat hidup mereka sudah mulai berkembang.


"Bagaimana kau tahu bahwa Shakila yang menyuruh orang itu?" Tanya Milo setelah menguasai diri.

__ADS_1


"Ketika aku berhasil mempunyai toko online dan membuka toko kecil di tempat tante Sari, dia datang mengunjungi ku untuk melihat keberhasilan ku. Disaat itu aku memberikan sebuah tas kesukaannya yang ku buat sendiri dengan bahan menengah atas agar sesuai dengan gaya hidupnya, karena aku hanya bisa memberikan itu untuk ulang tahunnya nanti."


Milo dan Edgar benar-benar sangat fokus mendengarkan cerita Lyn seperti tidak berkedip matanya.


__ADS_2