
Bab 39
Sinar mentari pagi yang memasuki celah jendela kamar hotel membuat Lyn mengerjapkan matanya karena silau. Lyn yang sudah membuka matanya pun dengan refleks terbangun dari posisinya menjadi duduk dengan sangat terkejut.
"Whaaaa…"
Mendengar teriakkan itu, Edgar pun terbangun dengan rasa kantuknya yang masih menderanya.
"Kakak, kenapa kamu ada di ranjangku?"
"Tentu saja tidur." Jawab enteng Edgar.
"Kenapa kakak tidur di sini?."
Edgar memiringkan tubuhnya melihat Lyn dengan tangan menyiku menopang kepalanya.
"Karena aku hanya memesan satu kamar." Ucap Edgar dengan wajah usilnya.
"Hah? Mengapa hanya satu kamar?" Tanya Lyn dengan wajah tak percaya.
"Memangnya kenapa? Lagipula aku harus berhemat bukan.. Kamu keberatan?."
"Seorang gadis itu tidak baik sendirian di negri orang. Aku satu kamar dengan mu tentu saja untuk menjagamu." Modus Edgar.
'Tapi kan satu kamar dengan lawan jenis juga kurang baik.' Batin Lyn.
"Tenang saja, aku tidak akan melakukan apapun padamu."
Lyn segera turun dari ranjang dan segera masuk ke kamar mandi dengan cepat.
Didalam kamar mandi, Lyn memegang dadanya yang berdegup kencang dengan wajah yang merona. Dia sangat ingat jika semalam dia tidur nyenyak dengan memeluk guling.
Seketika Lyn teringat jika di ranjang itu tidak ada guling. Lagi-lagi wajahnya memunculkan semburat merah karena perasaan malu yang menyelimutinya.
'Tapi memeluknya sangatlah nyaman, tidur ku terasa nyenyak. Bahkan aku merasa aman meskipun sedang tidur. Ah aku ingin memeluknya lagi jika senyaman itu, hah.. tampan sekali.. eh.' Gumam dalam hati.
Lyn yang sedang bergumam dalam hati seketika tersadar akan isi kepalanya yang sedang melamunkan Edgar.
Lyn pun memilih untuk menyegerakan mandi agar kepalanya tidak terlalu panas dengan pikiran halunya.
Edgar yang melihat Lyn masuk kamar mandi langsung menutup matanya kembali karena dirinya baru tertidur kurang dari 2 jam. Karena semalaman Lyn sangat betah dengan posisi layaknya memeluk guling. Setelah fajar mulai menunjukkan tanda-tanda kemunculannya, Lyn baru merubah posisi tidurnya.
***
Shakila telah di keluarkan oleh salah satu orang kepercayaan ayah Edgar sang pengurus villa setelah 3 hari mendekam di sel tahanan.
Akibat kasus ini mengakibatkan Shakila mendapatkan hukuman tambahan 1 tahun kembali oleh Edgar.
Jika dia menolaknya, maka Shakila akan terus berada di penjara selama masa tahanannya.
Tentu Shakila tidak ingin tinggal lebih lama lagi di tempat dingin itu, terlebih para tahanan lama yang sangat brutal terhadap tahanan baru seperti Shakila yang mempunyai tempramennya yaang buruk.
Baru hari pertama saja, Shakila sudah mendapatkan luka memar di wajah dan kakinya. Shakila yang mempunyai tempramen buruk dan mudah menyinggung orang lain membuatnya menjadi bahan pelampiasan para tahanan lain karena mereka memang mudah marah.
Memikirkan berlama-lama di tempat mengerikan itu membuat Shakila menelan ludahnya kasar. Dia benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana nasib tulang-tulang yang ada di tubuhnya, mungkin saja tubuhnya akan menjadi perkedel dibuatnya.
__ADS_1
Shakila terpaksa mengikuti semua aturan tambahan dari Edgar mulai dari detik itu juga. Bahkan Shakila tak diizinkan untuk mempunyai dompet dan alat komunikasi.
Isi kamar Shakila di digeledah, semua barang yang ada di kamarnya pun di keluarkan dan hanya ada ranjang dan lemari saja layaknya kamar anak kost.
Ini membuat Shakila semakin frustasi karena hidupnya yang sudah tidak ada pilihan harus diiringi dengan serba keterbatasan dan pengaturan ketat. Ini tidak ada bedanya dengan hidup susah bukan?
Shakila duduk di lantai selonjoran sambil menendang nendang lemari seperti anak kecil yang merengek minta mainan untuk melampiaskan amarahnya.
Duk. Duk.
"Arghh, Edgar… sebegitu spesial kah bocah itu untukmu sehingga harus menghukum ku seperti ini?"
"Yocelyn… awas saja kau nanti." Geram Shakila dengan mata nyalang.
***
Klinik MIP surgery
Saat sedang menunggu persiapan untuk operasinya, Lyn yang sudah berganti baju mengerutkan keningnya saat melihat Edgar yang memijat pelipisnya pelan.
"Apakah kakak sedang sakit?"
"Tidak. Hanya sedikit pusing karena kurang tidur."
Wajah Edgar yang begitu lesu dengan lingkaran hitam di bawah mata membenarkan bahwa Edgar memang kurang tidur.
"Memangnya semalam kakak tidur jam berapa?"
"Entahlah, yang aku ingat aku baru tertidur saat fajar sudah mulai terlihat."
"Apa pekerjaan kakak sangat darurat sehingga harus mengerjakannya sampai sepagi itu?" Tanya Lyn penasaran.
Tak lama, seorang suster memberi tahu Lyn untuk segera memasuki ruangan operasi.
"Masuklah, aku akan tidur dulu sebentar di hotel. Jika operasinya sudah selesai, segera hubungi aku. Ingat, jangan kemana-mana jika aku belum datang menjemputmu."
Lyn hanya mengangguk pelan dengan sedikit tersenyum.
Setelah pintu ruang operasi itu tertutup, Edgar pulang menuju kamar hotel untuk menghilangkan rasa sakit kepalanya dengan tidur.
Setelah 6 jam menjalani operasi plastik, Edgar segera menjemput Lyn agar bisa cepat istirahat maksimal di kamar hotel.
Saat masa pemulihan, Edgar selalu memanjakannya setiap hari.
Di waktu pagi atau siang hari jika sedang senggang, Edgar selalu membawanya ke tempat hiburan atau ke taman hanya sekedar melemaskan otot kaki dan menghirup udara segar.
Dan setiap malamnya, Edgar akan membawa Lyn makan malam di restoran yang berbeda-beda dengan nuansa keindahan kota Seoul.
Edgar benar-benar menjaga Lyn dengan sepenuh hati sampai kemanapun Lyn melangkah di negri gingseng itu pasti Edgar selalu ada di sampingnya.
Bahkan Edgar mendampingi Lyn hanya untuk mencuci rambutnya di salon terdekat sekalipun.
Edgar benar-benar terlihat seperti suami siaga untuk Lyn. Itu membuat Lyn kesal, pasalnya tak sedikit orang orang yang melihatnya keharmonisan pasangan itu seperti adegan dalam drakor.
Beberapa orang bahkan bersuara pada Lyn bahwa suaminya sangat manis padanya.
__ADS_1
Edgar sih biasa saja dengan omongan orang dan bahkan seneng seneng aja di sebut suami Lyn, tapi bagi Lyn itu adalah hal yang membuatnya malu sepanjang hari. Wajah Lyn dipenuhi oleh rona merah ditambah godaan dari Edgar yang tiada habisnya.
Hari demi hari Lyn menjalani masa pemulihan dengan pengawasan ketat dari Edgar.
Sembari menunggu jahitan di lepas, setiap 2 hari sekali akan ada dokter khusus yang mengecek kondisi psikis Lyn dengan alasan perawatan tambahan untuknya.
Edgar bisa menangkap rasa takut yang di pendam di mata Lyn saat akan memasuki ruangan operasi. Itulah mengapa Edgar sengaja mendatangkan dokter khusus untuk Lyn agar kondisi psikisnya tetap baik pasca operasi.
Dan juga alasan Edgar selalu membawa Lyn ke berbagai tempat indah hanyalah anjuran saran dari dokter untuk mengalihkan suasana agar trauma Lyn tidak muncul kembali.
Lyn pun tidak bisa menolak akan perhatian yang Edgar berikan, tapi dia selalu canggung saat berduaan dengan Edgar di kamar itu.
Tak jarang juga Lyn selalu kesal pada Edgar karena dirinya tak lepas dari pandangannya di setiap gerak-geriknya.
Seperti hari ini, kebetulan Edgar hanya mempunyai sedikit pekerjaan. Edgar menikmati waktu santainya dengan duduk ganteng di sofa kamar itu sembari melihat keanggunan di setiap gerakan tubuh gadis dihadapannya sembari memakan buah-buahan yang sudah di potong dadu sebagai cemilan.
Lyn yang merasa seperti sedang menjadi tontonan Edgar pun semakin kesal.
Lyn benar-benar ingin sekali menjambak rambut Edgar, tapi dia tidak berani.
"Kakak, bisakah untuk berhenti melihat ku terus?"
"Memangnya kenapa? Apa salahnya aku melihat yang ada di depanku." Ucap Edgar sambil memasukkan potongan buah ke mulutnya.
"Kakak melihatku sepanjang hari dengan memakan cemilan seperti ini." Ucap Lyn dengan menunjuk potongan buah.
"Kakak, bukankah ini seperti sedang menonton di bioskop? Bedanya di bioskop biasanya makan popcorn." Protes Lyn.
"Ah, ide yang bagus. Baiklah aku akan memesan popcorn."
"Apa??" Ucap Lyn dengan suara kagetnya.
Lyn melongo dengan wajah bodohnya melihat wajah kutub utara Edgar yang sedang mengambil telepon khusus di kamar hotel.
'Apakah dia bego?' Batin Lyn.
"Kakak…"
Teriak Lyn yang sudah tidak tahan lagi dengan suasana menjengkelkan ini.
Edgar mendesis karena teriakan Lyn sangat memekikkan telinganya.
"Ssshh.."
"Jangan teriak seperti itu Lyn. Tidak baik untuk otot wajahmu yang sedang masa pemulihan." Ucap Edgar dengan suara datarnya.
"Bagaimana aku tidak teriak kalo kakak malah akan memesan popcorn untuk menontonku sepanjang hari. Aku tidak nyaman jika terus-terusan dilihat seperti itu." Ucap Lyn kesal.
"Aku tidak sedang menonton. Aku hanya menggunakan alat indraku yang mempunyai fungsi untuk melihat. Lagipula, mataku butuh sesuatu yang segar setelah berada di depan laptop. Kebetulan kamu sangat cantik untuk dilihat, sangat sayang jika aku harus melewatkan acara cuci mata dari kecantikan yang ada di depanku bukan?"
Bluss..
Seketika wajah Lyn merona mendengarnya.
"Pipi itu sangat merah seperti tomat. Ah, mungkin rasanya sangat segar jika aku mencicipinya."
__ADS_1
Mendengar itu, dengan buru-buru Lyn naik ke atas ranjang dan menutupinya dengan selimut.
Sedangkan Edgar hanya terkekeh pelan melihatnya.