Desain Cinta CEO Dingin

Desain Cinta CEO Dingin
hamil 2


__ADS_3

Ban 65 


Setelah makan siang atau lebih tepatnya makanan Lyn sudah habis, Edgar meminta semuanya untuk berkumpul di ruangan tengah sebelum istirahat. 


"Mah, pah, ayah, dan ibu, Ed ingin menyampaikan se…" tiba-tiba Lyn memotong ucapan Edgar.


"Mah, temenin Lyn bobo siang ya." Ucap Lyn setelah menguap beberapa kali.


"Mamah gak bisa temenin bobo siang kamu Lyn, setengah jam lagi mamah mau pergi ke acara amal."


"Mah, jangan menolak permintaan Lyn. Lagipula mamah bisa menyuruh asisten untuk datang sebegai wakil mamah kan." Edgar.


"Bukannya mamah nolak Ed, mamah itu udah janji sama ketua yayasan dari bulan lalu. Gak enak kalo mamah malah menyuruh asisten."


Tiba-tiba semuanya terkejut saat Lyn menangis kencang seperti anak kecil.


"Huwaaaa.. ternyata mamah lebih sayang ketua yayasan dari pada aku." Kemudian Lyn berlari menuju kamarnya.


 


What.. ? Lebih sayang ketua yayasan?  Melliana rasanya seperti ingin terjungkal mendengar kalimat itu. 


Sedangkan Daniel dan Celina saling pandang seperti bertanya-tanya, ada apa dengan anak itu? 


Melihat Lyn yang sudah menaiki lift, Edgar pun menghela nafasnya.


"Mah, setelah ini mamah jangan pernah menolak permintaan Lyn lagi karena Lyn sedang hamil mah."


Seketika wajah Melliana dan yang lainnya berubah menjadi serius namun berbinar. 


"Apa Ed? Ulangi sekali lagi?" Melliana antusias.


"Lyn sedang hamil mah, Lyn sedang mengandung cucu mamah." 


Sontak saja mereka yang mendengarnya pun sangat senang kegirangan hingga Celina dan Melliana saling memegang tangan. 


"Dan yang lebih membahagiakan lagi,"


Orang tua Edgar dan Lyn terdiam untuk mendengarkan kelanjutannya.


"Kalian akan mempunyai 2 cucu sekaligus."


Dengan refleks Eddies dan Daniel saling berpelukan menepuk nepuk punggungnya masing-masing dengan perasaan haru dan gembiranya. Begitupun Celina dan Melliana. "Kita akan punya cucu kembar."


Malam harinya, Edgar mengadakan pesta barbeque untuk merayakan kehamilan Lyn. 


Sesuai dengan keinginan Lyn, pesta itu di gelar di halaman belakang dengan mengajak semua pelayan dan pekerjaan mansion. 


Saat baru sampai di halaman belakang, tiba-tiba Lyn mengeratkan genggamannya di tangan Edgar karena terkejut.


"Sayang, kenapa banyak sekali orang?" 


Edgar menyipitkan matanya. "Bukankah tadi kamu yang menginginkan semua pekerja mansion untuk ikut pesta ini?"


"Iya, tapi kenapa bisa sebanyak ini." Lyn melihat bingung ke segerombolan pekerja mansion yang berjumlah ratusan orang itu.


Edgar menghela nafasnya. 


"Karena ini mansion sayang. Tentu saja pekerja nya banyak."


"Aku tidak mau disini." Lyn mulai gelisah.


"Ya sudah, ya sudah. Kita kembali ke kamar."

__ADS_1


"Tidak mau."


"Lalu maunya apa?"


"Barbeque."


"Ya sudah kita ke sana, ke pesta barbeque." 


"Tidak mau."


"Lalu maunya apa?"


"Barbeque."


Edgar menarik nafas perlahan sembari menutup matanya sejenak. 


Sabar. Batin Edgar.


"Sayang, kamu mau barbeque kan?"


Lyn mengangguk.


"Kalo begitu ayo kita ke pesta itu" Edgar menunjuk tempat pesta tersebut. "Karena barbeque nya ada di sana."


"Tidak mau.." rengek Lyn.


"Kenapa tidak mau? Katanya mau barbeque. Barbeque nya ada si sana." Suara Edgar lebih lembut lagi karena di dadanya ada getaran geram.


"Di sana banyak orang."


"Namanya pesta ya banyak orang sayang." Seketika Edgar baru paham yang diinginkan Lyn. 'Tunggu, jadi itu maksudnya.' Batin Edgar


Edgar mengusap pipi Lyn. "Jadi, kamu mau barbeque nya saja?"


"Baiklah baik."


"Kalian semua, pesta untuk kalian besok saja. Istriku berubah pikiran. Sekarang kalian bubar!" Titah Edgar. 


Huwaaaa…  


Edgar dan semua penghuni mansion terkejut saat Lyn tiba-tiba menangis kencang hingga orang tuanya berlarian karena takut terjadi sesuatu dengan kandungannya.


"Sayang, sayang, kenapa menangis?" Celina memeluknya.


Melliana melotot kepada Edgar yang sedang bingung.


Lyn menunjuk wajah Edgar. "Dia tidak membolehkan pesta." 


What..? Edgar menunjuk wajahnya sendiri dengan wajah bodohnya. Sedangkan orang tuanya sudah melototinya seperti sedang mengatakan, itu adalah malam terakhir untuk nya. 


Mendapat aura mencekam itu, Edgar pun berbicara untuk menjelaskannya.


"Tidak, aku hanya membubarkan para pekerja karena Lyn tidak mau banyak orang di pesta barbeque."


"Tapi tidak usah membubarkan mereka. Aku ingin mereka ikut pesta juga." Jawab Lyn yang berubah menjadi kesal.


"Tapi tadi kamu bilang mau barbeque dan tidak mau banyak orang. Lalu apa aku salah jika aku membubarkan mereka."


"Maksudmu aku yang salah?" Ucap Lyn dengan suara dan wajah dinginnya.


Celina dan Melliana dengan refleks mengangkat kedua tangannya untuk menutup mulut mereka yang terbuka. Daniel dan Eddies saling pandang dengan apa yang di lihatnya. Ekspresi dingin yang tidak pernah ada di wajah Lyn sejak lahir, entah kenapa sekarang tiba-tiba muncul. 


Edgar mengedip ngedipkan matanya dengan perubahan ekspresi Lyn.

__ADS_1


"Edgar Mellon, aku bilang, saat ini aku sedang tidak ingin ada banyak orang di sekitar ku. Sekarang, aku hanya ingin ayah dan papah yang memanggang daging untukku. Dan… biarkanlah mereka menikmati pestanya. Mengerti..!" Lyn memberikan penekanan di akhir kalimat dengan aura yang sangat dingin melebihi Melliana.


"T-tapi, pestanya ada di sa.."


"Edgar Mellon, apa kau tidak malu anak-anakmu menyebut mu bodoh." Lyn menyipit sembari mengelus perutnya. "Kau pikir mansion ini hanya ada halaman belakang yang bisa di gunakan?" Edgar dan keluarganya tercengang saat Lyn memberikan tatapan tajamnya beserta sikap dinginnya. Itu adalah perpaduan wajah Melliana dan Eddies.


"Aku tunggu 15 menit untuk menyiapkannya. Jika masih belum selesai juga.. awas saja kau." 


Lyn langsung melengos pergi ke kamarnya tanpa memperdulikan kanan kirinya yang sedang terbengong kebingungan melihat dirinya.


Beberapa detik kemudian, Edgar yang akan memberikan perintah kepada pelayan pun menyipitkan matanya lantaran semua pekerjanya ternyata sedang fokus ke arahnya seperti sedang menonton bioskop. Sebagian tersenyum, sebagian lagi antusias, bahkan beberapa dari mereka ada yang sambil menikmati minumannya. Itu semua karena di ketuai oleh Jimi yang sedang makan popcorn melihat drama tuan dan nyonya mudanya.


'Dia pikir sedang menonton film bioskop? Awas saja dia.' Batin Edgar kesal saat melihat Jimi.


"Jimi..!" Teriak Edgar.


Dengan refleks Jimi berdiri tegak dan popcorn di tangannya jatuh berhamburan.


'Popcorn ku.' Dalam hati Jimi dengan bola matanya melirik ceceran popcorn. 


"Kau dengar kan apa yang di minta istriku? Kerjakan sekarang juga dalam 10 menit!"


"Siap tuan muda." 


Pesta barbeque pun berjalan lancar di dua tempat. Di bawah halaman belakang untuk para pekerja, dan di lantai paling atas untuk sang pemilik mansion dan keluarganya. 


Eddies meminum dengan cepat cola yang berisi es batu karena sangat haus setelah berada di depan pemanggang cukup lama.


Saat meletakkan gelas, tiba-tiba saja tangan Eddies tidak sengaja menyenggol strawberry yang baru diletakkan Edgar.


Brak.


"Huwaaaa.. strawberry ku di buang papah."


Eddies pun panik karena di tuduh oleh menantu nya yang menyebabkan mendapat pelototan dari istrinya.


"Papah gak sengaja menyenggolnya nak, bukan membuangnya."


Lyn malah tambah kenceng menangis nya. Sedangkan Melliana dengan langkah mengerikan berjalan mendekati suami dan menantunya itu. 


"Jangan menangis, bagaimana kalau papah belikan ice cream rasa strawberry?"


Seketika tangisan Lyn yang seperti anak kecil sedang tantrum itu berhenti dan mengangguk beberapa kali kepada Eddies.


"Baik, baik, papah pergi sekarang." Eddies segera berbalik dan berjalan terburu-buru karena Melliana sudah sampai di belakang Lyn. 


"Fiuhh, untung tadi aku sempat membeli ice cream ini. Jadi tidak perlu repot-repot membeli keluar." Ucap Eddies yang telah menutup kulkasnya kemudian pergi lagi menuju lantai atas. 


"Sayang, bantu aku membuka tutup ice cream ini."


Lyn bertepuk tangan setelah merasakan ice cream melumer di mulutnya. Matanya berbinar, dan wajahnya sangat senang. 


Edgar tersenyum melihat tingkah Lyn yang seperti anak kecil yang baru mencicipi ice cream. Ini benar-benar sangat menggemaskan untuknya.


"Kamu mau?" Lyn menyodorkan sendok yang berisi ice cream dengan daging barbeque di atasnya. 


Edgar tersenyum sembari merapikan rambut Lyn yang tertiup angin malam. "Tidak, untuk mu saja."


Malam itu, mereka menikmati kebersamaan dengan gemerlap bintang dari atas roof top.  


 


***

__ADS_1


__ADS_2