
Ban 64
Menjelang sore, Edgar membuka matanya karena merasakan kantong kemihnya penuh. Dia pun ke kamar mandi dengan mata yang masih mengantuk.
Saat dirinya merebahkan tubuhnya lagi, seketika tangan Edgar meraba-raba tempat tidur. Dia mencari keberadaan istri yang akan dipeluknya lagi untuk tidur. Namun kini dia merasakan kosong di sampingnya.
"Kemana dia."
Edgar pun memejamkan matanya karena dia pikir bahwa Lyn sedang di kamar mandi.
Belum sampai satu menit, Edgar pun tiba-tiba membuka matanya. "Tunggu. Bukankah aku baru saja dari kamar mandi?"
Seketika Edgar panik dan langsung mengambil ponselnya untuk menelpon pengawalnya.
"Halo, cepat segera cari istriku! Dia hilang."
Disisi lain, Lyn sedang berjalan kaki sambil terus bergerutu di sepanjang perjalanannya. Hingga dia menyadari bahwa dirinya kini sedang tersesat.
"Dia bilang akan memberikan apapun yang ku inginkan, tapi kenyataannya untuk memakai bikini saja dia tidak mengizinkan dan malah menghukumku di ranjang berkali-kali." Tiba-tiba langkah kaki Lyn mendadak berhenti. "Eh tunggu…" sedetik kemudian Lyn melihat sekelilingnya. "Dimana ini?"
Masih dengan mengingat jalan pulang, tiba-tiba Lyn merasakan ada sesuatu yang menyentuh lehernya.
Lyn dengan cekatan segera berbalik dan menghalau dengan gerakan memelintir.
"Aaarrggh…" pekik sang preman.
Rupanya itu adalah tangan preman yang di pelintir oleh Lyn saat akan menjambret kalungnya.
"Rupanya kau ingin bermain kasar gadis kecil."
Bug.
Bug.
Pukulan demi pukulan berhasil di tangkis oleh Lyn hingga dia berhasil menumbangkan preman itu dengan menendang alat vitalnya.
Entah mengapa Lyn tiba-tiba menyukai perkelahian ini. Baginya, ini adalah olahraga setelah penatnya hukuman ranjang.
"Apa hanya itu kemampuan mu? Haha ternyata tenagamu tidak sebesar tubuhmu."
Mendengar ejekan Lyn, preman yang sedang tersungkur di tanah itu mengepalkan tangannya. Sedetik kemudian,
Wussh..
Lyn menutup wajahnya dengan kedua tangan karena dia tahu bahwa preman itu menghamburkan tanah yang ada di genggamannya.
"Ah sial sekali hari ini. Gagal memakai bikini, mendapatkan hukuman, dan sekarang rambutku di penuhi tanah." Gerutu Lyn sambil membersihkan sedikit demi sedikit tanah yang ada di rambutnya.
Saat Lyn masih sibuk dengan rambutnya, preman itu pun diam diam mendekati Lyn untuk mengambil kalung berlian yang diincarnya.
Namun tiba-tiba saja tangan preman itu di tarik oleh seorang pria berusia 30an.
"Jangan hanya karena dia gadis kecil, kau bisa seenaknya ya.."
"S*alan.. beraninya kau ikut campur."
__ADS_1
Kemudian baku hantam pun terjadi di antara preman dan pria itu dan sang pria yang memenangkan perkelahian.
"Anda tidak apa-apa nona?"
Lyn yang sudah selesai membersihkan rambutnya dari butiran tanah pun berterimakasih kepada pria itu.
"Terimakasih tuan sudah menolongku." Ucap Lyn tersenyum. Namun senyuman itu perlahan memudar saat melihat sang preman berjalan cepat menghampiri pria dengan sebuah pisau.
"Awas.."
Belum sempat pria itu berbalik, pisau itu sudah menancap di punggungnya.
Jlebb.
Dor.
Seketika pandangan Lyn menjadi gelap.
Beberapa jam kemudian, Lyn membuka matanya dan melihat jika suaminya sedang duduk di sampingnya dan terus melihatnya dengan wajah dinginnya.
Lyn pun bangun dari tidurnya untuk duduk dan mendapati dirinya sedang diinfus.
"Sayang, apakah ini rumah sakit? Memangnya aku sakit apa?" Tanya Lyn dengan melihat sekelilingnya.
Edgar tidak menjawab dan hanya memeluk Lyn.
"Terimakasih sayang. Terimakasih."
Eh, Lyn mengernyitkan keningnya. 'terimakasih untuk apa?' batin Lyn.
Setelahnya, Edgar menyuapi Lyn dengan penuh perhatian.
Lyn benar-benar penasaran apa yang membuat suaminya itu terlihat sangat bahagia. Pasalnya, sedari dirinya terbangun di tempat itu Edgar tak henti-hentinya tersenyum. Ini adalah pemandangan yang sangat jarang terjadi bukan?
"Sayang, boleh aku tanya sesuatu?"
"Hm, tanyalah."
"Aku melihat dari tadi kamu tidak berhenti tersenyum. Memangnya apa yang membuatmu begitu bahagia?"
Edgar pun menggenggam kedua tangan Lyn dengan masih tersenyum.
"Aku bahagia karena sebentar lagi aku akan menjadi papah."
Kemudian Edgar mencium punggung tangan Lyn dengan penuh cinta.
Lyn mengerutkan keningnya. "Papah?"
Melihat Lyn yang masih bingung, Edgar pun menempelkan tangan kanannya di perut datar Lyn.
"Iya, papah. Karena disini ada buah cinta kita." Ucap Edgar dengan mengelus perut Lyn kemudian menciumnya.
Lyn pun terkejut dan tanpa sadar menitikkan air matanya.
"Jadi.. jadi, aku hamil?" Tanya Lyn dengan melihat wajah suaminya yang dimana wajah dingin itu begitu serius dengan pancaran bahagianya.
__ADS_1
Edgar yang di tanya pun mengangguk tersenyum.
Lyn menangis bahagia mendengarnya sambil memeluk suaminya.
Di kamar hotel, terdengar suara laki-laki yang sedang membaca dongeng anak. Dia adalah Edgar, dan dia harus menahan kekesalannya karena dirinya sudah membaca beberapa dongeng itu selama satu setengah jam lamanya.
Sedangkan Lyn, saat ini dirinya sedang memakan strawberry dengan santainya setelah menghabiskan 4 porsi bakso beranak yang ia temui di perjalanan pulang dari rumah sakit.
"Pangeran pun segera membawa Rapunzel ke kerajaannya. Mereka lalu menikah dan akhirnya hidup bahagia."
Edgar pun meminum habis jus melon Lyn karena tenggorokannya sangat haus.
"Kenapa berhenti?"
Deg.
"Ceritanya sudah selesai sayang." Ucap Edgar menahan nafasnya.
"Oh."
Fiuhh, selamat. Batin Edgar
Setelah beberapa saat tiba-tiba, "Tapi sepertinya cerita Moana belum kamu bacakan." Lyn melirik Edgar.
"S-sudah kok sayang. Kamu barusan sangat menikmati strawberry nya jadi tidak sadar jika aku sedang membacanya."
***
Keesokan harinya Edgar dan Lyn telah pulang dari bulan madunya karena ingin memberikan kejutan untuk orang tua mereka.
Melliana dan Eddies bahkan menunda keberangkatannya ke negara M demi permintaan menantunya. Dan entah mengapa Melliana begitu merindukan Lyn ketika dia ingin pergi.
"Mamah.."
"Oh menantu mamah.. mamah benar-benar rindu padamu."
Lyn yang baru datang langsung meminta ini dan itu kepada orang tuanya.
Daniel membuat Chocolate lava cake, Celina membuat sup asparagus, dan Melliana memasak pasta saus jamur. Dan semuanya telah tersaji di meja makan bertepatan di jam makan siang.
Lyn menyuruh Edgar memotong lemon dan memeraskannya di atas pasta lalu memberikan potongan buah strawberry di atasnya. Itu jelas menjadi perhatian oleh para orang tua yang baru saja memakan makanannya yang baru satu suap.
"Sayang, mengapa kau mencampurkan perasaan lemon dan strawberry di pasta itu? Memangnya enak?" Tanya Celina.
"Humm, ini sangat segar." Ucap Lyn dengan mulut yang penuh.
Mereka pun tidak ingin bertanya lagi karena takut mengganggu Lyn yang sedang makan dengan lahap. Karena tak mau ambil pusing, mereka pun melanjutkan menyantap makanannya.
Namun, semua orang yang ada di meja makan itu teralihkan oleh Edgar yang tiba-tiba saja tersedak karena melihat tingkah absurd istrinya.
Para orang tua itu yang awalnya hanya menoleh pada Edgar, sedetik kemudian mereka melongo dengan wajah bodohnya saat melihat Lyn memotong lava cake dan memasukkannya potongan demi potongan yang di penuhi lelehan coklat itu ke dalam mangkuk yang berisi sup asparagus kemudian memakan dengan rakus.
Tak hanya itu, Lyn juga mengambil sepiring aneka buah-buahan yang sudah di potong dadu dan menyiramnya dengan saus tiram dan kuah kaldu sebagai hidangan penutup nya.
Pemandangan ini benar-benar membuat semua yang ada di meja makan menjadi tidak berselera makan dan lebih memilih melihat betapa lahapnya Lyn saat makan siang itu.
__ADS_1